Internasional

BOJ naikkan proyeksi ekonomi tahun fiskal 2026, suku bunga tetap

Foto : Jennifer Jackson - beritaturah.com

Bank Sentral Jepang Pertahankan Suku Bunga, Naikkan Proyeksi Pertumbuhan

Beritaturah.com – Jakarta – Bank of Japan (BOJ) pada hari Jumat memutuskan untuk tidak mengubah suku bunga acuan yang berada di kisaran 1,0 persen. Keputusan ini diambil setelah bank sentral tersebut melakukan kenaikan sebelumnya ke level tertinggi dalam tiga dekade lebih. Di saat bersamaan, otoritas moneter Jepang juga meningkatkan perkiraan pertumbuhan ekonomi untuk tahun fiskal 2026 yang akan dimulai pada bulan April, meskipun situasi tegang di kawasan Timur Tengah masih berlangsung. Langkah ini menunjukkan kepercayaan bank sentral terhadap pemulihan ekonomi domestik yang berkelanjutan.

Setelah menyelesaikan rapat kebijakan moneter selama dua hari penuh, pihak bank sentral menegaskan komitmen untuk terus menaikkan suku bunga. Langkah ini bertujuan mencapai target inflasi sebesar dua persen secara berkelanjutan. BOJ juga menjelaskan bahwa penentuan waktu serta kecepatan kenaikan suku bunga akan mempertimbangkan beberapa faktor kunci, termasuk dinamika di Timur Tengah, peningkatan permintaan akibat teknologi kecerdasan buatan (AI), dan pergerakan nilai tukar yen. Para analis pasar menilai bahwa pendekatan bertahap ini akan membantu stabilitas ekonomi jangka panjang.

Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Diperbaiki

Dalam laporan prospek ekonomi triwulanan terbaru, BOJ memproyeksikan ekonomi Jepang akan tumbuh sebesar 0,6 persen pada tahun fiskal 2026. Angka ini lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya yang hanya sebesar 0,5 persen. Meskipun konflik antara Amerika Serikat dan Iran diprediksi memberikan tekanan pada aktivitas ekonomi selama tahun fiskal 2026, pertumbuhan tetap ditopang oleh berbagai faktor positif. Salah satunya adalah meningkatnya permintaan global terhadap teknologi AI yang mendorong sektor teknologi dan manufaktur Jepang.

Untuk tahun fiskal berikutnya, yaitu 2027, bank sentral menaikkan proyeksi pertumbuhan menjadi 0,8 persen dari sebelumnya 0,7 persen. BOJ menilai bahwa dampak negatif dari tingginya harga minyak mentah akan semakin berkurang. Selain itu, “siklus positif dari pendapatan ke belanja akan semakin menguat secara bertahap,” sesuai dengan pernyataan dalam laporan tersebut. Siklus ini mencerminkan peningkatan daya beli masyarakat yang didukung oleh kenaikan upah di berbagai sektor industri.

Inflasi dan Risiko ke Depan

Indeks harga konsumen inti, yang tidak memasukkan komponen pangan segar yang cenderung bergejolak, diperkirakan naik sebesar 2,5 persen pada tahun fiskal 2026. Angka ini lebih rendah dibandingkan proyeksi 2,8 persen yang dirilis pada bulan April. Dengan dunia usaha yang terus meneruskan kenaikan upah ke harga jual, ditambah tingginya harga minyak mentah dan melemahnya nilai tukar yen, BOJ memperkirakan indeks harga konsumen akan “meningkat hingga berada jauh di atas dua persen mulai paruh kedua tahun fiskal 2026.”

“Mengenai inflasi inti indeks harga konsumen (CPI), terdapat risiko bahwa inflasi akan menyimpang ke atas hingga berada di atas target stabilitas harga sebesar dua persen,” demikian tertulis dalam laporan tersebut.

Dari sembilan anggota Dewan Kebijakan BOJ, Hajime Takata menjadi satu-satunya yang menolak keputusan mempertahankan suku bunga jangka pendek utama. Ia mengusulkan kenaikan suku bunga menjadi sekitar 1,25 persen dengan alasan perlunya merespons risiko kenaikan inflasi yang semakin nyata. Perbedaan pandangan ini menunjukkan bahwa bank sentral masih memantau perkembangan ekonomi dengan cermat sebelum mengambil langkah lebih jauh.

Keputusan BOJ untuk tidak mengubah suku bunga kali ini juga mencerminkan kehati-hatian terhadap ketidakpastian global. Meskipun proyeksi ekonomi telah ditingkatkan, bank sentral ingin memastikan bahwa tekanan inflasi tidak menjadi terlalu tinggi sebelum melakukan kenaikan lebih lanjut. Para ekonom pasar mengharapkan bahwa kebijakan moneter Jepang akan tetap bersifat data-dependent dalam beberapa bulan ke depan.

Leave a Comment