Gibran Tekankan Harmoni Teknologi dan Budaya dalam Meeting Results
Meeting Results – Dalam pertemuan penting yang diadakan di Taman Wisata Seni dan Budaya Randu Mas, Kabupaten Lampung Timur, Rabu (15/7), Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memberikan perhatian khusus pada peran teknologi dalam mendukung pelestarian budaya. Ia menyatakan bahwa Meeting Results ini menjadi kesempatan untuk menjembatani antara kemajuan teknologi dan warisan budaya Indonesia, agar tidak saling bertentangan, tetapi saling melengkapi. Gibran menekankan bahwa transformasi digital harus menjadi alat yang memperkuat, bukan mengikis, nilai-nilai tradisional bangsa.
Mitigasi Dampak Negatif Teknologi pada Budaya Lokal
Gibran mengungkapkan bahwa era digital saat ini menawarkan peluang besar untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia ke tingkat internasional. Namun, ia juga memperingatkan bahwa tanpa pengelolaan yang tepat, teknologi bisa menyebabkan generasi muda kehilangan keterhubungan dengan akar budaya. Dalam Meeting Results, Gibran menggarisbawahi perlunya kesadaran kolektif untuk memastikan bahwa inovasi teknologi tidak merusak keaslian budaya, tetapi justru memperkuatnya.
“Dengan adanya media sosial dan platform digital, kita bisa membangun identitas nasional yang lebih kuat. Teknologi adalah sarana untuk menyebarkan budaya kita, tetapi kita juga harus mengawasi agar tidak membuat generasi muda lupa akan kebiasaan tradisional,” ujar Gibran Rakabuming Raka.
Menurut Gibran, kuncinya terletak pada kolaborasi antara pemerintah, lembaga budaya, dan masyarakat. Ia mengusulkan adanya program kerja yang terstruktur, seperti penggunaan teknologi untuk dokumentasi seni tradisional, pengembangan aplikasi budaya, atau edukasi melalui media digital. “Kita harus memastikan bahwa setiap kemajuan teknologi diiringi kepedulian terhadap budaya. Jika tidak, teknologi akan menjadi ancaman terhadap identitas kita,” tambahnya.
Kesiapan Generasi Muda dalam Menghadapi Era Digital
Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Bela Budaya Nusantara Mulyono menambahkan bahwa diskusi dalam Meeting Results ini mengupas tentang bagaimana generasi muda harus tetap memahami nilai-nilai budaya meski terbiasa dengan teknologi. Ia menyoroti pentingnya pendidikan dan kesadaran masyarakat untuk menjaga keseimbangan antara kehidupan modern dan tradisi.
“Masyarakat harus memahami bahwa teknologi bukanlah musuh, tetapi peluang. Jika budaya tidak dibela, generasi muda akan kehilangan kontak dengan akar sejarah bangsa,” kata Mulyono, yang hadir dalam pertemuan tersebut.
Pada bagian kedua Meeting Results, para peserta juga menyampaikan rekomendasi strategis untuk menyukseskan program kolaboratif antara teknologi dan budaya. Beberapa usulan melibatkan pemanfaatan AI dalam pembelajaran budaya, pengembangan festival seni digital, serta pembuatan konten edukasi yang menarik untuk menarik minat generasi muda. Gibran menyetujui langkah-langkah tersebut dan menegaskan bahwa pemerintah akan terus berupaya mendukung inisiatif-inisiatif yang memperkuat budaya dalam era digital.
Dalam pertemuan tersebut, sejumlah pemangku kepentingan juga mengingatkan bahwa teknologi harus dirancang dengan kearifan lokal. Misalnya, pembuatan aplikasi atau platform digital yang terintegrasi dengan seni tradisional, seperti pertunjukan tari, musik daerah, atau kerajinan tangan. Dengan demikian, teknologi tidak hanya menjadi alat modernisasi, tetapi juga menjadi jembatan antara generasi lama dan generasi baru.
