Benteng Amsterdam, saksi bisu kejayaan rempah di Negeri Hila, Maluku
Historic Moment – Negeri Hila, Maluku (ANTARA) – Sebuah perjalanan kurang dari setengah jam dari kota Ambon membawa pengunjung ke lokasi bersejarah yang masih terawat: Benteng Amsterdam. Jarak tempuh mencapai 42 km, cukup jauh dibandingkan kepadatan lalu lintas di ibu kota Jakarta. Perjalanan dari pusat kota Ambon ke lokasi ini mengalami perubahan dramatis. Mulai dari jalanan bercorak modern di kawasan perkantoran dan toko-toko kecil, pengemudi mobil mulai melewati desa-desa yang terlihat lebih sepi dan alami. Suasana kota yang sibuk berubah menjadi suasana pedesaan yang tenang, dengan rumah-rumah sederhana yang disusun rapi di sepanjang jalan. Di tepi jalan, warga setempat berjualan ikan segar, menawarkan hasil tangkapan hari itu. Beberapa masjid juga tampak mencolok, menjadi simbol keberagaman budaya di wilayah ini.
Benteng Amsterdam, yang terletak di Negeri Hila, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku, pada siang hari dipenuhi pengunjung. Rombongan dosen dan mahasiswa tampak berkerumun, menunggu pertunjukan tradisional yang berlangsung di depan bangunan bersejarah itu. Tenda biru yang menghiasi area menjadi perlindungan dari sinar matahari terik. Pengunjung duduk rapi, sambil bercerita dan bermain sambil menunggu pertunjukan bambu gila yang menarik perhatian banyak orang. Suara tertawa dan teriakan kecil terdengar dari penonton ketika melihat teman-teman mereka bergerak liar selama permainan yang terkenal.
Kejayaan rempah di Maluku, terutama di Negeri Hila, bisa dilihat melalui keberadaan Benteng Amsterdam. Bangunan ini dulu menjadi pusat perdagangan rempah-rempah seperti cengkeh dan kayu manis. Sebagai saksi bisu sejarah, benteng ini memiliki nilai budaya yang tinggi. Aktivitas yang berlangsung di sini tidak hanya sekadar pertunjukan, tetapi juga menggambarkan kehidupan sosial masyarakat setempat. Selain itu, Benteng Amsterdam sering menjadi tempat untuk berbagai acara budaya, termasuk perayaan tradisi dan sosialisasi.
Pertunjukan bambu gila yang digelar di depan benteng menjadi bagian dari upaya melestarikan budaya lokal. Permainan ini melibatkan partisipasi aktif dari penonton, membuat suasana lebih hidup dan interaktif. Dalam pertunjukan tersebut, para peserta menggunakan bambu untuk menciptakan berbagai gerakan yang menghibur. Warga sekitar, termasuk pengunjung, terlihat antusias mengikuti permainan ini. Suara tawa dan teriakan menjadi bagian dari kemeriahan acara yang berlangsung sejak pagi hingga siang hari.
Damir Lating, seorang polisi khusus cagar budaya, memberikan penjelasan tentang peran Benteng Amsterdam dalam sejarah. “Buat masyarakat dan siapa pun yang mau datang ke sini, kami siap mengadakan acara di sini,” kata Damir kepada ANTARA pada April 2026. Menurutnya, benteng ini tidak hanya menjadi lokasi penting bagi sejarah perdagangan, tetapi juga menjadi ruang yang dinamis untuk berbagai kegiatan budaya. Pertunjukan bambu gila, misalnya, adalah contoh bagaimana budaya lokal dihargai dan dipertahankan melalui cara yang menyenangkan.
Kehadiran Benteng Amsterdam juga memperkaya pengalaman wisatawan yang datang ke Maluku. Tempat ini memberikan kesan bahwa wilayah ini bukan hanya dikenal karena rempah-rempahnya, tetapi juga karena kekayaan budaya yang terus hidup. Aktivitas di sini menggambarkan bagaimana sejarah dan tradisi tidak terlepas dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Bahkan, acara-acara institusional seperti perpisahan pejabat dan acara sosialisasi sering berlangsung di sini, menunjukkan bahwa tempat ini tetap relevan dalam konteks budaya modern.
Penataan ruang di sekitar Benteng Amsterdam juga menjadi faktor penunjang bagi pengunjung. Bangunan bersejarah ini terletak di tengah desa yang terlihat asri, dengan pemandangan alam yang indah. Sebagian besar pengunjung berasal dari kota-kota besar, seperti Ambon, atau daerah lain di Maluku. Mereka tertarik untuk melihat langsung warisan budaya yang telah berdiri selama berabad-abad. Tidak hanya itu, pengunjung juga bisa merasakan suasana lokal yang hangat dan ramah.
Kegiatan budaya di Benteng Amsterdam terus berkembang seiring waktu. Meski dihiasi oleh tenda-tenda untuk keperluan acara, bangunan utama tetap terawat dengan baik. Dinding dan atapnya terlihat kokoh, dengan detail arsitektur yang menunjukkan pengaruh kolonial Belanda. Meski begitu, benteng ini tetap dihiasi oleh elemen tradisional lokal, seperti ukiran kayu dan warna cat yang mengingatkan pada kehidupan sehari-hari warga sekitar. Suasana yang khas menjadikan tempat ini menjadi favorit bagi wisatawan yang ingin merasakan sejarah di tengah lingkungan alam.
Aktivitas di sini tidak hanya menghibur, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi pengunjung. Penjelasan singkat tentang sejarah benteng, serta pentingnya rempah-rempah dalam peradaban Maluku, diberikan secara spontan oleh petugas setempat. Penjelasan tersebut membantu pengunjung memahami konteks historis dan budaya di balik kejayaan yang dulu menghiasi wilayah ini. Tidak heran, banyak wisatawan memandang Benteng Amsterdam sebagai simbol kejayaan rempah di Maluku.
Dalam rangka mempertahankan keberlanjutan benteng ini, pihak setempat terus berupaya menjaga konservasi. Selain itu, keberadaannya juga menjadi bukti bahwa sejarah bisa hidup kembali melalui kegiatan yang menarik. Meski berada di tengah desa, benteng ini tetap menjadi tempat yang dipilih oleh banyak orang untuk mengakses budaya dan sejarah Maluku. Pengunjung yang datang, baik dari dalam maupun luar negeri, merasakan pengalaman yang berbeda dari tempat wisata lain yang lebih terkenal.
Bagi masyarakat lokal, Benteng Amsterdam bukan hanya sebagai tempat sejarah, tetapi juga sebagai pusat kegiatan sosial. Aktivitas yang digelar di sini membantu memperkuat identitas budaya warga Negeri Hila. Dengan demikian, benteng ini menjadi wadah yang unik, menggabungkan nilai sejarah dan kehidupan masyarakat. Keberadaannya terus menjadi saksi bisu bagaimana kejayaan rempah di Maluku tidak hanya memengaruhi ekonomi, tetapi juga membangun kehidupan budaya yang berkelanjutan.
