Dunia

WHO catat hampir 190 serangan Israel ke RS di Lebanon sejak Maret

WHO Catat Hampir 190 Serangan Israel ke Rumah Sakit Lebanon Sejak Maret

WHO catat hampir 190 serangan Israel – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan adanya hampir 190 serangan Israel terhadap fasilitas kesehatan di Lebanon sejak awal Maret hingga hari ini. Serangan ini menyebabkan kehilangan nyawa 128 pekerja medis dan cedera 332 orang, menurut perwakilan WHO di Lebanon, Abdinasir Abubakar. Data ini menyoroti meningkatnya intensitas serangan militer yang mengarah ke rumah sakit, mengakibatkan ketegangan di lingkungan kesehatan Lebanon.

Sejarah Serangan dan Konteks Konflik

Konflik antara Israel dan Lebanon memanas sejak Oktober 2023, ketika serangan udara Israel memulai operasi besar-besaran terhadap wilayah tersebut. Hingga kini, WHO mencatat bahwa serangan ke rumah sakit terus berlangsung secara signifikan, dengan hampir 190 insiden yang dilaporkan. Dalam tiga bulan terakhir, rata-rata serangan terhadap rumah sakit mencapai sekitar enam kali per minggu, menurut laporan perwakilan WHO. Serangan ini tidak hanya menargetkan bangunan medis, tetapi juga menyebabkan kerusakan infrastruktur dan gangguan layanan kesehatan bagi masyarakat sipil.

Korban dan Dampak di Fasilitas Kesehatan

Abdinasir Abubakar, perwakilan WHO di Lebanon, mengatakan bahwa jumlah korban tewas akibat serangan Israel terhadap rumah sakit mencapai 128 orang, sementara 332 lainnya mengalami cedera. Data tersebut diumpamakan berdasarkan laporan yang diterima dari lembaga kesehatan Lebanon dan sejumlah sumber lokal. Selain itu, WHO juga memverifikasi bahwa serangan terhadap Rumah Sakit Jabal Amel telah menimbulkan korban cedera sebanyak 86 orang, menurut laporan terbaru. Pihak WHO menegaskan bahwa situasi di Lebanon terus memburuk, dengan serangan udara terus mengancam kehidupan tenaga medis.

“Hampir 190 serangan Israel ke rumah sakit Lebanon telah menyebabkan korban yang sangat berat, baik dalam hal kehilangan nyawa maupun trauma psikologis,” ungkap Abubakar dalam wawancara di Jenewa. Ia menambahkan bahwa serangan tersebut memperburuk kondisi kesehatan masyarakat, terutama di daerah-daerah yang selama ini menjadi sasaran utama militer Israel.

Kementerian Kesehatan Lebanon menyatakan bahwa dari 2 Maret hingga 1 Juni, jumlah korban tewas akibat serangan udara Israel mencapai 3.433 orang, dengan 10.395 orang mengalami luka-luka. Data ini mencerminkan keterpurukan sistem kesehatan Lebanon yang semakin parah akibat serangan berulang. WHO mengingatkan bahwa serangan terhadap fasilitas kesehatan tidak hanya merugikan petugas medis, tetapi juga menghambat upaya penanganan krisis medis di tengah pandemi dan konflik yang berlangsung.

Beberapa organisasi internasional, termasuk PBB, telah menyuarakan kekhawatiran terhadap serangan Israel terhadap rumah sakit. Mereka menekankan bahwa menyasar fasilitas kesehatan melanggar prinsip perang internasional dan berisiko meningkatkan jumlah korban sipil. Dalam laporan terbarunya, WHO mengimbau Israel untuk memastikan keamanan fasilitas medis sebelum melancarkan serangan, terutama saat memasuki wilayah Lebanon.

Sebagai respons terhadap laporan WHO, Pemerintah Lebanon mengklaim bahwa serangan Israel terhadap rumah sakit terus meningkat, dengan hampir 190 insiden yang dilaporkan dalam tiga bulan terakhir. Mereka menyoroti bahwa kehilangan tenaga medis berdampak langsung pada kemampuan negara dalam memberikan layanan kesehatan kepada warga yang terkena dampak perang. WHO juga menekankan bahwa serangan tersebut menunjukkan pola penggunaan kekuatan yang tidak proporsional terhadap target sipil.

Leave a Comment