ESG Menjadi Faktor Utama dalam Meningkatkan Daya Saing Hilirisasi Nikel Indonesia
Key Discussion – Jakarta, Rabu – Perusahaan pertambangan dan perdagangan global asal Swiss, Glencore, mengungkapkan bahwa penerapan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) sangat krusial dalam meningkatkan daya saing hilirisasi nikel Indonesia di tingkat internasional. Ilse Schooters, Co-head of Responsible Sourcing Glencore, menekankan bahwa keberlanjutan tata kelola tidak hanya berupa penerapan aturan administratif, tetapi harus diintegrasikan secara menyeluruh dalam seluruh proses bisnis, termasuk produksi dan pengolahan bahan baku. Key Discussion ini menjadi bagian dari diskusi mengenai tantangan dan peluang hilirisasi nikel nasional dalam era transisi energi global.
“ESG adalah fondasi untuk membangun hubungan yang lebih kuat dengan pasar global. Kita harus menjadikan keberlanjutan sebagai bagian dari strategi bisnis, bukan sekadar isu kecil,” ujar Ilse Schooters dalam Key Discussion yang diadakan di Jakarta. Key Discussion ini menyoroti pentingnya kolaborasi antara pemerintah, industri, dan pelaku pasar dalam menciptakan ekosistem hilirisasi yang lebih berkelanjutan.
Indonesia, sebagai produsen nikel terbesar dunia, kini dihadapkan pada persaingan global yang semakin ketat. Menurut data United States Geological Survey (USGS) 2026, negara ini menghasilkan sekitar 2,6 juta ton nikel pada 2025, atau 66,7 persen dari total produksi global. Key Discussion menunjukkan bahwa hilirisasi nikel tidak hanya bergantung pada volume produksi, tetapi juga pada kualitas lingkungan dan sosial yang dihasilkan selama proses. Ilse menambahkan bahwa keberhasilan Indonesia dalam mengejar ekonomi hijau akan tergantung pada komitmen terhadap ESG.
Peran Kawasan Industri dalam Integrasi ESG
Kawasan industri seperti Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) di Halmahera Tengah menjadi contoh nyata bagaimana ESG bisa diterapkan secara sistematis. Key Discussion pada acara “Responsible Downstreaming at Scale: Lessons from North Maluku” menyebutkan bahwa IWIP menggabungkan seluruh proses dari tambang, smelter rotary kiln electric furnace (RKEF), fasilitas high pressure acid leach (HPAL), hingga produksi prekursor baterai. Hal ini tidak hanya mengurangi risiko lingkungan, tetapi juga meningkatkan efisiensi dan transparansi dalam rantai pasok.
“Proyek IWIP menunjukkan model industri yang berkelanjutan. Kami fokus pada pengelolaan sumber daya secara efektif, sekaligus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan,” tambah Xiaolin Wang, ESG Superintendent IWIP. Key Discussion ini juga menggarisbawahi bahwa kolaborasi antar pelaku industri adalah kunci untuk memastikan ESG tidak hanya menjadi slogan, tetapi menjadi praktik nyata.
Menurut Xiaolin, kawasan industri harus terus mengembangkan standar dasar, mekanisme pengelolaan, dan sistem pemantauan yang dapat memenuhi harapan investor dan regulator. Key Discussion pada sesi ini menunjukkan bahwa ESG tidak hanya mendorong kredibilitas produk, tetapi juga membuka akses ke pasar yang lebih berorientasi hijau. Dengan adanya kerja sama yang lebih erat, IWIP diharapkan bisa menjadi contoh bagi kawasan industri lainnya di Indonesia.
Di sisi lain, Key Discussion yang diadakan oleh Glencore menyoroti tantangan dalam memenuhi standar ESG global. Sebagai contoh, Eropa telah menetapkan regulasi ketat terhadap rantai pasok baterai, yang memaksa produsen nikel meningkatkan keberlanjutan. Ilse menegaskan bahwa transparansi dan pelaporan data yang akurat adalah bagian dari upaya untuk memenuhi ekspektasi pembeli internasional. “Kita perlu memperkuat komunikasi dengan pihak yang berkepentingan, agar ESG bisa menjadi alat untuk membangun kepercayaan,” jelasnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, IWIP telah berkembang menjadi kawasan industri yang luas, mencakup area sekitar 3.000–5.000 hektare dengan lebih dari 90 ribu karyawan. Key Discussion menunjukkan bahwa pertumbuhan ini tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga menciptakan lingkungan kerja yang lebih berkelanjutan. Ilse Schooters menjelaskan bahwa keberhasilan proyek ini sangat bergantung pada keselarasan antara praktik ESG dan inovasi teknologi. “Kita harus terus mengembangkan solusi yang fleksibel untuk menghadapi perubahan pasar,” kata Ilse.
Dengan penerapan ESG, industri nikel Indonesia berharap bisa memperkuat posisinya sebagai produsen utama di tingkat global. Key Discussion menyoroti bahwa hilirisasi nikel tidak hanya tentang meningkatkan nilai tambah, tetapi juga tentang memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak merugikan lingkungan dan masyarakat. “Tata kelola yang baik akan membantu Indonesia menjadi pemain utama dalam transisi energi hijau,” tegas Ilse Schooters. Hal ini menunjukkan bahwa ESG adalah strategi jangka panjang yang diperlukan untuk menghadapi persaingan di masa depan.
