Foto

Ratusan drone membentuk formasi perjalanan hidup Siddhartha Gautama di Borobudur

Ratusan Drone Membentuk Formasi Perjalanan Hidup Siddhartha Gautama di Borobudur

Perayaan Waisak Tahun Ini Menghadirkan Inovasi Teknologi di Situs Warisan Dunia

Ratusan drone membentuk formasi perjalanan hidup – Di tengah pengunjung yang memadati kompleks Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Minggu (31/5/2026), sebuah pertunjukan luar biasa menjadi sorotan. Sebanyak 570 unit drone terbang dalam formasi yang menggambarkan perjalanan hidup Siddhartha Gautama, seorang tokoh yang menjadi Sang Buddha. Acara ini digelar dalam rangka merayakan hari Waisak 2570 BE/2026, yang menjadi momen penting bagi umat Buddha di seluruh dunia. Teknologi drone menjadi pilihan inovatif untuk menghadirkan narasi spiritual yang kompleks dalam bentuk visual yang menarik.

Perayaan tahun ini di Borobudur tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga pendidikan budaya. Formasi drone yang terbang di udara dirancang secara detail untuk mengikuti alur cerita kehidupan Siddhartha Gautama, mulai dari masa kecil hingga kebenaran yang ditemukannya. Sebagai situs warisan dunia, Borobudur memang menjadi simbol penting bagi sejarah Buddha, dan penggunaan drone dianggap sebagai cara modern untuk menghubungkan teknologi dengan nilai-nilai tradisional.

“Kami ingin menampilkan perjalanan Siddhartha Gautama dengan cara yang lebih dinamis dan menarik. Dengan drone, kita bisa memvisualisasikan kisah hidupnya secara utuh, bahkan di langit,” kata salah satu panitia acara, seorang teknisi yang menangani perancangan formasi.

Proses persiapan acara ini memakan waktu sekitar tiga bulan. Tim teknis harus mengkoordinasikan 570 drone, yang masing-masing diatur dengan software khusus agar bisa bergerak secara teratur dan menghasilkan gambar yang akurat. Setiap formasi dibuat dengan mengacu pada peristiwa penting dalam kehidupan Sang Buddha, seperti pertapaan di Uluwana, pengenalan kebenaran di Tiga Kebenaran, dan kesadaran terakhirnya. Pengunjung yang datang dari berbagai daerah terkejut melihat formasi yang berubah-ubah sesuai alur cerita.

Acara ini juga menjadi bukti bahwa teknologi bisa digunakan sebagai sarana untuk memperkaya pengalaman budaya. Dengan drone, proses perayaan Waisak tidak hanya bersifat lokal, tetapi juga bisa disaksikan secara global melalui live streaming. Di Borobudur, formasi yang dihasilkan berupa gambar bergerak di udara, yang menampilkan momen-momen penting dalam kehidupan Siddhartha Gautama. Selain itu, ada juga proyeksi video yang diintegrasikan dengan penerbangan drone, menambah kesan magis di tempat suci ini.

Penggunaan drone dalam perayaan Waisak tahun ini menandai pertama kalinya teknologi tersebut digunakan di Borobudur. Sebelumnya, acara serupa lebih banyak mengandalkan hiasan lilin atau kembang api, tetapi kali ini teknologi canggih menjadi pilihan utama. “Ini adalah kali pertama kami mencoba teknologi drone untuk memperkaya pengalaman wisata religius,” tambah panitia lainnya, seorang produser acara.

Acara ini menarik perhatian ribuan pengunjung yang menghabiskan akhir pekan di TWC Borobudur. Mereka terpesona oleh formasi drone yang mengubah langit menjadi panggung hidup Sang Buddha. Seorang pengunjung, Yuni Suryadi, mengatakan bahwa pertunjukan ini menggambarkan kehidupan Siddhartha Gautama dengan cara yang lebih menginspirasi. “Saya merasa seperti berada di tengah narasi spiritual yang indah. Dengan teknologi, kehidupan Sang Buddha terlihat lebih hidup,” ujarnya.

