PKK Jateng Luncurkan Program Kencan Bumil untuk Mengurangi Angka Kematian Ibu dan Bayi
Key Strategy – Blora, Jawa Tengah—Sebuah inisiatif baru diluncurkan oleh Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Jawa Tengah, yaitu program Kencan Bumil dan Sistem Informasi Manajemen (SIM). Program ini bertujuan untuk meminimalkan angka kematian ibu (AKI) serta angka kematian bayi (AKB) di wilayah tersebut. Acara peluncuran digelar di Desa Nglangitan, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora, sebagai bagian dari perayaan Hari Kesatuan Gerak PKK Ke-54 Tahun 2026. Ketua TP PKK Jateng, Nawal Arafah Yasin, mengungkapkan bahwa momen ini seharusnya dijadikan momentum untuk memperkuat upaya bersama dalam meningkatkan kesehatan ibu dan anak.
Strategi Kolaboratif dalam Peningkatan Kesehatan
Menurut Nawal, program Kencan Bumil yang dirancang bersamaan dengan penggunaan SIM menjadi langkah strategis. Ia menekankan bahwa organisasi PKK bisa lebih efektif dalam mengidentifikasi masalah utama serta meresponsnya dengan tepat. “Kita perlu mengawal angka kematian ibu dan bayi agar tidak terus meningkat,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa SIM PKK berperan penting dalam memberikan gambaran data yang akurat, sehingga pemangku kebijakan dapat mengambil langkah prioritas secara terukur.
“Momentum HKG PKK Ke-54 ini bisa menjadi titik balik bagi penurunan AKI dan AKB secara signifikan,” tutur Nawal. Ia menegaskan bahwa penggunaan sistem informasi membantu proses pengambilan keputusan, khususnya dalam merespons isu strategis yang berkembang di Jawa Tengah.
Kencan Bumil, sebagai bagian dari program utama, berfokus pada pendampingan ibu hamil dengan pendekatan lebih holistik. Selain itu, kehadiran SIM memungkinkan pengumpulan data berkelanjutan dan pengelolaannya secara sistematis. “Kita bisa mengoptimalkan layanan kesehatan melalui informasi yang terpadu dan mudah diakses,” katanya. Nawal menambahkan bahwa keberhasilan program ini bergantung pada partisipasi aktif masyarakat, termasuk para kader dan petugas kesehatan.
Data yang Menunjukkan Perbaikan
Dinas Kesehatan Jawa Tengah memberikan data menarik terkait penurunan angka kematian ibu dan bayi selama tiga tahun terakhir. Dalam 2023, tercatat sebanyak 438 kasus AKI, lalu berkurang menjadi 427 kasus pada 2024, dan pada 2025, angka tersebut terus menurun hingga 337 kasus. Hingga Triwulan I 2026, jumlah AKI mencapai 70 kasus. Sementara itu, angka kematian bayi menunjukkan tren serupa: dari 4.612 kasus pada 2023, turun menjadi 4.326 kasus pada 2024, 3.650 kasus pada 2025, dan berjumlah 799 kasus di awal tahun 2026.
Angka tersebut menjadi bukti bahwa upaya penurunan AKI dan AKB di Jateng telah menunjukkan kemajuan. Nawal mengakui bahwa progres ini tidak terlepas dari peran kader PKK dan sistem informasi yang diimplementasikan. Ia menuturkan, “Dengan SIM, kita bisa mengukur perkembangan masalah secara real-time dan menyesuaikan strategi sesuai kebutuhan.” Selain itu, pendekatan pendampingan yang lebih terarah juga menjadi faktor utama dalam mempercepat perbaikan kualitas kesehatan ibu hamil.
“Kencan Bumil adalah bagian dari upaya untuk memastikan setiap ibu hamil mendapatkan penjagaan yang optimal, mulai dari kehamilan hingga proses melahirkan,” imbuh Nawal. Ia menyebutkan bahwa program ini memperkuat kolaborasi antara berbagai pihak, seperti tenaga kesehatan, kader, dan keluarga.
Langkah Utama untuk Pendampingan Ibu Hamil
Nawal menjelaskan bahwa PKK Jateng akan menerapkan tiga langkah utama dalam pendampingan ibu hamil. Pertama, penjangkauan yang lebih luas, agar layanan kesehatan mencapai semua kalangan. Kedua, peningkatan pemahaman tentang kebutuhan kesehatan selama kehamilan. Ketiga, pendampingan berkelanjutan hingga pascanifas dan administrasi kelahiran. “Satu kader akan bertugas mendampingi satu ibu hamil,” katanya.
Pendampingan tersebut dijelaskan Nawal tidak hanya berlangsung saat kehamilan, tetapi juga mencakup masa pasca melahirkan. Hal ini memerlukan koordinasi antara berbagai elemen, seperti kader kesehatan, kader posyandu, dan kader PKK. Ia menegaskan bahwa ketiga komponen ini harus bekerja sama untuk menjamin kesehatan ibu dan anak sepanjang proses kehamilan. “Kolaborasi ini penting agar semua aspek diperhatikan secara menyeluruh,” ujarnya.
Persiapan untuk Tahun Depan
Dalam persiapan untuk tahun 2026, PKK Jateng terus memperkuat sistem monitoring dan evaluasi melalui SIM. “SIM ini akan menjadi basis utama dalam menetapkan kebijakan yang lebih tepat sasaran,” kata Nawal. Selain itu, pihaknya berharap program Kencan Bumil bisa menjangkau lebih banyak ibu hamil, terutama di daerah yang masih mengalami kesulitan akses layanan kesehatan.
Program ini juga dirancang untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya perawatan ibu dan bayi sejak awal kehamilan. “Kita ingin mengubah pola pikir masyarakat agar lebih proaktif dalam menjaga kesehatan ibu hamil,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa penggunaan teknologi informasi dalam pendampingan bisa mempercepat respons terhadap isu-isu kesehatan yang muncul, sehingga upaya penurunan angka kematian menjadi lebih terukur.
Nawal berharap, dengan adanya Kencan Bumil dan SIM, angka kematian ibu dan bayi di Jawa Tengah dapat terus menurun. Ia menyatakan bahwa target ini bisa dicapai dengan konsistensi dan komitmen dari seluruh elemen masyarakat. “Kita perlu menyelaraskan langkah-langkah ini agar tidak hanya menjadi program sekadar formal, tetapi benar-benar berdampak nyata,” pungkasnya. Dengan struktur yang lebih rapi dan kolaborasi yang lebih intensif, PKK Jateng optimis mampu menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan aman bagi ibu hamil serta bayi di wilayahnya.
