Finansial

New Policy: Ekonom: BSF efektif jika tekanan pasar bersifat teknis dan sementara

New Policy: BSF Efektif Saat Tekanan Pasar Teknis dan Sementara

New Policy – Baru-baru ini, ekonom Yusuf Rendy Manilet dari Center of Reform on Economics (CORE) menekankan bahwa kembali diterapkan bond stabilization fund (BSF) bisa menjadi alat paling efektif dalam menjaga kestabilan pasar surat utang negara jika tekanan yang muncul bersifat teknis dan sementara. Menurutnya, kondisi pasar seperti penjualan berantai akibat kerugian harga jangka pendek atau kekhawatiran yang tidak sepenuhnya mencerminkan fondasi ekonomi dasar bisa diredam dengan intervensi BSF dalam konteks New Policy.

Kondisi Pasar dan Peran BSF dalam New Policy

Yusuf menjelaskan bahwa BSF berfungsi sebagai instrumen stabilisasi yang lebih optimal ketika pasar menghadapi keterbatasan pembeli akibat sikap menunggu dan mengamati (wait and see). Di masa krisis, kehadiran pemerintah sebagai pembeli obligasi bisa membantu menghentikan kepanikan dan memulihkan likuiditas pasar. “New Policy ini memberikan payung tambahan bagi pemerintah untuk segera bertindak jika tekanan pasar melibatkan faktor teknis,” tambahnya saat diwawancara ANTARA di Jakarta, Jumat.

Dalam situasi seperti ini, BSF tidak hanya membantu mengurangi volatilitas, tetapi juga memperkuat kepercayaan investor. Yusuf menekankan bahwa New Policy seharusnya dipersiapkan sejak awal agar bisa diaktifkan tepat waktu, bukan hanya ketika risiko sudah mengancam. “Efektivitas BSF bergantung pada kecepatan respons dan konsistensi New Policy,” jelasnya.

Contoh Global: Korea Selatan dan Pelajaran dari Skenario Fundamental

Sebagai referensi, Yusuf menyebutkan bahwa Korea Selatan pernah memanfaatkan BSF setelah krisis Asia 1997-1998 dan kembali menyiapkannya saat krisis global 2008. Namun, ia menyoroti bahwa dalam skenario fundamental, seperti ketakutan pasar terhadap arah fiskal, beban bunga utang, atau kebijakan ekonomi, New Policy tidak cukup efektif untuk menghilangkan kecemasan investor. “BSF bisa menjadi alat tambahan, tetapi harus diimbangi dengan reformasi struktural di sektor keuangan dan korporasi,” ujarnya.

Dalam konteks New Policy, Yusuf menekankan bahwa intervensi BSF hanya efektif jika tekanan pasar bersifat teknis dan sementara. Jika tekanan berasal dari faktor fundamental, seperti ketidakpastian politik atau perubahan ekonomi global, maka New Policy perlu didukung oleh kebijakan fiskal dan moneter yang lebih komprehensif. “Kita tidak boleh hanya mengandalkan BSF sebagai alat jangka pendek,” tambahnya.

Kebijakan Indonesia dan Strategi New Policy

Yusuf menyarankan bahwa Indonesia bisa belajar dari pengalaman Korea Selatan dan negara-negara lain dalam menyusun New Policy. Ia mencontohkan bahwa Jepang pernah terlalu lama menopang pasar obligasi melalui kontrol yield, sementara China terlalu agresif dalam menstabilkan pasar sahamnya, yang menyebabkan distorsi harga aset. Dalam New Policy, Indonesia harus menyeimbangkan antara stabilisasi pasar dan pembangunan sektor riil.

“New Policy ini harus terukir dalam kebijakan jangka panjang, bukan hanya untuk mengatasi tekanan sementara. Kredibilitas dan psikologis kebijakan sangat penting,” katanya. Yusuf juga menyoroti bahwa BSF bisa diumumkan secara strategis untuk meningkatkan kredibilitas New Policy, meski tidak perlu diaktifkan secara rutin. “Efek psikologis dan simbolis dari New Policy bisa menjadi penstabil berharga sebelum risiko benar-benar membesar,” tegasnya.

Di sisi lain, kondisi pasar saat ini menunjukkan bahwa tekanan di sektor obligasi masih bisa diatasi. Yield SBN 10 tahun telah naik dari sekitar 5,9 persen di akhir tahun lalu ke kisaran 6,7 persen pada April 2026. Arus dana asing yang keluar juga mulai terlihat, memberi tekanan pada nilai tukar rupiah. Namun, Yusuf menilai bahwa New Policy telah memberikan ruang bagi pemerintah untuk lebih proaktif dalam menangani situasi tersebut.

Dengan New Policy sebagai payung, pemerintah diharapkan bisa mengambil langkah tepat waktu untuk menjaga kestabilan pasar. Yusuf mengingatkan bahwa keberhasilan BSF tergantung pada kejelasan tujuan New Policy dan kemampuan pemerintah dalam menerapkannya secara konsisten. “Kita harus memastikan bahwa New Policy bukan hanya diumumkan, tetapi benar-benar dijalankan dengan efektif,” pungkasnya.

Leave a Comment