Bisnis

BI dorong perlindungan hak cipta motif tenun NTT

WhatsApp-Image-2026-10-04-at-21.02.53

Perlindungan Motif Tenun NTT Didorong untuk Perkuat Nilai Ekonomi Penenun

Beritaturah.com – Penguatan perlindungan hak cipta bagi motif dan karya tenun dari Nusa Tenggara Timur menjadi perhatian dalam upaya meningkatkan kesejahteraan para perajin sekaligus memperluas nilai ekonomi produk daerah. Langkah ini dipandang penting karena tenun bukan hanya hasil kerajinan, melainkan juga bagian dari identitas budaya yang lahir dari keterampilan, waktu, dan pengetahuan masyarakat lokal.

Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menyampaikan dorongan tersebut saat menghadiri Flobamorata Creative Expo atau FCE 2026 di Kupang, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (3/10/2026). Kegiatan ini menampilkan beragam produk unggulan daerah, dengan fokus pada tenun, kuliner, serta kopi.

Perlindungan kekayaan intelektual dinilai dapat membantu memastikan karya tenun memberikan manfaat yang lebih nyata kepada pihak yang membuat dan mengembangkannya. Ketika motif lokal memiliki pengakuan dan perlindungan yang memadai, produk tersebut berpeluang memperoleh nilai tambah serta menjangkau pembeli di pasar yang lebih luas.

Tenun sebagai kekuatan ekonomi daerah

Destry menilai pengembangan produk unggulan memiliki posisi penting dalam penguatan perekonomian NTT. Daerah ini mempunyai keragaman produk yang dapat terus ditingkatkan potensinya, mulai dari kain tenun hingga produk kopi dan makanan khas.

Tenun memiliki tempat tersendiri dalam ekosistem ekonomi kreatif karena proses pembuatannya melibatkan keterampilan perajin dan karakter visual yang khas. Motif, warna, serta teknik pengerjaan dapat menjadi pembeda produk di tengah pasar yang semakin beragam. Namun, nilai budaya tersebut perlu diikuti dengan perlindungan yang memberi kepastian bagi para penenun.

Pengelolaan hak kekayaan intelektual dapat menjadi bagian dari strategi pengembangan usaha. Perlindungan itu bukan semata persoalan administrasi, melainkan juga cara untuk menjaga karya lokal agar tidak kehilangan hubungan dengan komunitas yang menciptakannya. Dalam jangka panjang, penguatan tersebut dapat mendukung penempatan produk tenun sebagai komoditas bernilai tambah.

FCE 2026 menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai potensi ekonomi kreatif NTT. Pameran seperti ini memberi kesempatan bagi produk lokal untuk dikenal lebih luas, sekaligus membuka percakapan mengenai kualitas, pengembangan pasar, dan kesiapan pelaku usaha dalam memenuhi kebutuhan pembeli.

Akses pasar harus sejalan dengan peningkatan kapasitas

Pelaksana Tugas Deputi Bidang Usaha Mikro Kementerian UMKM Reghi Perdana menekankan bahwa peningkatan kemampuan produksi UMKM perlu disertai pemahaman terhadap kebutuhan konsumen. Pelaku usaha juga perlu mampu menjaga mutu produk dan membangun relasi yang berkelanjutan dengan pembeli maupun mitra bisnis.

Kita ingin UMKM tidak hanya mampu memproduksi, tetapi juga mampu membaca kebutuhan pasar, menghasilkan produk yang berkualitas, dan terhubung dengan rantai pasok. Untuk itu, akses pasar harus menjadi bagian penting dalam pengembangan UMKM.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kapasitas produksi saja belum cukup untuk memperkuat usaha mikro, kecil, dan menengah. Produk yang baik memerlukan jalur distribusi, pasar yang jelas, serta hubungan usaha yang memungkinkan terjadinya transaksi secara berkelanjutan.

Bagi pelaku UMKM tenun, tantangan pengembangan usaha dapat mencakup pengenalan karakter pasar, konsistensi kualitas, dan kesiapan memenuhi permintaan. Pembeli dapat memiliki kebutuhan yang berbeda, baik dari sisi desain, ukuran, mutu bahan, hingga kepastian pasokan. Karena itu, pengembangan usaha perlu menghubungkan proses produksi dengan kebutuhan nyata di pasar.

Reghi memandang akses kepada pembeli, pembiayaan, pasar ekspor, dan rantai pasok sebagai unsur yang dibutuhkan agar peningkatan kualitas produk dapat berujung pada pertumbuhan usaha. Ketersediaan akses tersebut membuka peluang bagi UMKM untuk tidak berhenti pada tahap menghasilkan barang, tetapi berkembang menjadi pelaku usaha yang terhubung dengan ekosistem perdagangan lebih luas.

Kolaborasi untuk memperluas daya saing

Penguatan produk UMKM NTT membutuhkan peran bersama dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, Bank Indonesia, perbankan, dunia usaha, dan pemangku kepentingan lainnya. Kolaborasi diperlukan agar pelaku usaha dapat memperoleh dukungan yang saling melengkapi, dari pengembangan produk sampai pembukaan jaringan pasar.

Tujuan akhirnya adalah semakin banyak produk UMKM NTT yang mampu memenuhi standar dan kebutuhan konsumen, masuk ke rantai pasok yang lebih besar, serta bersaing di pasar nasional maupun global. Bagi produk tenun, hal itu berarti menjaga keunikan budaya sambil membangun kesiapan usaha yang sesuai dengan tuntutan pasar.

Perlindungan motif tenun dan perluasan akses pasar dapat berjalan beriringan. Perlindungan membantu menjaga nilai karya, sedangkan penguatan kualitas dan jaringan usaha membantu produk tersebut menemukan pembelinya. Dengan pendekatan itu, tenun NTT dapat terus dikenal sebagai warisan budaya sekaligus menjadi sumber peluang ekonomi bagi masyarakat yang merawat tradisi pembuatannya.

Frequently Asked Questions

What is BI dorong perlindungan hak cipta motif?

BI dorong perlindungan hak cipta motif is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does BI dorong perlindungan hak cipta motif matter?

BI dorong perlindungan hak cipta motif matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *