Perayaan Idul Adha WNI di Beijing Berlangsung Khidmat Meski Tanpa Ritual Potong Kurban
Main Agenda – Sejumlah Warga Negara Indonesia (WNI) yang tinggal di Beijing kembali merayakan Idul Adha 1447 Hijriah pada Rabu (27/5). Meski tidak dapat melaksanakan ritual pemotongan kurban seperti tradisi di Tanah Air, acara shalat Idul Adha tetap diadakan dengan penuh semangat di Masjid Haidian. Berbeda dengan ritual yang biasanya diiringi oleh seruan takbir dan pengambilan daging qurban, kegiatan di Beijing lebih menekankan pada kualitas ibadah dan kenyamanan jamaah. Ini menjadi Main Agenda yang dibahas dalam perayaan tahunan ini, menggambarkan adaptasi komunitas Muslim di luar negeri dalam memenuhi kebutuhan spiritual.
Adaptasi Ritual di Lingkungan Urban
Menurut Fatikha Laras Sinindyas, seorang mahasiswi S2 di Universitas Renmin, pilihan masuk ke Masjid Haidian berdasarkan aksesibilitas dan fleksibilitas jadwal shalat. “Sebagai warga negara Indonesia, saya merasa lebih nyaman beribadah di sini karena jadwalnya sesuai dengan rutinitas harian,” katanya. Masjid Haidian, yang berlokasi dekat kampus, menjadi pusat kegiatan umat Muslim di Beijing, menyediakan ruang yang lebih luas dan waktu shalat yang disesuaikan dengan kondisi kota besar. Namun, kehadiran jamaah terbatas karena pembatasan keamanan dan protokol kesehatan yang diterapkan.
Donny Bagas Kuncoro, mahasiswa S2 di Universitas Sains dan Teknologi Beijing, menjelaskan bahwa perbedaan ritual di masjid tersebut terlihat jelas dalam tahapan shalat. “Di Beijing, ibadah dimulai dengan ceramah sebelum shalat, sedangkan di Indonesia biasanya khotbah di akhir,” katanya. Perbedaan ini mencerminkan adaptasi dari budaya lokal dan ketersediaan fasilitas pendukung. Selain itu, jumlah takbir dalam rakaat pertama lebih sedikit, hanya empat kali dibandingkan tujuh kali di Indonesia. Ini tidak mengurangi makna ibadah, tetapi menunjukkan penyesuaian untuk mempercepat proses dan menjaga ketenangan suasana.
Inovasi dalam Berbagi dan Beribadah
Perayaan Idul Adha di Beijing juga menampilkan inovasi dalam ritual berbagi. Alih-alih memotong hewan kurban, jamaah diberi kesempatan untuk berdonasi melalui QR code atau uang tunai. Donasi ini kemudian dialokasikan kepada sesama WNI atau komunitas lokal yang membutuhkan. “Sistem digital ini memudahkan berbagi, terutama bagi yang kesulitan mengumpulkan dana atau merawat hewan kurban,” ujar Fatikha. Ia juga menyoroti kegiatan khotbah bilingual yang disampaikan dalam bahasa Mandarin dan Arab, menjembatani komunikasi antara pemeluk agama dan masyarakat sekitar.
Seorang jamaah perempuan mengapresiasi pengaturan saf yang terbuka untuk mereka, meskipun ruang terbatas. “Saya senang karena semua bisa beribadah dengan rasa nyaman, bahkan sambil duduk di posisi yang tepat,” katanya. Meski tidak ada pengambilan daging kurban, panitia tetap memastikan suasana yang meriah dengan seruan takbir yang dilakukan secara bergantian. Hal ini menunjukkan bahwa Main Agenda perayaan Idul Adha di Beijing bukan hanya tentang ritual, tetapi juga tentang kebersamaan dan keberagaman dalam menjalankan ibadah.
