Kepala BPOM: AI Berpotensi Mempercepat Penemuan Obat
Beritaturah.com – Kepala BPOM Taruna Ikrar menyatakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dapat menjadi alat penting untuk mempercepat proses penemuan obat. Teknologi ini dinilai mampu membantu berbagai tahapan penelitian, mulai dari penyaringan awal molekul hingga simulasi dalam pengembangan calon obat. Dengan dukungan AI, pekerjaan yang melibatkan data dalam jumlah sangat besar dapat dilakukan lebih cepat dan efisien.
Pernyataan tersebut disampaikan Taruna Ikrar saat berada di Beijing. Dalam kunjungan itu, ia bertemu sejumlah mitra, termasuk National Medical Product Administration (NMPA) atau badan pengawas obat China. Ia juga menjadi pembicara dalam seminar kesehatan yang diselenggarakan Universitas Tsinghua dan bertemu dengan sejumlah pelaku industri medis.
Menurut Kepala BPOM, pengembangan obat baru membutuhkan proses panjang dan bertingkat yang dikenal sebagai Investigational New Drug. Tahapannya dimulai dari identifikasi molekul awal, yaitu pencarian molekul yang dapat berinteraksi dengan sasaran biologis atau disebut molekul hit. Proses ini dapat melibatkan penyaringan jutaan molekul sebelum peneliti menentukan kandidat yang layak dikembangkan lebih lanjut.
AI Membantu Tahap Penelitian dan Pengujian Obat
Setelah molekul awal ditemukan, penelitian berlanjut pada validasi molekul hit, pemilihan kandidat obat, serta pengujian praklinik. Uji praklinik mencakup penelitian in vitro menggunakan sel di laboratorium dan in vivo menggunakan hewan percobaan. Calon obat yang memenuhi persyaratan kemudian memasuki uji klinis fase I hingga fase III pada manusia, disertai berbagai tahap pengujian lainnya.
Kepala BPOM menjelaskan bahwa AI dapat membantu mempercepat sejumlah proses tersebut, termasuk uji praklinik dan simulasi. Teknologi ini juga dapat digunakan untuk mendeteksi partikel, protein, serta reseptor yang berkaitan dengan pengembangan obat. Dengan kemampuan mengolah dan menganalisis data dalam skala besar, AI dapat mendukung ilmuwan dalam menemukan pola yang relevan untuk penelitian.
“Ada proses pengujian obat yang lebih cepat dengan menggunakan AI, misalnya uji preklinis, uji simulasi, dan sebagainya dengan simulasi AI dengan demikian akan mempercepat penemuan obat,” kata Taruna Ikrar.
Selain obat-obatan, penerapan AI juga dapat berkaitan dengan pengembangan produk pangan. Taruna Ikrar mencontohkan pemanfaatan teknologi dalam pengembangan sel yang berpotensi mendukung produksi pangan di masa depan, termasuk kemungkinan daging yang tidak selalu berasal dari ternak. Namun, pemanfaatan teknologi tersebut tetap memerlukan pengawasan agar produk yang dihasilkan aman untuk masyarakat.
Penerapan AI dalam Pengawasan dan Regulasi BPOM
Taruna Ikrar menilai China telah banyak menggunakan AI dalam pengaturan dan pengawasan obat-obatan. Pengalaman tersebut dapat menjadi bahan pembelajaran bagi Indonesia. Menurutnya, AI merupakan alat bantu yang memudahkan pekerjaan karena dapat menangani proses dengan jumlah data yang mencapai jutaan hingga miliaran informasi secara lebih cepat.
Efisiensi bukan satu-satunya manfaat. Kepala BPOM juga menekankan bahwa penggunaan AI dapat membantu mengurangi risiko kesalahan manusia atau human error. Dalam kegiatan yang memerlukan pemeriksaan data secara berulang dan rinci, teknologi dapat mendukung proses kerja yang lebih presisi. Meski demikian, AI tetap berfungsi sebagai instrumen pendukung dan tidak menggantikan tanggung jawab manusia dalam mengambil keputusan pengawasan.
AI juga dapat dimanfaatkan untuk melacak obat yang beredar melalui penggunaan sistem barcode. Dengan pelacakan tersebut, informasi mengenai pergerakan produk dapat diperoleh, seperti lokasi distribusi, tempat penggunaan, dan pihak yang menggunakan produk. Sistem seperti ini dinilai dapat membantu meningkatkan keamanan dalam rantai distribusi obat.
“Jadi AI itu adalah alat, instrumen, tidak perlu takut, yang jelas, Badan POM sudah memastikan kita tidak akan mengesahkan sesuatu yang tidak aman,” tegas Taruna Ikrar.
Dalam materi mengenai “AI + New Medical Technology Conference” pada seminar “International Biomedical Industry Innovation Conference Beijing Forum” di Universitas Tsinghua, ia menyampaikan bahwa AI dapat membantu regulator meningkatkan efisiensi. Teknologi ini juga dapat mempermudah proses sertifikasi serta membuat pelaksanaan regulasi menjadi lebih efektif dan praktis.
Kepala BPOM menyebut penerapan kecerdasan buatan di BPOM mencakup berbagai proses, antara lain sistem barcode, registrasi, penelitian, dan uji klinis yang dilakukan para ilmuwan. Data yang dihasilkan setiap tahun setelah penerapan AI dapat dianalisis untuk mendukung penyusunan standar yang lebih presisi. Dengan demikian, regulator dapat memiliki dasar yang lebih kuat dalam menilai keamanan dan kelayakan suatu produk sebelum tersedia bagi masyarakat.
FAQ: Peran AI dalam Pengawasan Obat di Indonesia
Apakah AI dapat menggantikan pengujian obat pada manusia?
Tidak. AI dapat membantu penelitian, simulasi, dan analisis data, tetapi pengembangan obat tetap melalui tahapan pengujian yang berlaku. Uji praklinik dan uji klinis pada manusia tetap menjadi bagian penting dalam penilaian keamanan dan efektivitas calon obat.
Bagaimana AI membantu keamanan obat yang beredar?
AI dapat mendukung pelacakan produk melalui sistem barcode, membantu analisis data, dan mengurangi kesalahan dalam proses administrasi maupun pengawasan. Informasi tersebut dapat memperkuat pengendalian distribusi obat.
Apakah semua produk dapat langsung disetujui karena menggunakan AI?
Tidak. Penggunaan AI tidak otomatis membuat suatu produk memperoleh persetujuan. BPOM tetap memastikan bahwa produk yang beredar memenuhi persyaratan keamanan dan kelayakan bagi masyarakat.

