Harga daging sapi melonjak, pedagang Pasar Kosambi mogok berjualan
Kenaikan Harga dan Dampaknya
Harga daging sapi melonjak di Pasar Kosambi, Bandung, Jawa Barat, menjadi isu utama yang memicu aksi mogok berjualan oleh sejumlah pedagang. Kenaikan harga mencapai Rp160.000 per kilogram, menyebabkan ketidakpuasan di kalangan penjual yang mengeluhkan tekanan biaya produksi dan permintaan pasar yang meningkat. Aksi ini dimulai sejak hari Minggu (17/5/2026), dengan pedagang memperlihatkan keberatan melalui penutupan kios mereka. Situasi ini menunjukkan keterbatasan toleransi mereka terhadap fluktuasi harga yang terus melonjak.
Analisis Penyebab Kenaikan Harga
Kenaikan harga daging sapi di Pasar Kosambi terjadi karena beberapa faktor, salah satunya adalah perubahan kebijakan pemerintah terkait impor dan ekspor daging. Selain itu, permintaan pasar yang tinggi, terutama di kota besar seperti Bandung, juga memperkuat tren peningkatan harga. Pedagang mengatakan bahwa biaya pengiriman dari peternak ke distributor naik signifikan, sehingga mendorong peningkatan tarif jual. “Kenaikan harga daging sapi melonjak membuat kami kesulitan menutupi biaya operasional,” ungkap seorang pedagang kepada ANTARA FOTO.
Pasokan daging sapi di Pasar Kosambi terus menyusut, sehingga harga jual per kilogram mencapai Rp160.000.
Beberapa trader juga menyoroti pengaruh perubahan musim dan kondisi cuaca terhadap ketersediaan pasokan. Musim kemarau di beberapa daerah mengurangi produksi ternak, sementara biaya bahan bakar dan transportasi meningkat, memperparah tekanan pada harga. Situasi ini menciptakan ketidakseimbangan antara penjual dan pembeli, dengan konsumen kehilangan akses ke produk yang sebelumnya lebih terjangkau.
Penutupan kios di Pasar Kosambi pada hari Selasa (19/5/2026) menunjukkan dampak langsung dari kenaikan harga daging sapi.
Kenaikan harga daging sapi melonjak tidak hanya memengaruhi pedagang lokal, tetapi juga berdampak pada daya beli masyarakat. Banyak konsumen mengeluhkan kesulitan memenuhi kebutuhan protein hewani, terutama bagi keluarga berpenghasilan rendah. Sejumlah tokoh pasar mengusulkan agar pemerintah mengambil langkah untuk mengatur harga pasar lebih stabil, seperti meningkatkan subsidi atau memberikan insentif kepada peternak.
Dalam beberapa hari terakhir, aksi mogok berjualan terus berlanjut di Pasar Kosambi. Para pedagang menilai bahwa kenaikan harga daging sapi melonjak adalah hasil dari ketidakseimbangan antara permintaan dan pasokan, yang selama ini tidak teratasi. Mereka juga menyebutkan bahwa kebijakan harga yang tidak konsisten membuat mereka sulit merencanakan pendapatan. “Kami harap ada penyesuaian harga yang lebih adil, agar keberlanjutan usaha bisa terjaga,” kata seorang pengusaha daging sapi.
Untuk memperkuat upaya penyelesaian, pihak pasar sedang berdiskusi dengan pemerintah setempat dan perusahaan distributor untuk mencari solusi jangka pendek. Kenaikan harga daging sapi melonjak juga mendorong perusahaan pengolahan daging lainnya, seperti di Pasar Cikapundung atau Pasar Bahu, untuk meninjau kembali harga jual mereka. Namun, hingga saat ini, situasi masih memanas, dengan penurunan aktivitas jual beli di sebagian besar kios.
