Ekonomi

Key Strategy: PLN EPI targetkan pengembangan BioCNG berbasis limbah sawit tahun ini

PLN EPI Targetkan Pengembangan BioCNG Berbasis Limbah Sawit Tahun Ini

Key Strategy – Dari Medan, PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) mengungkapkan rencana untuk mendorong pengembangan BioCNG berbasis sisa tanaman kelapa sawit sebagai bagian dari upaya diversifikasi energi hijau. Proyek ini akan didukung melalui kerja sama dengan mitra pengolahan limbah yang telah disepakati tahun ini. “Kami melakukan investasi bekerja sama dengan pemilik konsesi perkebunan kelapa sawit, dengan tujuan mengubah limbahnya menjadi bahan bakar alternatif,” terang Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir setelah menghadiri acara Diseminasi Pengembangan Biometana di Indonesia, di Medan, Sumatera Utara, Kamis. Menurut Hokkop, proses ini memanfaatkan POME (Palm Oil Mill Effluent), yaitu limbah cair dari pengolahan minyak kelapa sawit, yang kemudian diubah menjadi biometana. Biometana ini, lanjutnya, akan diolah lebih lanjut menjadi BioCNG untuk digunakan di pembangkit listrik.

Kemitraan dengan Perusahaan Teknologi dan Keuangan

Hokkop Situngkir menjelaskan bahwa PLN EPI saat ini sedang membangun kemitraan dengan ratusan pabrik kelapa sawit (PKS) di Sumatera Utara. “Kami telah memiliki mitra teknologi dan dukungan keuangan untuk transisi energi bersih,” katanya. Langkah ini bertujuan mengoptimalkan penggunaan limbah sawit yang biasanya dianggap sebagai bahan buangan, menjadi sumber energi terbarukan. Biometana yang dihasilkan akan disalurkan ke PLTGU Belawan, Sumatera Utara, yang memiliki kapasitas terpasang 1.184 MW. Dalam sistem jaringan listrik Sumatera Utara, BioCNG diharapkan dapat memberi kontribusi sekitar 30 persen. “Kami percaya potensi PKS di sini sangat besar, dan kerja sama dengan mereka akan menjadi fondasi utama,” tambah Hokkop.

Pengolahan Limbah Sawit oleh PT KIS Biofuels Indonesia

“Kami telah menjalin kerja sama dengan PT KIS Biofuels Indonesia sebagai pelopor teknologi energi bersih. Perusahaan tersebut sudah mampu mengolah limbah cair sawit menjadi biometana secara mandiri, sehingga kami bisa membeli hasil olahan mereka untuk didistribusikan ke pembangkit listrik di Belawan,” jelas Hokkop Situngkir.

Hokkop menekankan bahwa kemitraan saat ini belum melibatkan langsung seluruh pabrik kelapa sawit. “Tujuan kami adalah memperluas kerja sama ke seluruh PKS di Sumatera Utara, terutama setelah kegiatan diseminasi ini berlangsung,” ucapnya. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2023, terdapat 327 perusahaan perkebunan sawit yang beroperasi di Sumatera Utara. Dari jumlah tersebut, 237 pabrik memiliki fasilitas pengolahan limbah. “Dengan angka ini, kami yakin potensi energi hijau dari sawit bisa diwujudkan secara signifikan,” tambah Hokkop. Ia berharap program BioCNG ini dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil sekaligus mendukung pengurangan emisi karbon.

Implikasi Geopolitik dan Kemandirian Energi Nasional

Dalam wawancara di Samarinda, Kalimantan Timur, Senin (25/5), Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo menyoroti upaya pemerintah Indonesia untuk mencapai kemandirian energi. “Situasi geopolitik global yang kian tidak menentu, terutama akibat konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat, memberi dampak langsung terhadap ketersediaan pasokan energi,” ungkap Hashim. Ia menjelaskan bahwa penutupan Selat Hormuz, sebagai jalur utama pengiriman minyak mentah, menyebabkan ketidakstabilan pasokan bahan bakar minyak di berbagai negara. Indonesia, kata Hashim, pun menghadapi ancaman serius berupa kekurangan bahan bakar minyak dan turunannya.

Langkah Strategis dari Rusia untuk Stabilitas Energi

Hashim menambahkan bahwa Presiden RI Prabowo Subianto telah berhasil menjamin pasokan energi nasional melalui kesepakatan dengan Rusia. “Pemerintah Rusia menyetujui pengiriman 150 juta barel minyak mentah ke Indonesia tahun ini, yang akan berdampak positif pada keamanan pasokan energi,” kata Hashim. Kesepakatan ini, menurutnya, sangat vital untuk menjaga stabilitas harga bahan bakar minyak dalam negeri. “Dengan bantuan minyak dari Rusia, kami dapat mengurangi risiko krisis energi yang dipicu oleh ketegangan geopolitik,” terangnya.

Potensi BioCNG sebagai Solusi Energi Hijau

Dalam rangka mewujudkan energi bersih, PLN EPI dan mitra pengolahan limbah berencana menggandeng lebih banyak pihak untuk mengubah bahan buangan sawit menjadi sumber energi yang ramah lingkungan. Selain BioCNG, teknologi ini diharapkan bisa menjadi solusi untuk memperkuat sistem tenaga listrik berkelanjutan. “Limbah sawit yang tidak terolah bisa menjadi metana, yang bersifat berbahaya. Namun, melalui proses biometana, limbah ini bisa diubah menjadi energi yang bermanfaat,” jelas Hokkop. Ia menegaskan bahwa PLN EPI memandang BioCNG sebagai alternatif energi yang efektif, terutama dalam menghadapi tantangan ketersediaan bahan bakar minyak. “Ini juga sejalan dengan kebijakan nasional untuk meningkatkan produksi energi terbarukan,” tambahnya.

Perspektif Ekonomi dan Lingkungan

Pengembangan BioCNG, kata Hokkop, memiliki dampak ganda, baik secara ekonomi maupun lingkungan. Dari sisi ekonomi, kerja sama dengan PKS bisa mendorong pertumbuhan industri pengolahan limbah serta menciptakan lapangan kerja baru. Sementara dari segi lingkungan, proses ini mengurangi polusi yang diakibatkan oleh limbah sawit yang tidak terolah. “POME yang dibiarkan begitu saja akan menghasilkan gas metana, yang berkontribusi signifikan pada pemanasan global. Dengan mengolahnya menjadi BioCNG, kita bisa mengurangi emisi karbon secara efisien,” ujarnya. Hokkop menilai proyek ini juga mendukung target pemerintah dalam mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar minyak.

Kemitraan dan Komitmen Jangka Panjang

Dalam perjalanan mewujudkan BioCNG, PL

Leave a Comment