Lintas Kota

Dinkes DKI: Paparan abu vulkanik picu sesak napas dan perburuk asma

khrisna-edit-1788669030-99fc340af7

Dinkes DKI Peringatkan: Abu Vulkanik Berpotensi Picu Sesak Napas dan Memperburuk Asma

Beritaturah.com – Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, yang kerap disebut Dinkes DKI, mengeluarkan imbauan resmi agar seluruh warga ibu kota mengambil langkah perlindungan diri dari paparan abu vulkanik. Kepala Dinkes DKI, Ani Ruspitawati, menjelaskan bahwa partikel abu vulkanik berukuran sangat halus mampu menembus saluran pernapasan, mengiritasi mata, serta menimbulkan reaksi pada kulit. Dalam siaran pers yang disampaikan di Jakarta pada hari Minggu, Ani menegaskan bahwa paparan berkepanjangan dapat memicu batuk, iritasi tenggorokan, sesak napas, dan memperburuk kondisi penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) maupun asma.

“Paparan abu vulkanik dapat memicu batuk, iritasi tenggorokan, sesak napas, serta memperburuk penyakit pernapasan seperti asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK),” ujar Ani Ruspitawati.

Gejala yang muncul tidak terbatas pada sistem pernapasan. Warga yang terpapar abu vulkanik juga dapat merasakan mata perih, kemerahan, dan sensasi mengganjol. Pada kulit, paparan partikel halus tersebut memicu rasa gatal serta iritasi ringan hingga sedang. Kelompok yang paling rentan meliputi anak-anak, lansia, ibu hamil, serta individu yang sudah memiliki riwayat gangguan pernapasan kronis. Bagi kelompok ini, Dinkes DKI menekankan pentingnya kewaspadaan ekstra selama kondisi abu vulkanik masih berlangsung di wilayah Jakarta.

Panduan Praktis Melindungi Diri dan Keluarga dari Paparan Abu Vulkanik

Untuk meminimalkan risiko kesehatan, Dinkes DKI merekomendasikan sejumlah langkah konkret yang dapat dilakukan di rumah maupun saat beraktivitas di luar. Pertama, batasi waktu berada di ruang terbuka, terutama pada jam-jam ketika konsentrasi abu di udara meningkat. Kedua, pastikan seluruh pintu dan jendela tertutup rapat agar partikel tidak masuk ke dalam ruangan. Ketiga, apabila terpaksa keluar rumah, gunakan masker berstandar KN95 atau N95 beserta kacamata pelindung untuk menghalau partikel yang melayang.

Sesampai di rumah, segera mandi dan keramas untuk menghilangkan partikel yang menempel di kulit dan rambut. Ganti pakaian yang dikenakan saat beraktivitas di luar, lalu cuci pakaian tersebut secara terpisah dari cucian keluarga agar abu tidak berpindah ke pakaian lain. Saat membersihkan abu yang menumpuk di atap, kendaraan, atau halaman, kenakan masker, kacamata pelindung, sarung tangan, pakaian lengan panjang, dan sepatu tertutup. Ani特别提醒 mengingatkan agar abu tidak disapu dalam keadaan kering karena gerakan sapu akan mengangkat kembali partikel ke udara dan meningkatkan risiko inhalasi.

Sebagai alternatif, basahi abu secara secukupnya sebelum membersihkannya. Namun, hindari penyiraman berlebihan karena air yang berlebihan dapat menggumpalkan abu dan menyumbat saluran pembuangan air di sekitar rumah. Apabila keluhan seperti sesak napas yang memburuk, batuk yang tidak kunjung reda, nyeri dada, atau gangguan penglihatan muncul setelah terpapar abu, segera kunjungi fasilitas pelayanan kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan medis.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Abu Vulkanik dan Kesehatan

Apakah masker biasa cukup untuk melindungi dari abu vulkanik? Tidak. Dinkes DKI secara spesifik menganjurkan masker KN95 atau N95 karena partikel abu vulkanik berukuran sangat halus dan dapat lolos dari masker kain atau masker bedah biasa.

Bagaimana cara membersihkan abu di atap atau halaman tanpa meningkatkan risiko? Basahi abu terlebih dahulu dengan air secukupnya, lalu bersihkan menggunakan alat pelindung diri lengkap. Jangan menyapu abu kering karena partikel akan kembali melayang dan terhirup.

Kapan sebaiknya mencari pertolongan medis? Segera hubungi fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami sesak napas yang memburuk, batuk berat yang tidak membaik, nyeri dada, atau gangguan penglihatan setelah terpapar abu vulkanik.

Siapa yang paling berisiko mengalami komplikasi dari paparan abu vulkanik? Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita asma atau PPOK termasuk kelompok berisiko tinggi. Dinkes DKI mengimbau kelompok ini untuk lebih membatasi aktivitas luar dan segera berkonsultasi medis bila muncul gejala pernapasan.

“Lindungi diri, lindungi keluarga. Tetap waspada dan utamakan kesehatan selama kondisi abu vulkanik berlangsung,” tutup Ani Ruspitawati dalam pernyataan resmi Dinkes DKI tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *