China Berikan Dukungan Darurat untuk Menangani Wabah Ebola di Afrika Barat
Langkah Kemanusiaan dalam Koordinasi dengan Uni Afrika
Topics Covered – Beijing menjadi pusat perhatian ketika pemerintah Tiongkok mengungkapkan komitmen untuk menangani wabah Ebola yang menghantam Republik Demokratik Kongo (DRC). Dalam konferensi pers di kota tersebut, Lin Jian, juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, mengatakan bahwa negara ini telah menetapkan bantuan darurat untuk DRC dan secara aktif bekerja sama dengan Uni Afrika dalam upaya mengendalikan penyebaran penyakit mematikan tersebut.
“Pemerintah Tiongkok telah memutuskan untuk memberikan bantuan kemanusiaan darurat kepada DRC, serta mengirimkan tim ahli medis untuk memberikan dukungan layanan kesehatan,” ujar Lin Jian.
Langkah-langkah ini dilakukan sebagai bagian dari peran Tiongkok dalam mendukung negara-negara Afrika yang terkena wabah. Selain bantuan kemanusiaan, China juga terlibat dalam koordinasi dengan Komisi Uni Afrika, dengan harapan meningkatkan respons terhadap epidemi yang terus memburuk.
WHO dan Dokter Tanpa Batas: Wabah yang Meningkat Pesat
Menurut laporan dari organisasi medis internasional “Doctors Without Borders”, kondisi wabah Ebola di DRC tergolong sangat kritis. Direktur operasi organisasi tersebut, Alan Gonzalez, menyebutkan bahwa kecepatan penyebaran penyakit ini mencapai level yang tidak pernah terjadi sebelumnya, sehingga membuat tim medis di lapangan kesulitan mengejar penyebaran.
“Kecepatan penyebaran Ebola belum pernah terjadi sebelumnya, dan mereka yang berada di lapangan tidak mampu mengimbangi hal tersebut,” terang Gonzalez.
Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, juga mengungkapkan bahwa jumlah kasus baru yang diduga positif menyebar setiap hari. Namun, proses pemeriksaan yang lambat menyebabkan keterlambatan dalam diagnosis akurat. “Kapasitas pemeriksaan harus segera ditingkatkan agar situasi tersebut dapat dikendalikan sebagian,” tambah Tedros.
Penguatan Kemitraan Tiongkok-Afrika
Kebijakan bantuan Tiongkok bukan hanya terbatas pada DRC, tetapi juga mencakup sejumlah negara Afrika lainnya. Lin Jian menekankan bahwa dukungan ini menjadi contoh nyata dari kerja sama yang erat antara Tiongkok dan Afrika, sebagai bagian dari pembangunan komunitas bilateral yang siap menghadapi tantangan bersama. Dalam upaya ini, Tiongkok telah mengirimkan lebih dari 45 tim medis ke 44 negara Afrika, dengan total anggota mencapai lebih dari 900 orang.
“Tim medis Tiongkok saat ini berada di lapangan, bekerja sama dengan masyarakat Afrika untuk menghadapi penyakit ini secara langsung,” tambah Lin Jian.
Langkah ini juga menjadi bagian dari sepuluh aksi kemitraan yang dicanangkan dalam KTT FOCAC Beijing 2024. Menurut Lin Jian, dukungan Tiongkok kepada Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Afrika terus berlanjut, dengan tujuan meningkatkan kemampuan negara-negara tersebut dalam menghadapi wabah.
Keterlambatan dari Pihak Amerika Serikat
Di sisi lain, peran AS dalam penanganan wabah Ebola tergolong kurang optimal. Pemerintah Amerika Serikat dikabarkan menarik pendanaan dari WHO, menghentikan operasional USAID, serta melakukan pemotongan dana di CDC. Hal ini berdampak pada kemampuan respons yang efektif di DRC dan Uganda, dua negara yang menjadi pusat epidemi.
“Keterlambatan dalam mengkonfirmasi wabah ini sebagian disebabkan oleh sampel yang dibawa ke laboratorium nasional di Kinshasa pada suhu yang salah,” jelas Lin Jian.
Sampel-sampel tersebut sebelumnya dikelola oleh USAID, dan keterlambatan pengiriman ke laboratorium menyebabkan kehilangan waktu penting. Sebagai perbandingan, wabah Ebola pada 2014 terjadi dengan respons lebih cepat, berbeda dengan situasi saat ini. Tedros menyebutkan bahwa keadaan kesehatan masyarakat di DRC dan Uganda kini mendesak, sehingga diperlukan tindakan internasional yang lebih konkret.
Kondisi Terkini dan Keberhasilan Pertama
Menurut laporan terbaru, lebih dari 900 kasus suspek Ebola telah dilaporkan di DRC, termasuk 223 kematian yang diduga akibat penyakit ini. Otoritas kesehatan Kongo menambahkan bahwa jumlah kasus baru terus meningkat, dengan total kumulatif melebihi 1.000 kasus sejak wabah diumumkan pada 15 Mei. Strain Bundibugyo Ebola kini terkonsentrasi di tiga provinsi di bagian timur Kongo, yakni Ituri, Kivu Utara, dan Kivu Selatan.
“Kami turut prihatin atas wabah Ebola baru di DRC. Saat memimpin pertemuan tingkat tinggi Dewan Keamanan PBB di New York, Menteri Luar Negeri Wang Yi mengatakan bahwa Tiongkok akan tetap bergegas membantu ketika krisis besar terjadi,” kata Lin Jian.
Lin Jian juga menekankan bahwa Tiongkok terus memperkuat hubungan dengan negara-negara Afrika, termasuk dalam hal pencegahan dan pengendalian penyakit. Dukungan ini sejalan dengan komitmen untuk meningkatkan kapasitas kemanusiaan di wilayah yang terkena dampak wabah.
Pemulihan dan Harapan Masa Depan
Kebiasaan Tiongkok dalam mengirim bantuan darurat telah terbukti efektif dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2015, negara ini memberikan dukungan besar kepada tiga negara Afrika Barat yang sedang berjuang mengatasi wabah sebelumnya. Kini, langkah serupa dilakukan untuk menghadapi epidemi terbaru yang terjadi di DRC.
“China menyerukan komunitas internasional untuk mengambil tindakan lebih konkret agar wabah ini bisa diatasi secepat mungkin,” tambah Lin Jian.
WHO telah menetapkan status keadaan darurat kesehatan masyarakat di DRC dan Uganda. Meski wabah sebelumnya di DRC berakhir pada Oktober 2025, situasi kini menunjukkan penyebaran yang semakin parah. Pemerintah Tiongkok yakin bahwa kolaborasi dengan Afrika dapat menjadi penentu dalam mengurangi dampak wabah tersebut.
Dengan kehadiran tim medis yang solid dan
