Ratusan Hewan Kurban di Jaktim Terdeteksi Sakit Akibat Kelelahan
Ratusan hewan kurban di Jaktim terdeteksi – Dalam rangka persiapan perayaan Idul Adha tahun ini, Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (Sudin KPKP) Jakarta Timur melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap ratusan hewan kurban. Hasilnya, sekitar 172 ekor hewan ditemukan dalam kondisi tidak sehat, diduga akibat kelelahan selama perjalanan dari daerah asal menuju Jakarta. “Dari total 19.377 ekor hewan yang telah diperiksa sejak 27 April hingga 26 Mei 2026, terdapat 127 sapi dan 45 kambing yang mengalami gangguan kesehatan,” ungkap Kepala Seksi Peternakan dan Kesehatan Hewan Sudin KPKP Jakarta Timur Theresia Elita. Pemeriksaan ini dilakukan untuk memastikan hewan kurban tetap memenuhi standar kelayakan sebelum diproses menjadi daging yang akan dikonsumsi oleh masyarakat.
Proses Pemeriksaan yang Ketat
Pemeriksaan kesehatan hewan kurban di Jakarta Timur dilakukan secara sistematis dan terstruktur, mencakup beberapa tahap seperti pengambilan sampel, pemeriksaan fisik, serta pengecekan kondisi umum hewan. Selain itu, petugas juga mengevaluasi apakah hewan tersebut memiliki gejala seperti dehidrasi, kelelahan ekstrem, atau penyakit yang bisa memengaruhi kualitas daging. Berdasarkan data yang dihimpun, ratusan hewan kurban di Jaktim mengalami penurunan stamina akibat faktor cuaca, pengangkutan yang tidak optimal, dan kurangnya istirahat di tengah perjalanan. “Kita fokus pada hewan yang terlihat lelah dan tidak aktif, karena ini sering menjadi indikator awal gangguan kesehatan,” jelas Theresia.
Penyebab Utama Gangguan Kesehatan Hewan Kurban
Dari penyebab penyakit hewan kurban, Theresia menyebutkan bahwa kelelahan menjadi faktor utama yang paling dominan. Proses distribusi hewan kurban dari daerah penghasil ke Jakarta memakan waktu cukup lama, terutama saat musim kemarau atau cuaca ekstrem. “Kebanyakan hewan yang sakit memang mengalami kelelahan akibat perjalanan jarak jauh dan kurangnya pemberian makanan selama transportasi,” tambahnya. Selain kelelahan, faktor lain seperti kelembapan udara yang rendah, keterbatasan ruang untuk beristirahat, serta perubahan iklim juga berkontribusi pada kondisi kesehatan hewan yang tidak optimal. Pemeriksaan ini diharapkan mampu mengidentifikasi hewan yang kurang layak dan mencegah penyebaran penyakit kepada hewan lainnya.
Dalam upaya menjaga kualitas hewan kurban, petugas Sudin KPKP melakukan pemeriksaan di berbagai titik, termasuk pusat penampungan, pasar tradisional, dan pusat pengumpulan hewan di Jakarta. Hasilnya, ratusan hewan kurban di Jaktim yang terdeteksi sakit dipisahkan dan diberi perawatan khusus, seperti pemberian vitamin, cairan, dan nutrisi tambahan. “Ini bertujuan agar hewan yang tidak sehat tidak langsung dijual ke konsumen, karena mereka bisa menjadi sumber infeksi atau tidak memenuhi syarat untuk dikonsumsi,” terang Theresia. Proses ini juga memastikan bahwa hewan kurban tetap layak digunakan sesuai dengan prinsip syariat Islam.
“Pemerintah daerah melakukan pengawasan ketat agar hewan kurban yang dijual tetap dalam kondisi prima,” tegas Theresia. Langkah ini dilakukan untuk menjamin keamanan dan kualitas daging yang akan dibagikan kepada masyarakat, termasuk dalam menjaga kebersihan lingkungan pasar.
Selama pemeriksaan, ratusan hewan kurban di Jaktim yang tidak sehat langsung ditangani dengan cepat. Setiap hewan yang terindikasi sakit diberi perlakuan intensif, termasuk pengecekan suhu tubuh, observasi perilaku, dan pemeriksaan eksternal untuk mendeteksi tanda-tanda penyakit. “Kita juga memastikan hewan-hewan tersebut tidak mengalami stres berlebihan, karena stres bisa memperburuk kondisi kesehatannya,” tambahnya. Theresia menegaskan bahwa proses ini tidak hanya melibatkan pemeriksaan fisik, tetapi juga memantau kebersihan kandang dan kondisi lingkungan sekitar penampungan.
Menurut data Sudin KPKP, ratusan hewan kurban di Jaktim yang ditemukan sakit pada sebagian besar terjadi pada hewan yang diangkut dalam kondisi yang kurang ideal. Contohnya, beberapa sapi dan kambing yang terdeteksi sakit mengalami penurunan berat badan atau cedera akibat perjalanan yang tidak teratur. “Kita juga menemukan beberapa kasus kelelahan akibat pengangkutan yang terlalu lama tanpa jeda istirahat,” lanjut Theresia. Dengan memperketat proses pemeriksaan, pihaknya berharap kejadian seperti ini tidak terulang di masa depan, terutama saat memasuki waktu penjualan hewan kurban yang semakin mendekati hari raya Idul Adha.
Dalam konteks ini, ratusan hewan kurban di Jaktim menjadi perhatian serius pemerintah setempat. Pemeriksaan kesehatan terus berlangsung hingga mendekati hari H, agar tidak ada hewan yang tidak layak digunakan tetap beredar di pasar. Selain itu, Sudin KPKP juga memberikan edukasi kepada para pedagang dan pengumpul hewan kurban mengenai cara merawat dan memperhatikan kesehatan hewan sebelum dijual. “Ini adalah upaya untuk mengurangi risiko kelelahan dan meningkatkan kualitas hewan kurban yang dijual,” jelas Theresia. Pemerintah juga berharap masyarakat lebih selektif dalam memilih hewan kurban, terutama yang memiliki kesehatan baik.
Pemeriksaan kesehatan hewan kurban di Jaktim telah menunjukkan bahwa kelelahan adalah faktor utama yang memengaruhi kondisi hewan. Sejumlah 172 ekor hewan yang tidak sehat ditemukan selama masa pengawasan tersebut, yang merupakan bagian dari upaya menyediakan daging berkualitas tinggi. Dengan sistem pemeriksaan yang ketat, ratusan hewan kurban di Jaktim diharapkan bisa memenuhi standar kelayakan dan menjaga kepercayaan masyarakat terhadap produk hewan yang dijual. Theresia menambahkan bahwa pihaknya terus berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk peternak dan pengusaha jasa pengangkutan, untuk memperbaiki kondisi distribusi hewan kurban.