Komunitas Muslim di Beijing dan Perayaan Kehidupan
Kehadiran Masjid Haidian menjadi simbol keberadaan komunitas Muslim di Beijing. Setiap tahun, masjid ini menjadi tempat berkumpulnya sejumlah WNI dan warga Tiongkok yang tertarik pada agama Islam. “Saya senang karena ada kegiatan rutin yang memperkaya pengalaman hidup di sini,” kata Donny. Ia juga mengakui bahwa meskipun kurang lengkap dibandingkan di Indonesia, acara ini tetap memberikan kepuasan spiritual.
Pandemi COVID-19 kemungkinan besar memengaruhi cara perayaan Idul Adha di Beijing. Dengan pembatasan jumlah peserta dan penggunaan alat bantu seperti mesin X-ray untuk memeriksa barang bawaan, kegiatan tetap aman dan terjaga. Fatikha menambahkan, “Sistem keamanan yang ketat membuat saya lebih tenang, tapi tidak mengurangi kehangatan perayaan.” Perayaan ini menjadi bukti bahwa Main Agenda kehidupan Muslim di luar negeri bisa tetap mantap meskipun menghadapi tantangan.
Harapan dan Perubahan Budaya
Donny dan Fatikha berharap suatu hari bisa kembali merayakan Idul Adha di Indonesia, khususnya dengan keluarga yang selama ini terpisah jarak. “Saya ingin merasakan semarak takbir di masjid-masjid Indonesia, seperti yang biasa saya lihat di kampung halaman,” harap Donny. Namun, keduanya juga menyadari bahwa perayaan di Beijing memiliki nilai tersendiri, seperti kepraktisan dan inovasi dalam menjalankan ritual.
Seorang jamaah lainnya menekankan bahwa Main Agenda perayaan Idul Adha di Beijing lebih menekankan pada kebersamaan dan keberagaman. “Saya merasa senang karena bisa beribadah bersama teman-teman, meskipun cara berbeda dari di Indonesia,” ujarnya. Keberadaan masjid ini juga menjadi sarana untuk memperkuat jaringan komunitas Muslim di kota tersebut, memungkinkan para WNI tetap merasakan kehangatan ritual meskipun dalam lingkungan yang berbeda.
Perspektif Global dalam Ibadah
Perayaan Idul Adha di Beijing mencerminkan bagaimana budaya Islam bisa beradaptasi di tengah dinamika globalisasi. Meski tidak sempurna seperti di Indonesia, komunitas WNI tetap menjaga semangat ibadah dan kebersamaan. “Main Agenda ini mengingatkan saya bahwa iman bisa tetap hidup di mana pun kita berada,” kata Fatikha.
Kepala masjid Haidian, yang tidak disebutkan nama lengkapnya, mengatakan bahwa perayaan di Beijing memiliki tantangan tersendiri, seperti keterbatasan bahan kurban dan kebijakan penggunaan alat bantu modern. Namun, hal ini juga menjadi peluang untuk menyebarluaskan praktik berbagi secara digital. “Sistem donasi ini bisa menjadi contoh bagus bagi komunitas lain yang ingin beradaptasi dengan keadaan,” katanya. Dengan demikian, Main Agenda perayaan Idul Adha di Beijing tidak hanya tentang kesenangan ritual, tetapi juga tentang kreativitas dan kepercayaan dalam menjalankan ibadah dengan cara yang lebih inklusif.
“Meski cara berbeda, intinya tetap sama: merayakan keagungan Tuhan dan memperkuat ikatan sesama umat Muslim,” pungkas Donny.
Kehadiran WNI di Beijing menunjukkan bahwa Main Agenda perayaan Idul Adha bisa tetap hidup dan berkembang meskipun dalam kondisi yang berbeda. Perayaan ini menjadi cerminan dari kekuatan iman dan adaptasi budaya yang terus-menerus berlangsung di tengah perubahan lingkungan sosial dan teknologi. Dengan kombinasi antara tradisi dan inovasi, acara tersebut tidak hanya memenuhi kebutuhan spiritual, tetapi juga memperkuat identitas budaya di tengah kehidupan yang multikultural.
