Bisnis

Kemenko Pangan-UNDP perluas Sungai Lestari lindungi pangan pesisir

1000208015

Program Sungai Lestari Diperluas ke Bali untuk Menekan Sampah Plastik di Pesisir

Beritaturah.com – Upaya menjaga sungai, laut, serta sumber pangan masyarakat pesisir kini diperluas ke Bali melalui Program Sungai Lestari. Kementerian Koordinator Bidang Pangan bersama Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNDP menjalankan perluasan ini untuk mengurangi sampah, terutama plastik, yang mengalir dari daratan hingga ke kawasan pantai dan laut.

Peluncuran program di Bali berlangsung di Denpasar pada Jumat dan disertai kegiatan pembersihan mangrove. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, yang akrab disapa Zulhas, hadir dalam kegiatan tersebut. Langkah ini menempatkan pengelolaan sampah sungai sebagai bagian dari perlindungan ekosistem pesisir, kegiatan ekonomi warga, dan ketahanan pangan.

“Menjaga mangrove berarti menjaga pesisir, ekonomi masyarakat dan iklim. Melalui Program Sungai Lestari, kita mendorong perubahan dari sekadar membersihkan sampah menjadi mencegah sampah sejak dari sumbernya,” kata Zulhas.

Fokus pada pengelolaan sampah dari hulu

Program Sungai Lestari dirancang tidak hanya untuk mengangkut sampah yang telah berada di sungai. Kegiatan utamanya juga mencakup perbaikan tata kelola dari titik awal, mulai dari pemilahan, pengumpulan, hingga pengiriman material yang dapat didaur ulang ke jalur pengolahan yang sesuai.

Pendekatan tersebut penting karena sampah yang lolos dari lingkungan permukiman berpotensi terbawa arus sungai menuju muara. Ketika sampah plastik mencapai laut, dampaknya dapat meluas ke pesisir, area mangrove, perikanan, dan aktivitas masyarakat yang menggantungkan kehidupan pada lingkungan pantai.

Di Bali, proyek percontohan diarahkan ke dua aliran sungai, yakni Tukad Badung di Kota Denpasar dan Tukad Mati di Kabupaten Badung. Kedua lokasi ini dipilih untuk menutup celah kebocoran sampah sebelum material tersebut memasuki wilayah pesisir dan perairan laut.

Selain Bali, lima lokasi prioritas Program Sungai Lestari meliputi Bekasi, Surakarta, Surabaya, dan Sidoarjo. Pelaksanaan di Surabaya serta Surakarta telah dimulai pada Mei 2026. Hingga tahap itu, sebanyak 492 ton sampah berhasil diangkat dari empat sungai.

Melibatkan komunitas, bank sampah, dan warga bantaran sungai

Pelaksanaan awal program di Surabaya dan Surakarta melibatkan empat organisasi masyarakat sipil, 55 bank sampah, 1.200 perempuan, serta warga dari 20 kelurahan. Dukungan juga datang dari instansi lingkungan hidup di daerah masing-masing.

Jangkauan kegiatan tidak berhenti pada titik pengumpulan sampah. Kawasan bantaran sungai dengan lebih dari 54.000 penduduk turut menjadi sasaran awal penguatan pengelolaan sampah. Dengan demikian, warga didorong untuk memiliki peran langsung dalam mengurangi pencemaran lingkungan di sekitar tempat tinggal mereka.

Perluasan ke Bekasi dan Sidoarjo sejak Oktober 2026 membawa sasaran pengelolaan gabungan sekitar 5.066 ton sampah sampai 2027. Target tersebut menunjukkan bahwa pengurangan sampah sungai membutuhkan kerja berkelanjutan, bukan kegiatan pembersihan yang dilakukan sekali waktu.

Program ini mendapat dukungan dari Clean Rivers, sebuah yayasan yang didukung Uni Emirat Arab. Dalam pelaksanaannya, organisasi masyarakat sipil menggunakan pembiayaan berbasis kinerja. Dana dikaitkan dengan volume sampah yang benar-benar terkumpul dan berhasil dialihkan ke sistem penanganan yang semestinya, setelah melalui verifikasi independen.

Skema itu diharapkan dapat memperkuat akuntabilitas kegiatan lapangan sekaligus memastikan sampah tidak hanya dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain. Pengelolaan yang baik membutuhkan jalur lanjutan, termasuk pemulihan material, daur ulang, maupun penanganan akhir yang bertanggung jawab.

“Pengelolaan sampah yang lebih baik turut membuka peluang pemanfaatan sampah menjadi sesuatu yang bernilai, sekaligus menciptakan pendapatan dan mata pencaharian bagi masyarakat setempat dan pekerja persampahan,” ujar Kepala Perwakilan UNDP Indonesia Sara Ferrer Olivella.

Mangrove, pangan pesisir, dan karbon biru

Zulhas menekankan bahwa perlindungan sungai perlu dijalankan bersamaan dengan pemeliharaan mangrove dan laut. Pencemaran dari hulu dapat mengganggu keseimbangan ekosistem pesisir, termasuk sumber daya perikanan yang menjadi penopang pangan dan ekonomi banyak masyarakat pantai.

“Mangrove adalah aset strategis nasional. Ekosistem ini melindungi pesisir dan keanekaragaman hayati, menopang ekonomi masyarakat, serta menyerap dan menyimpan karbon untuk mitigasi perubahan iklim,” ucap Zulhas.

Indonesia memiliki potensi karbon biru yang besar. Luas ekosistem mangrove nasional mencapai sekitar 3,46 juta hektare, sementara padang lamun mencakup kurang lebih 660 ribu hektare. Ekosistem tersebut tidak hanya berperan dalam penyimpanan karbon, tetapi juga membantu menjaga garis pantai dan menyediakan habitat bagi berbagai biota laut.

Karena itu, pencegahan sampah dari wilayah daratan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pelestarian mangrove dan laut. Sungai yang lebih bersih membantu mengurangi beban pencemaran di hilir, sedangkan pesisir yang terjaga mendukung kelangsungan perikanan, pariwisata, serta aktivitas ekonomi warga.

Melengkapi pembangunan infrastruktur pengolahan sampah Bali

Di Bali, perluasan Program Sungai Lestari juga melengkapi pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik atau PSEL Denpasar Raya. Fasilitas tersebut telah memasuki tahap pembangunan setelah peletakan batu pertama pada 8 Juli 2026.

Namun, infrastruktur pengolahan saja tidak cukup tanpa perubahan kebiasaan di tingkat masyarakat. Kedisiplinan memilah dan membuang sampah dengan benar, peran aktif komunitas, serta koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi unsur penting dalam menekan sampah yang berakhir di sungai.

Kolaborasi dengan akademisi, pelaku usaha, komunitas, organisasi masyarakat sipil, dan pekerja sektor persampahan juga dibutuhkan agar sistem berjalan dari hulu hingga hilir. Melalui langkah tersebut, perlindungan sungai dan pesisir diharapkan dapat memperkuat keberlanjutan pariwisata Bali, menjaga penghidupan masyarakat setempat, serta mendukung ketahanan pangan nasional.

Frequently Asked Questions

What is Kemenko Pangan UNDP perluas Sungai Lestari?

Kemenko Pangan UNDP perluas Sungai Lestari is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Kemenko Pangan UNDP perluas Sungai Lestari matter?

Kemenko Pangan UNDP perluas Sungai Lestari matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *