What Happened During: Khofifah Dorong Membaca sebagai Gaya Hidup Anak Muda
What Happened During, acara perayaan Hari Buku Nasional yang diadakan di Surabaya, menjadi momen penting bagi Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa untuk menekankan bahwa membaca harus menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari, terutama bagi generasi muda. Di tengah era digital yang semakin menguasai, Khofifah berharap anak-anak dan remaja dapat kembali merasakan manfaat kebiasaan membaca yang menginspirasi dan mengembangkan kemampuan berpikir.
Perayaan Hari Buku Nasional dan Pentingnya Literasi
What Happened During menyajikan perayaan Hari Buku Nasional yang jatuh pada 17 Mei sebagai momentum untuk membangun budaya literasi di masyarakat. Dalam acara tersebut, Khofifah menyoroti peran Perpustakaan Nasional (Perpusnas) yang didirikan pada 1980 sebagai pusat pengembangan wawasan dan peningkatan kesadaran akan pentingnya baca tulis. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar acara rutin, tapi upaya strategis untuk menyelaraskan minat baca dengan kebutuhan generasi muda yang berkompetisi di dunia yang semakin kompleks.
“Literasi adalah fondasi utama kemajuan bangsa. Karena itu, budaya membaca harus dibangun sejak dini agar lahir generasi yang cerdas, kritis, dan berkarakter,” kata Khofifah di Surabaya, Minggu.
What Happened During menekankan bahwa literasi memerlukan kolaborasi antara berbagai pihak, termasuk keluarga, sekolah, dan komunitas. Khofifah menyatakan, pembinaan kebiasaan membaca harus dilakukan secara berkelanjutan dan kreatif agar tidak tergantikan oleh kebiasaan bermain gadget. Dalam pidatonya, ia juga meminta masyarakat untuk menyisihkan waktu setiap hari untuk membaca, karena kegiatan ini dapat mengembangkan kreativitas dan mengurangi ketergantungan pada media digital.
Inisiatif Khofifah untuk Meningkatkan Minat Baca
What Happened During menggambarkan berbagai inisiatif yang diluncurkan oleh Khofifah untuk mendorong minat baca anak muda. Salah satunya adalah program penguatan komunitas lokal, seperti desa dan kelurahan, melalui lomba dan kegiatan inovatif yang relevan dengan kebutuhan generasi muda. Ia menegaskan bahwa kegiatan tersebut bertujuan untuk membuat membaca tidak hanya menjadi kebutuhan, tetapi juga hiburan yang menyenangkan.
“Mari kita sisihkan waktu setiap hari untuk membaca. Karena dengan membaca, kita bisa menjelajahi dunia tanpa harus ke mana-mana,” ajak Khofifah.
What Happened During menyoroti bahwa perayaan ini sekaligus merayakan ulang tahun ke-46 Perpusnas, yang menjadi saksi bisik peran buku dalam membangun peradaban. Khofifah menyampaikan bahwa pemerintah daerah akan terus memperkuat kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk perpustakaan, sekolah, dan organisasi, untuk menciptakan lingkungan yang mendukung kebiasaan membaca. Ia menambahkan bahwa bacaan yang bermutu dan relevan dengan masa kini harus disediakan agar masyarakat tidak kehilangan minat terhadap literasi.
What Happened During juga menghadirkan berbagai kegiatan edukatif, seperti pelatihan pengelolaan perpustakaan, pameran buku, dan dialog dengan para penulis. Dalam acara tersebut, Khofifah berharap masyarakat dapat menjadikan hari ini sebagai langkah awal untuk membangun kebiasaan membaca yang terus berkembang. Ia menekankan bahwa budaya membaca harus ditingkatkan, bukan hanya untuk anak-anak, tetapi juga bagi semua lapisan usia.
What Happened During menegaskan bahwa tantangan utama dalam meningkatkan minat baca adalah menghadapi dunia digital yang menarik perhatian anak muda. Khofifah menyarankan bahwa perpustakaan dan lembaga pendidikan perlu berinovasi dengan menyediakan platform pembelajaran yang menyenangkan dan interaktif. Dengan demikian, anak-anak tidak hanya bisa menikmati bacaan, tetapi juga belajar untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreativitas.
