Tekno

Kursi roda AiMOGA dapat dikendalikan melalui sinyal otak

3

AiMOGA Kembangkan Kursi Roda yang Merespons Perintah dari Otak

Beritaturah.com – AiMOGA Robotics memperkenalkan pengembangan kursi roda berbasis antarmuka otak-komputer yang dapat dijalankan melalui sinyal otak pengguna. Teknologi ini dirancang untuk membantu orang dengan keterbatasan mobilitas berat agar dapat memberi perintah arah tanpa perlu mengandalkan gerakan tangan secara penuh.

Sistem tersebut disebut AiMOGA BCI dan memadukan brain-computer interface atau BCI, kecerdasan buatan, serta kendali gerak robotik. Dalam penggunaannya, perangkat membaca aktivitas listrik di otak, mengenali pola yang terkait dengan pilihan arah, lalu mengubahnya menjadi instruksi untuk kursi roda.

“Tujuan awal kami mengembangkan produk ini adalah untuk memberikan kemudahan dan membuka lebih banyak kemungkinan bagi penyandang paraplegia tingkat tinggi, orang yang mengalami stroke, serta orang dengan gangguan mobilitas lainnya,” kata Head of Brain-Computer Interface AiMOGA Robotics, Xie Yuyang.

Cara kerja melalui perangkat EEG

AiMOGA BCI memakai perangkat electroencephalography atau EEG non-invasif dengan delapan kanal. EEG merupakan teknologi perekaman aktivitas listrik otak dari permukaan kepala, sehingga pengguna tidak memerlukan prosedur penanaman perangkat ke dalam tubuh.

Untuk memberi instruksi, pengguna diminta memusatkan perhatian pada pilihan arah yang muncul di layar. Sistem kemudian mengidentifikasi sinyal otak yang dihasilkan saat pengguna memfokuskan perhatian pada perintah tertentu. Hasil pembacaan itu diterjemahkan menjadi gerakan maju, mundur, belok ke kiri, belok ke kanan, atau berhenti.

Pendekatan ini berbeda dari kursi roda listrik konvensional yang umumnya digerakkan dengan joystick atau sakelar manual. Pada sistem berbasis BCI, kemampuan untuk memahami instruksi dan memusatkan perhatian menjadi bagian penting dalam proses pengendalian. Teknologi tersebut ditujukan bagi orang yang memiliki keterbatasan fungsi tangan maupun anggota tubuh lain, tetapi masih dapat mengikuti instruksi yang diberikan sistem.

AiMOGA menyatakan tingkat pengenalan perintah EEG pada sistemnya melampaui 95 persen. Latensi pengenalan sinyal disebut kurang dari tiga detik. Dalam konteks mobilitas, kecepatan respons dan ketepatan pembacaan sangat penting karena pengguna perlu mengetahui bahwa perintah yang dipilih dapat diterjemahkan secara konsisten menjadi gerakan kendaraan.

Lapisan navigasi dan keselamatan

Selain kendali berbasis sinyal otak, kursi roda AiMOGA BCI dilengkapi sensor LiDAR dan kamera depth untuk penggunaan di luar arena kompetisi. LiDAR membantu sistem memetakan lingkungan di sekeliling kendaraan, sedangkan kamera depth menyediakan informasi mengenai kedalaman dan jarak objek.

Kombinasi kedua sensor tersebut mendukung navigasi dengan peta serta memungkinkan sistem mendeteksi hambatan di sekitar jalur perjalanan. Kemampuan mengenali rintangan menjadi unsur penting ketika kursi roda bergerak di ruang nyata, yang dapat memiliki dinding, furnitur, tikungan, maupun objek lain di lintasan pengguna.

AiMOGA juga menyertakan beberapa metode kendali tambahan. Pengguna atau pendamping dapat memakai layar sentuh, tombol berhenti darurat, dan mekanisme pengambilalihan manual. Kehadiran pilihan-pilihan ini memberi fleksibilitas dalam kondisi yang berbeda sekaligus menambah lapisan keselamatan saat sistem perlu dihentikan atau dikendalikan secara langsung.

Pengembangan kursi roda semacam ini menunjukkan bahwa teknologi aksesibilitas tidak hanya berfokus pada alat bantu fisik, tetapi juga pada cara baru untuk menerjemahkan niat pengguna menjadi tindakan. Bagi orang dengan gangguan mobilitas berat, opsi kendali alternatif dapat membuka kemungkinan interaksi yang lebih luas dengan lingkungan sekitar.

Menang dalam kompetisi BCI di Hangzhou

Kemampuan AiMOGA BCI turut mengantarkan AiMOGA Robotics meraih posisi pertama pada kategori “Mind-Driven Wheelchair Challenge” di Global Brain-Computer Interface × Medical Insurance Innovation Scenario Competition 2026. Ajang tersebut diselenggarakan di Hangzhou, China.

Dalam kompetisi itu, peserta menggunakan alat perekam sinyal EEG untuk mengendalikan kursi roda dengan sinyal otak dan menyelesaikan rute yang telah ditentukan. AiMOGA BCI mencatatkan waktu 2 menit 16 detik, lebih cepat 17 detik dibandingkan peserta yang menempati posisi kedua.

Hasil tersebut memperlihatkan penerapan BCI dalam tugas mobilitas yang membutuhkan pembacaan perintah arah secara berulang. Tantangannya bukan hanya mengenali sinyal otak, melainkan juga menerapkan hasil pengenalan itu pada pergerakan kendaraan yang harus mengikuti lintasan dengan aman dan tepat.

Meski teknologi kendali otak masih memerlukan perhatian pada ketelitian, waktu respons, keselamatan, dan kenyamanan pengguna, pengembangan AiMOGA BCI menghadirkan arah baru bagi perangkat mobilitas asistif. Dengan dukungan kendali fisik alternatif serta sensor untuk mengenali lingkungan, kursi roda ini dirancang untuk memberi pengguna lebih banyak pilihan dalam mengatur perpindahan mereka sehari-hari.

Frequently Asked Questions

What is Kursi roda AiMOGA dapat dikendalikan melalui?

Kursi roda AiMOGA dapat dikendalikan melalui is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Kursi roda AiMOGA dapat dikendalikan melalui matter?

Kursi roda AiMOGA dapat dikendalikan melalui matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *