All Sport

Historic Moment: Ketum PP FPTI dan dua atlet panjat tebing dapat penghargaan dari KONI

Ketum PP FPTI dan Dua Atlet Panjat Tebing Diberi Penghargaan KONI

Historic Moment terjadi saat Musyawarah Olahraga Nasional Luar Biasa (Munaslub) KONI 2026 di Jakarta, di mana Ketua Umum Pengurus Pusat Federasi Panjat Tebing Indonesia (PP FPTI) Yenny Wahid serta dua atlet, Veddriq Leonardo dan Desak Made Rita Kusuma Dewi, menerima penghargaan dari Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI). Penghargaan ini diapresiasi sebagai bentuk pengakuan atas kontribusi yang luar biasa dalam meningkatkan prestasi dan populasi cabang olahraga panjat tebing di Tanah Air.

Penghargaan untuk Dedikasi dan Prestasi

Yenny Wahid menyampaikan pernyataan terima kasih atas anugerah yang diberikan KONI untuk kategori “Pimpinan Cabang Olahraga Berprestasi”. “Ini adalah Historic Moment penting bagi PP FPTI, karena menunjukkan komitmen bersama dalam membangun generasi atlet berkualitas,” tutur Yenny. Ia menekankan bahwa perjuangan pengembangan olahraga panjat tebing tidak bisa terlepas dari kerja sama antara pengurus pusat, provinsi, kabupaten, dan klub-klub lokal di seluruh Indonesia.

“Penghargaan ini bukan hanya pencapaian individu, tapi hasil dari kolaborasi intensif yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Kami berterima kasih kepada seluruh pemangku kepentingan yang terus berkontribusi,” jelas Yenny dalam wawancara eksklusif usai acara.

KONI memberikan penghargaan ini sebagai apresiasi atas kemajuan panjat tebing Indonesia yang kian dikenal di kancah internasional. Dalam kepemimpinan Yenny, PP FPTI sukses menciptakan prestasi yang membanggakan, seperti medali emas yang diraih Veddriq Leonardo di Olimpiade Paris 2024 dalam nomor speed. “KONI percaya bahwa pengembangan atlet harus dimulai dari akar, yaitu kompetensi pembinaan di tingkat dasar,” tambah Marciano Norman, Ketua Umum KONI Pusat, dalam pidatonya.

Pencapaian Atlet yang Membawa Harum Nama Indonesia

Veddriq Leonardo dan Desak Made Rita Kusuma Dewi menjadi dua tokoh yang mewakili cabang panjat tebing dalam penerimaan penghargaan tersebut. Veddriq, yang berada di puncak podium di Paris 2024, telah membuktikan bahwa olahraga panjat tebing bukan hanya olahraga sekunder tetapi juga bisa menjadi bagian dari permainan utama di tingkat global. Sementara itu, Rita Kusuma Dewi mencatatkan sejarah dengan memperoleh medali emas di Kejuaraan Dunia 2023, medali perak di Asian Games 2022, dan rekor Asia dalam kategori speed.

KONI menilai kinerja kedua atlet tersebut sebagai Historic Moment dalam perjalanan olahraga panjat tebing Indonesia. Dengan capaian ini, cabang olahraga yang dulu dianggap sebagai olahraga hiburan kini menjadi representasi kekuatan dan kerja keras bangsa. “KONI akan terus mendukung pengembangan panjat tebing untuk menjamin keberlanjutan prestasi dan populasi atlet di masa depan,” ungkap Marciano Norman.

Selain itu, penghargaan ini juga menjadi momentum untuk memperkuat sistem pembinaan nasional. Yenny Wahid menegaskan bahwa perlu adanya peningkatan fasilitas, pelatihan, dan pengakuan dari pihak berwenang agar olahraga panjat tebing bisa berkembang secara signifikan. “Dengan Historic Moment ini, kita punya semangat baru untuk mencapai tingkat lebih tinggi,” imbuhnya.

Piagam anugerah yang diberikan Marciano Norman menjadi simbol kebanggaan bagi seluruh pemain dan penggemar panjat tebing. Penghargaan ini diharapkan bisa memotivasi para pelaku olahraga untuk terus berinovasi dan mengejar eksistensi di tingkat dunia. KONI juga berencana mengembangkan program kerja sama dengan PP FPTI untuk memperluas akses olahraga ini ke daerah-daerah terpencil, sekaligus membangun masyarakat sehat dan tangguh.

Dalam konteks Historic Moment ini, KONI dan PP FPTI sepakat mengambil langkah strategis untuk memperbaiki struktur olahraga panjat tebing. Langkah ini mencakup penguatan kelembagaan, pengembangan kebijakan, dan penerapan teknologi dalam pelatihan atlet. “Penghargaan ini adalah awal dari perjalanan panjang yang akan menghasilkan atlet-atlet luar biasa di masa depan,” pungkas Marciano Norman sebagai penutup pidatonya.

Leave a Comment