Humaniora

Manggala Agni: Luas karhutla di Riau Januari-Mei capai 15.318 hektare

Manggala Agni: Luas Karhutla di Riau Januari-Mei Capai 15.318 Hektare

Manggala Agni, program nasional pengendalian kebakaran hutan dan lahan yang dikelola oleh Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (BPKH) Wilayah Sumatera, terus menjadi penanda penting dalam memantau kondisi lingkungan di Indonesia. Berdasarkan laporan terbaru, total luas area yang terbakar di Provinsi Riau pada Januari hingga Mei 2026 mencapai 15.318 hektare. Angka ini menunjukkan tren peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan kontribusi dominan dari lahan gambut yang mencapai 14.162,6 hektare, sedangkan lahan mineral tercatat 1.155,4 hektare.

Perbandingan Tahunan dan Rekor Tertinggi

“Data luasan karhutla Januari-Mei 2026 diperoleh dari analisis citra satelit yang dikolaborasikan antara Kementerian Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup, serta Badan Riset dan Inovasi Nasional,” ujar Ferdian Krisnanto, Kepala BPKH Wilayah Sumatera, dalam keterangan yang diterima di Pekanbaru, Rabu.

Dalam periode yang sama tahun 2025, luas area terbakar hanya sekitar 751,1 hektare, yang menunjukkan penurunan signifikan. Namun, di tahun 2026, angka ini kembali meningkat menjadi 15.318 hektare, mencatat rekor tertinggi sejak tahun 2019. Tahun 2019, tercatat luas area terbakar mencapai 27.724 hektare, sedangkan pada tahun 2021, 2022, 2023, dan 2024, angka tersebut berada di bawah 6.000 hektare. Peningkatan ini menimbulkan kekhawatiran akan dampak lingkungan yang lebih besar, terutama terhadap kualitas udara dan ekosistem.

Daerah Terdampak Terbesar di Riau

Bengkalis menjadi daerah dengan luas lahan terbakar terbesar, yakni 8.237,0 hektare, terdiri dari 219,4 hektare lahan mineral dan 8.017,6 hektare lahan gambut. Selain itu, Kabupaten Pelalawan mencatat luas api terbakar sebesar 4.538,8 hektare, dengan distribusi 210,3 hektare mineral dan 4.328,4 hektare gambut. Kabupaten Indragiri Hilir terdampak sekitar 947,2 hektare, dengan rasio area mineral sebesar 423,5 hektare dan gambut 523,7 hektare.

Kota Dumai melaporkan 600,9 hektare lahan terbakar, di mana 528,3 hektare di antaranya adalah lahan gambut. Daerah-daerah ini menunjukkan bahwa kebakaran hutan dan lahan tidak hanya menyebar di sektor pertanian, tetapi juga mengancam hutan primer dan ekosistem alami. Dengan dominasi lahan gambut, faktor kelembapan tanah yang rendah menjadi penyumbang utama fluktuasi tinggi ini.

Manggala Agni berperan penting dalam mendeteksi titik api sejak awal, terutama melalui penggunaan teknologi satelit dan patroli udara. Kegiatan ini didukung oleh tim terpadu yang terdiri dari personel dari berbagai instansi terkait, termasuk Polri, TNI, dan organisasi masyarakat. Ferdian menegaskan bahwa upaya pencegahan dilakukan secara berkelanjutan, melalui patroli darat dan udara, serta kampanye sosialisasi di desa-desa rentan kebakaran.

Menurut Ferdian, meningkatnya luasan karhutla di Riau juga dipengaruhi oleh faktor manusia seperti aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar dan kurangnya kesadaran masyarakat akan dampak lingkungan. Ia menambahkan bahwa perluasan titik api seringkali terjadi karena kecepatan respons yang tidak memadai, sehingga kebakaran berpotensi melebar ke wilayah lain. Dengan adanya Manggala Agni, keberadaan sekat bakar dan upaya pemadaman dini diharapkan dapat meminimalisir kerugian lebih besar.

Kebakaran hutan dan lahan yang meluas di Riau tidak hanya menimbulkan konsekuensi lokal, tetapi juga berdampak pada wilayah sekitar, termasuk Sumatera Selatan dan Jambi. Kualitas udara di beberapa daerah sempat memburuk akibat asap yang dihasilkan, mengganggu kehidupan masyarakat dan menyebabkan peningkatan kasus gangguan pernapasan. Ferdian menyoroti perlunya kerja sama lintas sektor untuk memastikan pengendalian yang lebih efektif.

Manggala Agni tidak hanya menjadi pilar dalam pengendalian karhutla, tetapi juga terus beradaptasi dengan tantangan baru. Dengan inovasi teknologi seperti drone dan sistem pemantauan berbasis data, program ini mampu meningkatkan efisiensi dalam deteksi dini dan respons cepat. Ferdian berharap, keberhasilan penanganan di Riau dapat menjadi contoh bagi provinsi lain dalam menghadapi musim kemarau yang semakin ekstrem.

Leave a Comment