Hiburan

Key Discussion: “Ursyalim” diharapkan bisa menunjukkan potret kehidupan di Al Quds

“Ursyalim” diharapkan bisa menunjukkan potret kehidupan di Al Quds

Key Discussion – Pameran fotografi yang diberi judul “Ursyalim” di ANTARA Heritage Center, Pasar Baru, Jakarta Pusat, menjadi sorotan publik dalam beberapa hari terakhir. Acara ini diadakan pada Jumat, 29 Mei 2026, sebagai bagian dari “Diskusi Taman Langit ANTARA,” di mana fotografer Muhammad Adimaja membagikan visinya tentang kota suci Al Quds melalui karya-karya visualnya. Dalam diskusi tersebut, ia menjelaskan bahwa proyek ini merupakan hasil dokumentasi perjalanan ke Yerusalem yang dilakukannya pada bulan Februari tahun yang sama. Selama dua bulan, ia menghabiskan waktu untuk mengamati dan merekam kehidupan sehari-hari warga kota yang dikenal dengan sebutan “Negeri Penuh Damai” dalam bahasa Kanaan.

Menurut Adimaja, kata “Ursyalim” memiliki makna unik yang mencerminkan harmoni antara berbagai komunitas di Yerusalem. Ia menekankan bahwa kota ini tidak hanya menjadi tempat ibadah bagi tiga agama besar, yaitu Yahudi, Nasrani, dan Islam, tetapi juga simbol keberagaman yang tetap saling menghormati. “Banyak cerita yang tersembunyi di balik bangunan bersejarah dan aktivitas warga, dan saya ingin membagikannya melalui lensa kamera,” ujar fotografer tersebut. Dalam pameran ini, pengunjung diberikan kesempatan untuk melihat bagaimana kehidupan masyarakat lokal berinteraksi dengan kepercayaan mereka, baik dalam bentuk ritual religius maupun kegiatan sosial sehari-hari.

“Rentetan peristiwa konflik bertahun-tahun bahkan berabad-abad telah membentuk sejarah panjang kota ini. Namun, di balik semua itu, ada kehangatan yang tetap terjaga dalam budaya dan tradisi warga Al Quds,” kata Muhammad Adimaja.

Karya-karya yang dipamerkan mencakup sekitar 100 foto yang diambil dari berbagai sudut kota. Beberapa di antaranya menampilkan rakyat biasa beribadah di tempat suci seperti Taman Tempat Kumpul, Bukit Kidron, dan Kuil Yerusalem. Ada pula gambar yang menyoroti kehidupan sehari-hari di pasar tradisional, tempat tinggal, serta ruang-ruang publik yang menjadi pusat aktivitas komunitas. Adimaja menjelaskan bahwa ia sengaja memilih sudut pandang yang seimbang, agar pengunjung bisa melihat gambaran lengkap tentang keberagaman dan kesatuan di kota yang dikenal sebagai “Bait Suci” oleh umat Yahudi, “Kota Suci” bagi umat Islam, dan “Kota Kudus” dalam tradisi Nasrani.

Pameran ini tidak hanya sekadar menampilkan gambar, tetapi juga memperkenalkan kisah-kisah belakang layar yang terkandung dalam setiap foto. Adimaja membagikan pengalaman selama perjalanannya, termasuk tantangan yang dihadapinya dalam mengambil gambar di tengah dinamika sosial yang kompleks. “Saya memperhatikan bagaimana pengikut agama berbeda tetap berinteraksi dengan saling menghormati, meskipun ada perbedaan keyakinan,” katanya. Ia juga menyoroti bagaimana masyarakat Yerusalem mencoba menjaga keseimbangan antara kehidupan spiritual dan kehidupan sivil, dalam lingkungan yang dipenuhi oleh sejarah dan keberagaman.

Konteks Historis dan Budaya di Al Quds

Adimaja menambahkan bahwa Al Quds memiliki nilai historis yang mendalam, dengan jejak peradaban yang mengakar dari ribuan tahun lalu. Ia menekankan bahwa kota ini bukan hanya tempat konflik, tetapi juga tempat pertemuan kebudayaan, pemikiran, dan tradisi. “Saya ingin pengunjung memahami bahwa Al Quds adalah kota yang dinamis, dengan kehidupan yang berjalan seiring dengan jejak sejarahnya,” ujarnya. Dalam konteks ini, “Ursyalim” bertujuan untuk memperlihatkan bahwa meskipun ada ketegangan politik, masyarakat kota tetap mampu menjaga keharmonisan dalam kehidupan mereka.

