Humaniora

Mendiktisaintek soroti krisis makna manusia modern di ITS

Mendiktisaintek: Krisis Makna dalam Kehidupan Manusia Modern

Mendiktisaintek soroti krisis makna manusia modern – Surabaya – Dalam acara Kajian Subuh Spesial yang berlangsung di Masjid Manarul Ilmi, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Brian Yuliarto, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, menyampaikan pesan tentang tantangan makna yang dihadapi generasi muda di tengah kehidupan modern. Acara tersebut diadakan pada Sabtu, dengan tema “Subuh, 10 Hari Dzulhijjah, dan Kekuatan Doa”.

Krisis Makna dalam Kehidupan Serba Cepat

Brian Yuliarto mengingatkan bahwa kesibukan mengejar pencapaian seringkali membuat manusia kehilangan koneksi batin dengan Tuhan. “Terkadang, kita terlalu fokus pada kesuksesan hingga melupakan pentingnya memperkuat semangat,” ujarnya. Ia menyoroti betapa berisik dan kompetitifnya dunia saat ini, yang bisa mengaburkan tujuan hidup.

“Ilmu bisa membuat seseorang pintar. Tapi, iman dan kedekatan kepada Allah yang membuat manusia tetap jujur ketika memiliki kekuasaan,”

Dalam kesempatan itu, Brian menyatakan bahwa kehidupan modern tidak boleh menghilangkan kebutuhan untuk menjaga hubungan spiritual dengan Sang Pencipta. Menurutnya, shalat Subuh berjamaah bukan sekadar rutinitas ibadah, tetapi juga wujud disiplin dan kekuatan iman yang mendasari pembentukan kepribadian.

Peran Perguruan Tinggi dalam Membangun Karakter

Brian menekankan bahwa universitas tidak hanya bertugas menghasilkan lulusan berprestasi, tetapi juga mengasah manusia yang peduli pada kehidupan sosial dan memiliki prinsip moral. Ia berargumen bahwa pertumbuhan bangsa memerlukan kombinasi kecerdasan intelektual serta fondasi spiritual agar muncul individu yang berintegritas dan berempati.

Menghadapi tekanan global dan kompetisi yang ketat, generasi muda rentan mengalami kelelahan mental. “Banyak dari mereka kehilangan arah karena merasa terasing dari nilai-nilai kehidupan,” imbuhnya. Ia menyarankan momentum 10 hari pertama Dzulhijjah sebagai kesempatan untuk memperkuat spiritualitas melalui berbagai amalan seperti puasa sunnah, sedekah, dzikir, dan doa.

“Jangan pernah remehkan doa. Ada banyak hal dalam hidup yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan logika dan kerja keras,”

Acara yang dihadiri oleh sivitas akademika ITS dan masyarakat umum ini menegaskan pentingnya keseimbangan antara kemajuan teknologi dan kehidupan bermakna. Brian Yuliarto menegaskan bahwa doa adalah alat penting dalam menghadapi tantangan yang melampaui kemampuan akal.

Leave a Comment