Diskusi Taman Langit: Buku Fotografi Ursyalim oleh Muhammad Adimaja
Topics Covered, Jakarta, Jumat (29/5/2026) — Acara Diskusi Taman Langit di ANTARA Heritage Center, Pasar Baru, Jakarta, menjadi ruang bagi Muhammad Adimaja, fotografer dari ANTARA, untuk membagikan pengalaman dan karya-karyanya dalam buku Ursyalim. Buku ini menyajikan dokumentasi visual tentang Kota Yerusalem, Palestina, yang memperlihatkan perjalanan kreatif dan pemikirannya dalam menggambarkan momen-momen sehari-hari serta pemandangan yang memikat di wilayah tersebut. Topik yang dibahas meliputi teknik fotografi, proses kreatif, dan makna isu sosial yang diangkat melalui lensa Adimaja.
Konten Buku Ursyalim: Membongkar Makna dalam Lensa
Di dalam Diskusi Taman Langit, Muhammad Adimaja menjelaskan bagaimana buku Ursyalim menjadi sumber inspirasi bagi para peserta acara. Buku ini terdiri dari rangkaian foto yang menggambarkan kehidupan di Yerusalem, termasuk kisah manusia, arsitektur kota, dan atmosfer sekitar. Topik yang dibahas memperlihatkan bagaimana fotografer ini menggabungkan estetika visual dengan narasi sosial yang mendalam, menegaskan peran fotografi sebagai alat ekspresi dan dokumentasi. Adimaja juga menceritakan tantangan yang dihadapinya, seperti perbedaan kondisi cuaca dan budaya, dalam proses meliput kota yang dinamis.
Diskusi ini diselenggarakan oleh Redaksi Foto ANTARA dengan kerja sama program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Perum LKBN ANTARA. Acara bertujuan untuk menjembatani antara seni fotografi dan peran media dalam menyampaikan pesan sosial. Topik yang dibahas tidak hanya fokus pada teknik pemasangan kamera atau pemilihan warna, tetapi juga membahas bagaimana fotografi dapat membangun empati dan memicu refleksi terhadap isu-isu lokal hingga internasional. Peserta diskusi termasuk kritikus seni, fotografer muda, dan warga Jakarta yang tertarik mempelajari karya Adimaja.
Salah satu penekanan utama dalam buku Ursyalim adalah perjalanan visual yang mengikuti kisah-kisah manusia di Yerusalem. Adimaja menjelaskan bahwa setiap foto dalam buku ini bukan hanya gambar yang statis, tetapi cerminan dari interaksi dan dinamika kehidupan di kota yang dikenal sebagai kota suci. Topik yang dibahas juga mencakup perbandingan antara fotografi tradisional dan modern, serta pentingnya kejujuran dalam menangkap momen tanpa prasangka. Dalam sesi tanya jawab, peserta aktif mengungkapkan kekaguman terhadap keahlian Adimaja dalam menyusun narasi melalui berbagai sudut pandang.
ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/hma
Buku Ursyalim dianggap sebagai karya yang memperkaya perpustakaan fotografi Indonesia, karena menggabungkan teknik profesional dengan kepekaan terhadap konteks lokal. Muhammad Adimaja, yang juga aktif dalam berbagai proyek fotografi sebelumnya, menjelaskan bahwa karya ini melibatkan perjalanan panjang sejak tahun 2015 hingga 2024. Topik yang dibahas menekankan betapa pentingnya dokumentasi visual dalam memahami identitas budaya dan dinamika sosial yang berubah seiring waktu. Buku ini juga menjadi bahan diskusi untuk mengeksplorasi cara menggambarkan kehidupan sehari-hari dengan sudut pandang yang unik.
Acara Diskusi Taman Langit menarik perhatian sejumlah fotografer dan peneliti seni yang tertarik mempelajari pendekatan Adimaja. Topik yang dibahas meliputi pengalaman meliput Yerusalem, seperti bagaimana dia menyesuaikan gaya fotografi dengan lingkungan yang beragam. Selain itu, diskusi juga menyentuh isu-isu seperti keterlibatan media dalam mengisi ruang publik dengan karya-karya yang bermakna. Adimaja menekankan bahwa setiap foto dalam Ursyalim adalah hasil dari pengamatan intens dan kesabaran dalam memperoleh momen yang tepat. Buku ini, kata dia, berusaha menggambarkan Yerusalem bukan hanya sebagai tempat bersejarah, tetapi sebagai kota yang hidup dan penuh cerita.