Borobudur, yang dikenal sebagai candi terbesar di Asia Tenggara, memang menjadi tempat yang ideal untuk perayaan seperti ini. Lokasi yang terletak di lereng gunung dan di bawah langit biru memperkuat kesan misterius dari formasi drone. Selain itu, penggunaan teknologi ini juga memperlihatkan upaya pemerintah dan pihak terkait untuk mempromosikan Borobudur sebagai destinasi religius dan budaya yang relevan di era digital.

Dalam perayaan tersebut, para teknisi juga menampilkan keterampilan mereka dalam mengatur pergerakan drone. Setiap unit drone dioperasikan secara terpisah, tetapi harus bekerja secara sinkron untuk menghasilkan formasi yang sesuai dengan alur cerita. Proses penerbangan dimulai pukul 10.00 pagi, dan berlangsung selama satu jam, dengan jeda untuk mengganti formasi. Teknologi yang digunakan termasuk software pengontrolan dan sistem navigasi berbasis GPS, yang memungkinkan drone bergerak dengan presisi tinggi.

Para pengunjung juga dibuat terkesan oleh perayaan ini. Banyak dari mereka mengambil foto dan video untuk dibagikan di media sosial. “Ini adalah momen yang tak terlupakan. Saya belum pernah melihat sesuatu yang seindah ini,” kata Andi, seorang turis dari Surabaya. Acara ini juga menarik minat para peneliti budaya dan teknologi, yang menganggapnya sebagai inisiatif kreatif untuk mengajarkan nilai-nilai keagamaan melalui media modern.

Kemajuan teknologi di Borobudur menunjukkan bagaimana situs sejarah bisa terus relevan dengan perubahan zaman. Dengan penerbangan drone, kehidupan Siddhartha Gautama dianggap lebih mudah dipahami oleh generasi muda. “Kami harap inisiatif ini bisa memperkuat minat generasi muda terhadap sejarah Buddha,” kata panitia acara. Di sisi lain, teknologi ini juga menjadi contoh bagaimana budaya lokal bisa digabungkan dengan inovasi teknologi global.

Dalam jangka panjang, penggunaan drone di Borobudur diharapkan menjadi tradisi tahunan. “Kami sedang merancang formasi yang lebih kompleks untuk tahun depan, termasuk penambahan elemen interaktif,” jelas produser acara. Dengan demikian, Borobudur tidak hanya tetap sebagai situs sejarah, tetapi juga menjadi tempat yang menawarkan pengalaman religius yang baru dan menarik. Acara ini menjadi bukti bahwa teknologi tidak selalu bertentangan dengan tradisi, tetapi justru bisa memperkaya makna dari setiap perayaan.

Sebagai bagian dari perayaan Waisak, formasi drone ini juga diimbangi dengan upacara budaya tradisional. Para pengunjung bisa menyaksikan ritual pelepasan lampu, musik keagamaan, dan ceramah tentang ajaran Buddha. Kombinasi antara teknologi dan tradisi membuat acara ini lebih menarik, sekaligus menggambarkan bagaimana budaya bisa beradaptasi dengan era baru.

Dengan 570 drone yang menerbangkan formasi perjalanan hidup Siddhartha Gautama, Borobudur kembali menjadi pusat perhatian. Pergeseran ini menunjukkan bahwa teknologi bisa menjadi alat untuk menyampaikan pesan spiritual dengan cara yang modern, sekaligus menghadirkan kesan ajaib yang membuat pengunjung terkesan. Pada akhirnya, acara ini menjadi bukti bahwa kehidupan Sang Buddha, yang telah berlangsung selama lebih dari 2.500 tahun, masih relevan dan bisa dilihat melalui lensa teknologi.

Kehadiran drone di Borobudur juga menjadi simbol kemajuan teknologi Indonesia dalam mempromosikan budaya lokal. Dengan penggunaan teknologi canggih ini, Borobudur tidak hanya menjadi tempat sejarah, tetapi juga menjadi simbol inovasi yang tidak melupakan akar budaya. Pada hari Minggu, ribuan pengunjung menyaksikan perayaan ini, yang dianggap sebagai pengalaman unik dan membawa makna dalam.

Leave a Comment