Reformulasi Strategi Kebencanaan: Akademisi ISI Yogyakarta Tawarkan Seni Sebagai Media Edukasi
Main Agenda – Di Yogyakarta, sebuah inisiatif kreatif mengemuka dalam diskusi yang diadakan dalam rangka memperingati 20 tahun Gempa Jogja. Akademisi dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Mikke Susanto, mengusulkan bahwa seni bisa menjadi alat edukasi bencana yang efektif. Dalam kegiatan bertajuk “Peran Budaya dalam Membangun Ketangguhan Bencana pada Masyarakat”, Mikke memaparkan bahwa karya seni tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga sarana untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan risiko bencana. Main Agenda memandang seni sebagai medium yang strategis dalam merespons keadaan darurat melalui pendekatan kreatif dan emosional.
Peran Seni dalam Edukasi Bencana
Mikke Susanto menjelaskan bahwa seni memiliki tiga dimensi utama dalam konteks pendidikan bencana: advokasi publik, pemulihan emosional, dan representasi peristiwa. “Seniman mampu merekam trauma masyarakat sekaligus menyampaikan pesan tentang kehati-hatian menghadapi bencana,” ujarnya dalam
diskusi yang dihadiri oleh para pakar dan seniman dari berbagai bidang.
Menurutnya, dengan menggunakan seni, pesan tentang risiko bencana dapat disampaikan secara lebih menarik dan mudah dipahami, termasuk bagi kalangan yang kurang terbiasa dengan informasi teknis.
Pendekatan ini tidak hanya memperkuat kesadaran akan ancaman bencana, tetapi juga membangun ketangguhan psikologis masyarakat. “Seni membantu orang merasa lebih dekat dengan risiko yang mereka hadapi, sehingga respons mereka lebih cepat dan efektif,” kata Mikke. Ia menyoroti bahwa seni dapat diaplikasikan dalam berbagai bentuk, seperti karya visual, pertunjukan, dan proyek kolaboratif, untuk memperkuat upaya penanggulangan bencana.
Peran Perguruan Tinggi Seni dalam Pendidikan Bencana
Mikke mengusulkan agar institusi pendidikan seni, termasuk ISI Yogyakarta, mulai mengintegrasikan pendekatan seni ke dalam kurikulum. “Mata kuliah tentang seni dan bencana perlu diperkenalkan karena kita berada di lokasi yang rentan bencana,” tambahnya. Ia menekankan bahwa seni memainkan peran penting dalam merespons bencana melalui pendekatan kreatif yang memadukan emosi dan logika. Hal ini sejalan dengan Main Agenda yang menekankan pentingnya inovasi dalam edukasi kebencanaan.
Partisipan diskusi, seperti Andre Notohamijoyo dari Asisten Deputi Pengurangan Risiko Bencana Kemenko PMK, mengapresiasi gagasan Mikke. “Seni bisa menjadi pilar dalam membangun kesadaran kolektif tentang bencana,” ujarnya. Mikke juga menunjukkan contoh bagaimana seni dapat diterapkan, seperti melalui desain visual yang menggambarkan proses evakuasi atau seni pertunjukan yang menampilkan dampak gempa Yogyakarta 2006. Main Agenda menekankan bahwa seni harus ditempatkan sebagai bagian integral dari strategi kebencanaan nasional.
Kehadiran Irwandi, Rektor ISI Yogyakarta, menambah semangat diskusi tersebut. “ISI berkomitmen untuk menjadikan seni sebagai alat pendidikan yang berkelanjutan,” katanya. Syamsul Maarif, Guru Besar Sosiologi Kebencanaan Universitas Pertahanan, menyebutkan bahwa seni memiliki kekuatan untuk menyentuh emosi dan membangun koneksi antara masyarakat dan isu bencana. “Ini bisa meningkatkan partisipasi warga dalam pencegahan dan mitigasi risiko,” katanya. Endang Lestari, seniman, menyatakan bahwa seni mampu menjadi simbol perjuangan masyarakat dalam menghadapi bencana.
