Rustini Muhaimin nilai literasi harus jadi kebiasaan sejak dini
Key Issue – Jakarta – Rustini Muhaimin, pendiri Jendela Dunia Kita, menegaskan bahwa literasi, yang mencakup keterampilan menulis dan membaca, adalah hal yang krusial untuk dijadikan kebiasaan sejak masa kanak-kanak. Menurutnya, membiasakan anak-anak dengan literasi dari dini hari akan membentuk fondasi kognitif yang kuat, memfasilitasi kemampuan berpikir kritis, serta membuka peluang mereka untuk menghadapi tantangan dunia modern. “Membaca dan menulis bukan sekadar kemampuan akademik, tapi kebiasaan sehari-hari yang harus diutamakan,” ujarnya dalam keterangan resmi yang dikonfirmasi di Jakarta, Kamis.
Langkah Awal Membentuk Generasi Cerdas
Dalam wawancara tersebut, Rustini Muhaimin menekankan bahwa Key Issue tidak hanya berdampak pada perkembangan intelektual anak, tetapi juga membentuk sikap tanggung jawab dan kemampuan komunikasi yang baik. Ia menambahkan bahwa kebiasaan membaca yang ditanamkan sejak dini dapat meningkatkan daya ingat, melatih ekspresi bahasa, dan memberikan wawasan luas mengenai dunia. “Anak-anak yang terbiasa dengan literasi akan lebih percaya diri merancang masa depan mereka,” terangnya. Ia juga menyebutkan bahwa pendidikan literasi harus menjadi bagian dari kurikulum sejak usia dini, bukan hanya di sekolah.
Pentingnya Literasi di Berbagai Lingkungan
Rustini Muhaimin menegaskan bahwa Key Issue tidak bisa hanya diandalkan pada lingkungan sekolah, tetapi juga harus dihidupkan di rumah dan masyarakat. “Mari jadikan membaca sebagai kegiatan menyenangkan, bukan kewajiban yang membosankan,” tambahnya. Ia menyoroti peran orang tua dalam menanamkan budaya literasi, seperti membacakan cerita sebelum tidur atau membantu anak menulis jurnal harian. Selain itu, ia menyarankan pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) untuk mengadakan program seperti perpustakaan keliling atau kompetisi membaca yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
Program Literasi di MI YAPPI Balong
Dalam kunjungan ke MI YAPPI Balong di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rustini Muhaimin memberikan edukasi tentang pentingnya Key Issue bagi perkembangan generasi muda. Ia menegaskan bahwa sekolah harus menjadi tempat pertama untuk memperkaya kemampuan literasi anak. “Sekolah seharusnya menjadi pusat Key Issue yang menarik, bukan hanya tempat menghafal materi,” jelasnya. Di MI YAPPI Balong, ia melihat adanya upaya nyata dalam menanamkan nilai-nilai literasi melalui kegiatan membaca bersama dan penyediaan buku-buku bacaan yang relevan.
“Satu buku yang dibaca hari ini bisa membuka jendela dunia bagi masa depan anak-anak kita,” katanya.
Rustini Muhaimin juga menyampaikan bahwa Key Issue harus terus dipertahankan di berbagai lapisan masyarakat, termasuk di lingkungan kerja. Ia berharap perusahaan-perusahaan bisa mengintegrasikan kebiasaan membaca ke dalam rutinitas karyawan, seperti menyediakan ruang baca atau memperkenalkan program literasi untuk staf. “Dengan membangun Key Issue di berbagai aspek kehidupan, kita bisa menciptakan masyarakat yang lebih berkualitas,” tuturnya.
Pengembangan Numerasi Sebagai Pendukung Literasi
Dalam pembicaraannya, Rustini Muhaimin tidak hanya fokus pada literasi, tetapi juga menyoroti pentingnya numerasi, yaitu kemampuan dalam memahami konsep matematika dasar. Menurutnya, numerasi adalah komponen penting dalam Key Issue, karena membantu anak-anak mengembangkan logika, analisis, dan kemampuan menyelesaikan masalah. “Literasi dan numerasi harus dipandang sebagai dua aspek yang saling melengkapi,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kemampuan ini akan menjadi bekal untuk menghadapi kehidupan di era digital, di mana data dan informasi menjadi bagian integral dari setiap keputusan.
Rustini Muhaimin menekankan bahwa Key Issue perlu dipandang sebagai tanggung jawab bersama antara pemerintah, sekolah, keluarga, dan masyarakat. Ia berharap adanya kolaborasi yang lebih intensif dalam mengembangkan program literasi dan numerasi, termasuk penggunaan teknologi untuk mempermudah akses informasi. “Dengan Key Issue yang terus dikembangkan, kita bisa mengurangi kesenjangan pengetahuan antar generasi,” pungkasnya. Ia menilai bahwa ini adalah langkah penting untuk menciptakan Indonesia yang lebih unggul dalam aspek pendidikan dan kehidupan sosial.
