Periksa 2.494 Hewan Kurban, KPKP Jakbar Temukan 41 Ekor Kondisi Sakit
Periksa 2 494 hewan kurban – Jakarta – Tim pemeriksa dari Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (Sudin KPKP) Jakarta Barat melakukan inspeksi terhadap 2.494 hewan kurban yang disembelih di 125 titik lokasi. Hasil pemeriksaan menunjukkan, sebanyak 41 ekor hewan dalam kondisi tidak sehat, sementara sebagian besar dinyatakan memenuhi standar kesehatan untuk dikonsumsi.
Pemeriksaan ini dilakukan selama tiga hari, mulai dari Rabu (27/5) hingga Jumat (29/5), dengan fokus pada pengujian kesehatan hewan dan kebersihan lingkungan penyembelihan. Menurut Tanti, Kepala Seksi Peternakan dan Kesehatan Hewan Sudin KPKP Jakbar, kegiatan tersebut bertujuan untuk memastikan daging kurban yang beredar di masyarakat layak dikonsumsi dan memenuhi prinsip halal serta thayyib.
“Dari seluruh hewan yang diperiksa, 41 ekor ditemukan dalam kondisi sakit. Selain itu, tim juga mengafkir 122,14 kilogram bagian organ yang tidak layak untuk konsumsi,” jelas Tanti dalam wawancara di Jakarta, Jumat.
Menurut Tanti, bagian organ yang dianggap tidak layak termasuk paru, hati, limpa, jantung, kepala, kaki, ginjal, serta komponen lainnya. Kerusakan pada organ-organ ini terjadi karena berbagai penyebab, seperti infeksi bakteri, cacing hati, dan paparan asap kendaraan bermotor. “Kerusakan pada paru-paru banyak ditemukan berupa jejak hitam atau anthracosis, yang disebabkan oleh akumulasi karbon dari polusi udara,” tambahnya.
Dalam rangka memastikan kualitas daging kurban, Sudin KPKP tidak hanya memeriksa kondisi hewan tetapi juga mengambil sampel tanah serta melakukan uji swab lingkungan di lima lokasi penyembelihan. Lokasi-lokasi tersebut meliputi Masjid Al Ikhrom RT 03/09 Kamal, Masjid At Taqwa, Jalan Sakti IV Komplek Pajak Kemanggisan, Palmerah, Masjid Al Muhajirin RT 05/02 Kemanggisan, Palmerah, serta Masjid Al Muttaqien Jalan Kompor BNI Pesing, Wijaya Kusuma, Grogol Petamburan, dan Masjid Al Huriyah Puri Indah, RT 04/03 Kembangan Selatan, Kembangan.
“Kerusakan organ hewan utamanya disebabkan oleh penyakit akibat bakteri, parasit cacing, hingga paparan asap kendaraan,” kata Tanti. Ia menambahkan bahwa jejak hitam di paru-paru ini menjadi indikator untuk menilai kebersihan lingkungan tempat hewan disembelih.
Pemeriksaan kesehatan hewan kurban dilakukan dengan metode pemeriksaan pasca-mati (postmortem), yang mencakup pengamatan fisik, analisis organ, dan pengecekan kebersihan daerah pemotongan. Tanti mengungkapkan bahwa meskipun ada 41 ekor hewan yang dinyatakan sakit, kondisi kebanyakan masih memenuhi standar kualitas. “Sebagian besar hewan kurban dalam keadaan sehat dan bisa dikonsumsi dengan aman,” tuturnya.
Dalam proses ini, petugas Sudin KPKP melakukan tindakan preventif dengan membuang bagian-bagian organ yang terkontaminasi. Proses pengafiran ini dilakukan untuk menghindari risiko kesehatan pada masyarakat. Tanti menjelaskan bahwa sampel tanah dan lingkungan diambil untuk memastikan tidak ada kontaminasi tambahan yang berpotensi memengaruhi kualitas daging kurban.
Menurut data yang diperoleh, penyebab utama kerusakan organ adalah polusi udara dari kendaraan bermotor, yang menyebabkan akumulasi karbon pada paru-paru. Selain itu, infeksi bakteri dan parasit cacing hati juga ditemukan pada sejumlah hewan. “Sampel dari lingkungan dan tanah dianalisis untuk mengetahui apakah ada faktor eksternal yang memengaruhi kesehatan hewan sebelum penyembelihan,” papar Tanti.
Kepala Seksi Peternakan dan Kesehatan Hewan Sudin KPKP Jakbar menekankan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meminimalkan risiko kontaminasi pada daging kurban. Dengan demikian, masyarakat yang membeli atau mengonsumsi daging kurban dapat yakin bahwa produk tersebut memenuhi syarat kehalalan dan kesehatan. “Alhamdulillah, kebanyakan hewan kurban dalam kondisi baik. Namun, kita tetap memantau dengan cermat untuk memastikan kualitas terjaga,” ujarnya.
Dalam kegiatan ini, Sudin KPKP Jakbar juga mengedukasi pengurus masjid dan masyarakat sekitar tentang cara penyembelihan yang benar serta pentingnya kebersihan lingkungan. “Pendekatan edukasi dan inspeksi bersama-sama membantu meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai standar kesehatan hewan kurban,” kata Tanti. Ia menambahkan bahwa hasil pemeriksaan ini akan digunakan sebagai dasar untuk menilai kualitas daging kurban di wilayah tersebut.
Selain memeriksa kondisi hewan, tim juga memeriksa infrastruktur penyembelihan, termasuk kebersihan alat pemotongan dan tempat penampungan daging. Proses ini dilakukan agar tidak ada kontaminasi silang yang terjadi selama penyembelihan. “Kami mengharapkan kerja sama pihak-pihak yang terlibat agar hasil pemeriksaan bisa memberikan kepastian kepada masyarakat,” tutup Tanti.
Detail Pemeriksaan di Lokasi Penyembelihan
Empat belas hewan yang dinyatakan sakit ditemukan di lima lokasi utama penyembelihan. Lokasi pertama adalah Masjid Al Ikhrom di RT 03/09 Kamal, yang menjadi salah satu pusat penyembelihan besar di Jakarta Barat. Di sini, tim menemukan sejumlah hewan dengan gej
