Karhutla di Kalimantan Selatan Mengancam Keberlangsungan Habitat Bekantan
Beritaturah.com – Kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan tidak hanya menimbulkan persoalan asap dan kerusakan tutupan vegetasi, tetapi juga berisiko panjang bagi bekantan. Satwa primata endemik tersebut sangat bergantung pada kawasan tepian sungai dan lahan basah untuk memperoleh makanan, berlindung, beristirahat, serta bergerak antarlokasi.
Gangguan akibat karhutla dapat tetap terasa meski api telah berhasil dipadamkan. Vegetasi yang terbakar tidak dapat segera kembali menyediakan daun, buah, maupun ruang perlindungan bagi kelompok bekantan. Proses pemulihan ekosistem membutuhkan waktu, sementara kebutuhan satwa terhadap pakan dan habitat berlangsung setiap hari.
Founder Sahabat Bekantan Indonesia sekaligus akademisi Biologi Konservasi Universitas Lambung Mangkurat, Amalia Rezeki, menilai dampak kebakaran terhadap bekantan perlu dilihat secara menyeluruh. Ancaman itu mencakup penurunan kualitas udara akibat asap, rusaknya tumbuhan di tepian sungai, hingga berkurangnya pohon yang menjadi bagian penting dari ruang hidup satwa tersebut.
“Asap dapat menurunkan kualitas udara dan berpotensi mengganggu sistem pernapasan manusia dan satwa. Kita juga perlu memperhatikan kemungkinan perubahan perilaku, misalnya aktivitas makan, beristirahat, atau pergerakan kelompok ketika kondisi lingkungannya terganggu,” katanya di Banjarbaru.
Vegetasi Tepian Sungai Menjadi Penopang Kehidupan
Bekantan memiliki hubungan yang kuat dengan bentang alam sungai dan rawa. Pepohonan serta vegetasi di sepanjang tepian air bukan sekadar bagian dari lanskap, melainkan tempat satwa ini mencari pakan alami, menghindari gangguan, tidur, dan berpindah bersama kelompoknya. Ketika kebakaran menjalar ke kawasan tersebut, sumber daya penting bagi bekantan dapat hilang dalam waktu singkat.
Kerusakan vegetasi juga dapat mendorong kelompok bekantan meninggalkan lokasi asalnya demi mencari area dengan makanan dan perlindungan yang masih tersedia. Pergerakan ini perlu menjadi perhatian karena perpindahan ke habitat lain belum tentu menghadirkan kondisi yang aman. Bekantan dapat memasuki kawasan dengan kualitas lingkungan lebih rendah atau lebih dekat dengan aktivitas manusia.
“Perpindahan atau migrasi ini tentu perlu kita pantau, karena bisa saja mereka memasuki habitat yang kualitasnya kurang baik atau menghadapi gangguan dari aktivitas manusia,” jelasnya.
Dampak kesehatan spesifik terhadap bekantan di suatu lokasi tetap memerlukan pembuktian melalui pemeriksaan dan pemantauan langsung di lapangan. Hal itu penting agar penanganan konservasi tidak hanya didasarkan pada dugaan akibat asap atau kebakaran, melainkan pada kondisi nyata populasi dan habitat yang terdampak.
Pemulihan Tidak Berhenti Saat Api Padam
Keberhasilan memadamkan kebakaran menjadi langkah penting, tetapi bukan akhir dari upaya perlindungan satwa liar. Kawasan yang terbakar perlu dipantau selama masa pemulihan untuk melihat apakah vegetasi mulai tumbuh kembali, apakah pakan alami tersedia, serta apakah habitat masih dapat digunakan oleh bekantan.
Pemantauan pascakarhutla dapat mencakup kondisi tutupan tumbuhan, kualitas habitat, keberadaan kelompok bekantan, dan perubahan lingkungan di sekitar lokasi kebakaran. Langkah seperti ini membantu memastikan bahwa pemulihan tidak hanya terlihat pada berkurangnya titik api, tetapi juga pada kemampuan ekosistem menopang kehidupan satwa.
Stasiun Riset Bekantan Pulau Curiak menjadi salah satu kawasan yang terus diperhatikan dalam kegiatan pemantauan habitat. Fokusnya meliputi ketersediaan pakan alami, kondisi ruang hidup bekantan, serta perubahan lingkungan yang dapat memengaruhi kelangsungan populasi.
“Dalam konservasi, kita tidak boleh hanya mengukur keberhasilan dari berhasil atau tidaknya memadamkan api. Kita juga harus melihat apakah habitatnya masih mampu mendukung kehidupan bekantan setelah kebakaran terjadi,” katanya.
Kasus Balimau dan Pentingnya Perlindungan Area di Luar Konservasi
Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan menerima informasi mengenai 12 ekor bekantan yang mati terdampak karhutla di Desa Balimau, Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Kejadian ini menegaskan bahwa kebakaran dapat membawa dampak langsung terhadap satwa liar, terutama ketika api menjangkau kawasan yang menjadi tempat hidup dan jalur pergerakan mereka.
Populasi bekantan di Kalimantan Selatan pada 2025 diperkirakan sekitar 3.700 individu. Sekitar sepertiga di antaranya berada di wilayah konservasi. Sementara itu, dua pertiga lainnya hidup di luar kawasan konservasi, termasuk hutan produksi, hutan lindung, dan areal penggunaan lain atau APL.
Dua belas bekantan yang terdampak di Balimau berada di kawasan APL, yakni tanah milik desa setempat. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perlindungan bekantan tidak cukup hanya mengandalkan kawasan konservasi formal. Habitat satwa liar juga dapat berada di ruang yang berdekatan dengan permukiman, kegiatan masyarakat, dan berbagai bentuk penggunaan lahan.
BKSDA Kalimantan Selatan berkomitmen meneruskan pendataan kawasan APL yang menjadi habitat satwa liar. Pendataan menjadi bagian penting untuk mengenali lokasi yang perlu mendapat perhatian, terutama dalam pencegahan kebakaran dan perlindungan satwa ketika terjadi gangguan lingkungan.
Menjaga Bekantan Berarti Merawat Lahan Basah
Perlindungan habitat bekantan berkaitan erat dengan kesehatan ekosistem lahan basah secara lebih luas. Vegetasi yang terjaga membantu mempertahankan fungsi lingkungan di tepian sungai dan kawasan rawa. Kondisi hidrologi yang baik serta pencegahan kerusakan habitat juga memberi manfaat bagi masyarakat yang bergantung pada ekosistem tersebut.
“Ketika kita menjaga vegetasi ekosistem, menjaga kondisi hidrologi, dan mencegah kerusakan habitat, sesungguhnya kita juga sedang menjaga kehidupan masyarakat yang bergantung pada ekosistem tersebut,” paparnya.
Karhutla di Kalimantan Selatan karena itu perlu dipandang sebagai persoalan lingkungan dengan dampak berlapis. Selain perlindungan manusia dari asap, penanganannya perlu memasukkan pemulihan vegetasi, pengawasan habitat, dan keberlangsungan populasi bekantan. Upaya tersebut menjadi penting agar kawasan lahan basah tetap mampu menjalankan fungsinya bagi satwa liar maupun masyarakat di sekitarnya.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Karhutla di Kalsel ganggu habitat bekantan?
Karhutla di Kalsel ganggu habitat bekantan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Karhutla di Kalsel ganggu habitat bekantan matter?
Karhutla di Kalsel ganggu habitat bekantan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

