RI kecam tindakan tak manusiawi Israel pada relawan GSF dalam tahanan
RI kecam tindakan tak manusiawi Israel – Dari Jakarta, Indonesia menyampaikan kecaman terhadap tindakan kekerasan dan penganiayaan yang dialami para relawan flotilla kemanusiaan dalam misi ke Jalur Gaza. Menteri Luar Negeri (Menlu) RI, Sugiono, menyatakan bahwa pemerintah kembali menegaskan protesnya terhadap perlakuan kasar yang diterima individu yang berupaya meredakan penderitaan warga Palestina.
Pernyataan Menlu RI
Martabat warga sipil dalam upaya kemanusiaan dihina oleh tindakan zalim yang dilakukan otoritas Zionis Israel, menurut Sugiono. Ia menegaskan bahwa perlakuan tersebut merupakan pelanggaran terhadap hukum internasional, khususnya terhadap peserta Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0.
Sugiono menuturkan bahwa penganiayaan terhadap relawan tersebut mengakibatkan luka serius, serta tindakan seperti pemukulan, penggunaan taser, dan penembakan peluru karet. Peristiwa ini dinilainya sebagai bentuk pelecehan yang tidak bisa diterima dalam konteks hukum humaniter.
Selain itu, Menlu RI mengungkapkan bahwa sembilan warga negara Indonesia (WNI) yang diculik oleh Israel dalam pelayaran GSF 2.0 telah dibebaskan dan kini dalam perjalanan keluar dari wilayah tersebut. Mereka akan diantar ke Istanbul, Turki, sebelum akhirnya kembali ke tanah air.
Sugiono juga menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak di dalam dan luar negeri yang mendukung proses pemulangan seluruh WNI. Ia khusus menuturkan rasa terima kasih kepada pemerintah Turki yang turut serta membantu upaya ini.
Bukti Penganiayaan
Para relawan GSF dikabarkan mengalami perlakuan berat sebelum dibebaskan. Setelah kapal mereka disergap oleh pasukan Zionis, mereka ditempatkan dalam tahanan dan menerima perlakuan yang dianggap tidak manusiawi. Sejumlah video yang beredar di media sosial memperlihatkan kondisi tersebut.
Dalam salah satu rekaman, pejabat keamanan nasional rezim Zionis, Itamar Ben-Gvir, terlihat menghina aktivis pro-Palestina yang diikat dan dipaksa berlutut selama penahanan. Tindakan ini menjadi bukti nyata kekerasan yang diterima para relawan.
