Asap Karhutla Landa Tujuh Provinsi: Warga Diimbau Pantau Indeks Kualitas Udara Sebelum Keluar Rumah
Beritaturah.com – Pakar – Lebih dari lima juta penduduk di tujuh provinsi kini terpapar asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Indonesia pada musim kemarau 2026. Kementerian Kesehatan mencatat angka tersebut mencakup wilayah Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Jambi, Riau, dan Sumatera Selatan. Seluruh daerah itu telah menetapkan status siaga darurat bencana karhutla, menandai skala krisis yang belum pernah terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Di tengah situasi tersebut, para ahli kesehatan paru-paru menekankan satu hal krusial: masyarakat harus memiliki akses informasi yang jelas mengenai kadar polutan udara di lingkungan mereka sebelum memutuskan untuk beraktivitas di luar ruangan.
Indeks Kualitas Udara sebagai Kompas Harian
Prof. Tjandra Yoga Aditama, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia sekaligus Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), menegaskan bahwa indikator kualitas udara bukan sekadar angka teknis, melainkan alat navigasi harian bagi setiap warga. Sistem klasifikasi berwarna — merah, kuning, dan hijau — yang diperbarui secara berkala oleh otoritas setempat memberi tahu masyarakat apakah udara di sekitar mereka aman untuk bernapas atau sudah berada pada level berbahaya.
“Ada penjelasan dari pemerintah ke masyarakat di lokasi itu kadarnya berapa saat ini, sesuai dengan indikator yang ada.”
Tjandra menjelaskan bahwa rekomendasi ini sejalan dengan pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang mengimbau setiap negara menyediakan informasi real-time tentang konsentrasi polutan udara. Bagi warga biasa, pengelola sekolah, hingga pemerintah daerah, data tersebut menjadi dasar pengambilan keputusan: apakah anak-anak tetap masuk kelas, apakah pekerja harus berangkat ke kantor, atau apakah seluruh aktivitas luar ruangan perlu ditunda.
“Kalau sudah merah ya jangan keluar rumah, itu pantes untuk sekolah dari rumah, kerja dari rumah. Tapi kalau yang masih kuning ya itu mungkin masih bisa dipertimbangkan tergantung juga apakah sekolahnya punya fasilitas yang cukup baik untuk membuat udara di dalam kelas itu cukup bersih.”
Implikasinya langsung menyentuh kehidupan sehari-hari. Di daerah yang indeks udaranya berkedip merah, sekolah-sekolah diimbau mengalihkan kegiatan belajar ke rumah sementara waktu, sementara kantor dapat menerapkan kebijakan kerja jarak jauh. Sebaliknya, pada level kuning, keputusan menjadi lebih kontekstual: kualitas ventilasi ruang kelas, ketersediaan penyaring udara, dan kondisi kesehatan individu menjadi faktor penentu.
Pilihan Masker Sesuai Tingkat Bahaya
Bagi mereka yang terpaksa keluar rumah — entah untuk bekerja, bersekolah, atau memenuhi kebutuhan mendesak — penggunaan masker menjadi langkah proteksi minimum. Tjandra menekankan bahwa jenis masker harus disesuaikan dengan kepekatan asap di lapangan. Petugas pemadam kebakaran hutan, yang bekerja langsung di zona kebakaran, disarankan memakai respirator, bukan sekadar masker kain. Sementara itu, masyarakat umum yang harus bepergian ke kantor atau sekolah sebaiknya memilih masker dengan filtrasi setinggi mungkin.
“Jadi anjurannya ya pakai masker sebagus mungkin, kalau bisa N95 lebih bagus.”
Masker N95, yang mampu menyaring partikel berukuran 0,3 mikron dengan efisiensi minimal 95 persen, memang menjadi standar emas untuk perlindungan terhadap partikulat halus (PM2.5) yang dominan dalam asap karhutla. Namun, ketersediaan masker jenis ini di daerah terpencil Kalimantan atau Sumatera kerap terbatas, sehingga masyarakat perlu mencari alternatif terbaik yang dapat dijangkau.
Menutup Pintu Masuk Asap di Dalam Rumah
Di dalam ruangan, langkah sederhana namun efektif adalah menutup celah-celah yang memungkinkan udara luar masuk: jendela, ventilasi, dan celah pintu. Tjandra juga menyebut penyaring udara (air purifier) sebagai opsi tambahan bagi rumah tangga yang sudah memilikinya, tetapi dengan catatan penting: perangkat tersebut tidak selalu mampu menanggulangi asap yang sangat pekat.
“Kalau punya air purifier silakan gunakan, tapi bukan artinya semua orang di dalam ruangan mesti beli air purifier sekarang. Karena sekali lagi tergantung dari berapa pekatnya asap. Kita kan enggak tahu kemampuan air purifier itu bisa mengencangkan sedalam apa.”
Pernyataan ini menjadi pengingat bahwa teknologi rumah tangga memiliki batas. Pada puncak musim kebakaran, konsentrasi partikulat dapat melampaui kapasitas penyaring rumah tangga, sehingga isolasi fisik ruangan dan pengurangan paparan tetap menjadi prioritas utama.
Peringatan Khusus untuk Kelompok Rentan
Tjandra menggarisbawahi bahwa kelompok lansia, anak-anak, ibu hamil, serta penderita penyakit kronis (komorbid) berada pada risiko paling tinggi. Asap yang terisap setiap menit mempercepat perburukan kondisi paru-paru dan jantung. Ia mendesak agar keluhan seperti batuk atau pilek tidak ditunda hingga berhari-hari.
“Jadi jangan tunggu dua tiga hari karena di sekitar kita menit demi menit kan terisap asap itu. Hari ini ada keluhan hari ini berobat ke fasilitas kesehatan supaya apa yang mau dilakukan. Mereka yang sudah punya penyakit misalnya asma mesti sesuaikan obatnya.”
Pasien asma, misalnya, perlu segera berkonsultasi dengan dokter untuk penyesuaian dosis inhaler atau penambahan obat pengontrol, karena paparan asap berkepanjangan dapat memicu eksaserbasi yang sulit dikendalikan dengan obat rutin.
Skala Dampak Kesehatan yang Tercatat
Data resmi Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa hingga akhir Agustus 2026, lebih dari 50 ribu kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) telah tercatat di wilayah terdampak. Hampir 40 ribu di antaranya terjadi pada kelompok usia di atas lima tahun, termasuk lansia — angka yang mencerminkan bahwa paparan asap tidak lagi terbatas pada anak-anak, melainkan menjangkau seluruh rentang usia. Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, menyatakan bahwa dampak kesehatan karhutla tahun ini tergolong sangat serius dan memerlukan respons lintas sektor yang berkelanjutan.
Bagi masyarakat di tujuh provinsi tersebut, pesan utamanya sederhana namun mendesak: pantau indeks kualitas udara setiap pagi sebelum keluar rumah, siapkan masker berfiltrasi tinggi untuk aktivitas yang tidak dapat dihindari, pastikan ruangan tertutup rapat saat asap pekat, dan jangan menunda kunjungan ke fasilitas kesehatan ketika gejala pernapasan muncul. Dalam krisis yang diukur dalam hitungan menit paparan, setiap jam penundaan berarti tambahan partikel yang masuk ke paru-paru.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Pakar?
Pakar is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Pakar matter?
Pakar matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

