Lintas Kota

Key Strategy: Pemkot Jaksel ajukan Rp16 miliar untuk percepat olah sampah organik

Key Strategy: Pemkot Jaksel Beri Rp16 Miliar Percepat Pengolahan Sampah Organik

Key Strategy – Dalam upaya meningkatkan keberlanjutan lingkungan, Pemerintah Kota Jakarta Selatan (Jaksel) mengajukan anggaran sebesar Rp16 miliar sebagai Key Strategy untuk mempercepat pengolahan sampah organik di wilayahnya. Langkah ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam mengurangi volume sampah yang diangkut ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang. Key Strategy ini mencakup penerapan teknologi biopori besar serta sistem pengolahan sampah modern (Teba) sebagai solusi jangka panjang. Kepala Seksi Peran Serta Masyarakat Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Selatan, Hendrik Mindo Sihombing, menjelaskan bahwa dana tersebut akan digunakan untuk mendukung masyarakat dalam menciptakan lingkungan bersih dan sehat.

“Kalau rumah pekarangannya luas, boleh per satu rumah pakai biopori sendiri. Pakai ember saja wadahnya. Karena kalau kita hitung, sampah sisa makanan itu jadi banyak karena ditabung dari yang kecil-kecil, dan itu yang paling bau,” ujar Hendrik saat dihubungi di Jakarta, Sabtu.

Key Strategy Pemkot Jaksel ini tidak hanya fokus pada teknologi tetapi juga pada partisipasi aktif masyarakat. Biopori jumbo akan didistribusikan per RT dengan kapasitas tabung 30 hingga 80 liter, memungkinkan setiap keluarga mengolah sampah organik secara mandiri. Selain itu, sistem Teba modern akan dibangun di titik strategis, dengan memanfaatkan sumur resapan lama yang tidak lagi digunakan. Dengan Key Strategy ini, Pemkot Jaksel mengharapkan pengurangan sampah organik hingga 50 persen secara bertahap.

Langkah Implementasi untuk Keberhasilan

Sebagai bagian dari Key Strategy, Pemkot Jaksel akan menyediakan pelatihan bagi masyarakat tentang cara membuat dan menggunakan biopori secara efektif. Teknologi ini dirancang untuk mempercepat proses penguraian sampah organik, terutama sisa makanan, yang sering menjadi penyebab bau dan penumpukan limbah. Hendrik menjelaskan bahwa peralatan biopori akan diberikan gratis kepada warga, sehingga memudahkan mereka untuk mengelola sampah di rumah. Dengan Key Strategy ini, keberlanjutan lingkungan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga masyarakat.

Program ini juga mencakup kemitraan dengan pihak swasta dan organisasi lingkungan untuk memastikan penyebaran teknologi Teba modern. Hendrik menekankan bahwa pengolahan sampah berbasis sumber (waste-to-source) menjadi solusi yang lebih efisien karena mengurangi volume sampah yang harus dibawa ke TPST. “Bisa. Yang penting, jangan banjir. Kita tinggikan, selesai. Jadi, air nggak masuk lagi,” tutur Hendrik, menambahkan bahwa sistem Teba akan memperkuat pengelolaan air tanah sekaligus mengurangi risiko penumpukan limbah.

Potensi Dampak Lingkungan dan Ekonomi

Pemkot Jaksel memproyeksikan bahwa Key Strategy ini akan memberikan manfaat signifikan baik secara lingkungan maupun ekonomi. Sampah organik yang diolah di rumah tangga dapat diubah menjadi bahan pupuk kompos, yang nantinya bisa digunakan oleh warga untuk menanam tanaman di lahan hijau. Hendrik menjelaskan bahwa daerah tersebut masih memiliki luas lahan yang memadai untuk memaksimalkan hasil olahan ini. Selain itu, pengurangan volume sampah akan menghemat biaya operasional pengangkutan ke TPST Bantargebang, yang sebelumnya menjadi beban anggaran signifikan.

Sebagai Key Strategy yang komprehensif, program ini juga menargetkan penghentian total pengiriman sampah ke Bantargebang mulai 1 Januari 2027. Selain rumah tangga, tempat usaha seperti hotel, restoran, dan kafe akan diwajibkan mengolah sampah organik secara mandiri. Hendrik menyebutkan bahwa keberhasilan Key Strategy ini bergantung pada keberlanjutan partisipasi masyarakat, serta dukungan dari berbagai pihak dalam memastikan pengelolaan sampah berjalan optimal.

Implementasi Key Strategy Pemkot Jaksel diharapkan menjadi contoh terbaik dalam upaya pengurangan limbah di tingkat kota. Teknologi biopori dan Teba modern dirancang agar mudah diakses oleh masyarakat umum, termasuk para pengusaha kecil dan rumah tangga sederhana. Hendrik menambahkan bahwa strategi ini merupakan bagian dari rencana jangka panjang Pemkot Jaksel untuk mencapai tujuan lingkungan yang lebih baik. Dengan Key Strategy ini, Jakarta Selatan berharap menjadi daerah yang lebih hijau, bersih, dan berkelanjutan.

Leave a Comment