Frugal Living vs Flexing, “Perang” Gaya Hidup di Media Sosial
Jakarta, Antara
Key Issue telah menjadi topik utama dalam diskusi kebiasaan konsumsi generasi muda di era digital. Profesor antropologi Indonesia, Semiarto Aji Purwanto, menjelaskan bahwa media sosial tidak hanya mendorong pola hidup konsumtif, tetapi juga menjadi wadah untuk menyebarkan ide-ide gaya hidup hemat dan literasi finansial. Fenomena ini menciptakan “perang” antara dua kebiasaan berbeda: frugal living yang menekankan penghematan, dan flexing yang memfokuskan pada pamer kekayaan.
“Media sosial itu memang instrumen yang sangat efektif untuk mendorong pola hidup konsumtif,” jelas Semiarto kepada ANTARA, Jumat.
Dalam pandangan beliau, kehadiran platform digital seperti Instagram dan TikTok membuat masyarakat terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain. Pencapaian seseorang, seperti jumlah pengikut, kualitas produk, atau kekayaan materi, seringkali menjadi bahan penilaian sosial. Hal ini membentuk apa yang disebut sebagai “economy of appearance”—sebuah konsep di mana identitas diri dipertahankan melalui tampilan materialistik.
“Dunia kita sekarang ini memang harus ada sesuatu yang kita tunjukkan,” ujarnya.
Penyebaran Gaya Hidup Hemat dan Tantangan di Media Sosial
Sementara itu, media sosial juga menjadi sarana untuk mempopulerkan gaya hidup frugal. Berbagai konten yang membahas pengelolaan keuangan, penghematan belanja, dan tantangan seperti no buy challenge mulai berkembang. Menurut Semiarto, ini menunjukkan adanya pergeseran ke arah Key Issue yang lebih seimbang antara kebutuhan dan keinginan. Namun, ia menekankan bahwa pengaruh dari pihak yang mempromosikan konsumsi berlebihan masih dominan.
“Media sosial juga bisa menjadi kontra narasi,” ujarnya.
Contoh nyata dari keberadaan Key Issue ini adalah fenomena di mana pengguna media sosial secara aktif membandingkan diri dengan konten yang mereka lihat. Misalnya, keinginan untuk memiliki barang terbaru, seperti ponsel flagship atau fashion trend, sering kali memicu kebiasaan membeli secara impulsif. “Saya sudah punya HP model baru nih, kalau bisa saat itu juga saya punya,” tambahnya, menggambarkan bagaimana dorongan untuk memperlihatkan kekayaan terus menggerakkan perilaku konsumsi.
Di sisi lain, munculnya gerakan frugal living memberikan solusi bagi kecenderungan konsumtif tersebut. Beberapa akun yang membagikan pengalaman hidup sederhana, seperti memasak sendiri, mengurangi pengeluaran tidak penting, atau memilih produk berkelanjutan, mulai menarik perhatian pengguna. Ini menunjukkan bahwa Key Issue di media sosial tidak hanya tentang konsumsi, tetapi juga tentang kesadaran akan kebutuhan ekonomi dan lingkungan.
“Media sosial juga memicu kebiasaan membandingkan diri sendiri dengan pencapaian orang lain,” kata pakar tersebut.
Peran Influencer dalam Menyebarluaskan Key Issue
Semiarto menyoroti peran influencer dalam membentuk kebiasaan konsumsi. Beberapa konten kreator lebih memilih menampilkan kehidupan yang bermewah-mewah, sementara yang lain fokus pada gaya hidup hemat. Dengan memperbanyak jumlah Key Issue yang diangkat, media sosial bisa menjadi alat untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pengelolaan finansial dan kebiasaan hemat.
“Diperlukan lebih banyak figur yang mempromosikan literasi finansial daripada hanya mendorong konsumsi berlebihan,” ujarnya.
Seiring berkembangnya minat pada Key Issue, kebijakan pemerintah dan institusi pendidikan juga mulai memberikan perhatian. Beberapa program edukasi keuangan dan kampanye mengenai dampak konsumsi berlebihan mulai muncul di platform digital. Hal ini membantu menciptakan kesadaran kolektif tentang kebutuhan untuk menyeimbangkan antara keinginan dan kebutuhan dalam gaya hidup modern.
Perluasan Key Issue juga bisa terlihat dari perubahan pola pikir generasi muda. Banyak orang kini lebih memilih berinvestasi dalam hal-hal yang bernilai jangka panjang, seperti pendidikan atau kesehatan, dibandingkan membeli barang mahal yang hanya digunakan sekali. “Frugal living tidak berarti menolak keindahan, tapi lebih tentang kebijaksanaan dalam penggunaan sumber daya,” tambah Semiarto, yang menyoroti pentingnya keseimbangan dalam Key Issue yang diangkat.
“Gaya hidup frugal justru bisa menjadi bentuk ekspresi kreatif dan kebanggaan diri,” ujarnya.
Konten yang menggabungkan Key Issue ini juga menarik karena menawarkan alternatif bagi kecenderungan konsumtif. Dengan menampilkan keseimbangan antara kebutuhan dan keinginan, pengguna media sosial bisa belajar untuk mengelola uang secara lebih bijak. Namun, ia mengingatkan bahwa perubahan kebiasaan ini membutuhkan waktu, karena kebiasaan konsumsi yang diakui masyarakat luas sudah terbentuk selama bertahun-tahun.
Untuk mengatasi hal ini, Semiarto menyarankan bahwa media sosial harus menjadi ruang yang lebih inklusif. Bukan hanya untuk pamer kekayaan, tetapi juga untuk berbagi pengalaman hidup sederhana yang menginspirasi. Dengan demikian, Key Issue bisa menjadi alat untuk memperkaya nilai-nilai kehidupan, bukan sekadar menumbuhkan kebiasaan konsumsi yang berlebihan.