Kota suci ini memiliki peran penting dalam kehidupan umat manusia, dengan tiga agama utama yang menjadikannya tempat ibadah. Adimaja mencoba menangkap bagaimana warga Yerusalem beradaptasi dengan keberagaman ini, baik melalui ritual bersama maupun kegiatan individual. Dalam beberapa foto, ia menampilkan pemandangan pasar yang ramai, tempat warga bercerita dan berdagang, serta tempat-tempat yang menjadi pusat pengajaran dan pertemuan budaya. Pameran ini juga menyajikan konteks sejarah kota suci, seperti peristiwa-peristiwa penting dalam tahun-tahun terakhir, yang berdampak pada kehidupan masyarakat sehari-hari.

Dalam perjalanannya ke Yerusalem, Adimaja menemukan bahwa kehidupan di sana sangat beragam, dengan masyarakat yang berbeda tetap memperlihatkan kehangatan dalam menghadapi keberagaman. Ia menyebutkan bahwa foto-foto ini tidak hanya menggambarkan keindahan kota, tetapi juga kisah-kisah kecil yang mungkin luput dari perhatian orang luar. “Saya ingin membangun jembatan antara Indonesia dan Al Quds, agar masyarakat lebih mengenal kota yang memiliki arti penting dalam sejarah dunia,” ujarnya.

Konten Visual yang Menarik

Sebagai bagian dari pameran ini, Adimaja juga merilis buku berjudul “Ursyalim” yang berisi kisah-kisah dari perjalanannya. Buku ini dilengkapi dengan penjelasan singkat tentang makna setiap foto dan konteks yang terkait. Dengan kombinasi foto dan narasi, ia berharap mampu memberikan gambaran lebih menyeluruh tentang kehidupan di Al Quds. Selain itu, karya-karya ini juga ditampilkan dalam bentuk video pendek yang memperlihatkan dinamika kehidupan kota, termasuk ritual harian dan kegiatan budaya yang sering diabaikan oleh pengunjung biasa.

Karena kota ini memiliki dua nama, Al Quds dan Yerusalem, Adimaja menyebutkan bahwa “Ursyalim” merupakan upaya untuk menunjukkan kedua sisi tersebut. Ia juga menekankan bahwa pameran ini bukan hanya tentang tempat ibadah, tetapi juga tentang kehidupan masyarakat yang bersinergi dengan tempat-tempat suci. “Al Quds adalah kota yang mencerminkan kehidupan sehari-hari, serta kepercayaan yang mengakar dalam budaya lokal,” katanya. Dalam foto-foto yang ditampilkan, ada beberapa momen yang menunjukkan keharmonisan antaragama, seperti saat warga Yahudi, Muslim, dan Nasrani berbagi waktu dalam acara budaya yang diadakan bersama.

Pameran “Ursyalim” di ANTARA Heritage Center berlangsung selama seminggu, dari 22 hingga 29 Mei 2026. Acara ini terbuka untuk publik, dan Adimaja berharap bisa menjadi sarana edukasi bagi masyarakat Indonesia. “Saya ingin mereka melihat bahwa di Al Quds, kehidupan tidak hanya tentang ibadah, tetapi juga tentang kehidupan yang penuh makna,” ujarnya. Karya-karyanya ini juga menjadi penanda perjalanan pribadinya sebagai fotografer yang berusaha menggambarkan realitas kehidupan di kota yang dikenal sebagai “Kota Kudus” sekaligus “Kota Damai.”

Kontribusi Adimaja ini diharapkan mampu menginspirasi pembaca untuk lebih menghargai keberagaman dan sejarah yang mengiringi kehidupan di Al Quds. Dengan menampilkan foto-foto yang memadukan keindahan arsitektur dan kehidupan sehari-hari, ia memperlihatkan bahwa kota suci ini memiliki banyak cerita yang layak diken

Leave a Comment