Mama Sinta Konsultasi Laporan Film Pesta Babi di Polda Metro Jaya
Visit Agenda – Yasinta Moiwend, perwakilan adat wanita dari Papua, melakukan kunjungan ke Polda Metro Jaya pada Jumat (29/5) untuk membahas keluhan terkait kemunculan dirinya dalam film berjudul ‘Pesta Babi’ tanpa izin. Kehadirannya di ruang konsultasi tersebut menandai langkah-langkah resmi untuk menegaskan klaim hak atas citra dan identitas budaya yang dianggap terabaikan oleh produksi film.
Konteks Laporan
Kontroversi film ‘Pesta Babi’ terus memanas setelah ada laporan bahwa tokoh-tokoh adat Papua digunakan dalam cerita tanpa persetujuan mereka. Yasinta, yang dikenal sebagai Mama Sinta, mengatakan bahwa film tersebut mengambil alih narasi budaya khas wilayahnya, sehingga perlu dilakukan klarifikasi dan investigasi. Dalam pertemuan dengan tim investigasi, ia menekankan pentingnya hak setiap individu atas representasi budaya mereka dalam media.
Visit Agenda menurut Yasinta bukan hanya sekadar bentuk pengaduan, tetapi juga upaya memperkuat keberadaan perempuan adat sebagai bagian dari sejarah dan identitas Papua. Ia menyoroti bahwa film tersebut menciptakan kesan stereotip yang mungkin mengubah persepsi masyarakat tentang kebudayaan lokal. “Kami ingin memastikan bahwa narasi yang disampaikan melalui film tersebut akurat dan mencerminkan keadilan bagi budaya kami,” ujarnya.
Langkah Kepolisian
Polda Metro Jaya menyambut baik laporan yang disampaikan oleh Yasinta. Tim khusus dari polisi tersebut berencana melakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap produksi film dan pihak-pihak yang terlibat. Selain itu, mereka juga akan mengevaluasi apakah ada pelanggaran hak cipta atau perbuatan tidak sah dalam penggunaan gambar serta narasi adat Papua. “Kami akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjamin keadilan dalam penggunaan budaya oleh pihak luar,” jelas salah satu perwakilan dari Polda Metro Jaya.
Dalam rangkaian Visit Agenda ini, Yasinta juga menawarkan dokumentasi pendukung yang mencakup rekaman pemutaran film dan testimonial dari masyarakat setempat. Ia berharap pihak kepolisian dapat memberikan saran serta bantuan hukum untuk menyelesaikan masalah tersebut secara adil. “Dengan bantuan dari instansi resmi seperti Polda Metro Jaya, kami yakin proses ini akan lebih transparan dan efektif,” imbuhnya.
(Setyanka Harviana Putri/Ibnu Zaki, Ilham Kausar/Chairul Fajri/Ludmila Yusufin Diah Nastiti)
Pengembangan Informasi
Film ‘Pesta Babi’ yang sedang diproduksi oleh sebuah studio ternama di Jakarta telah menarik perhatian banyak pihak. Dalam rangka mengejar konsistensi cerita, Yasinta Moiwend meminta agar tim produksi melakukan konsultasi lebih dini dengan komunitas adat sebelum memasukkan elemen budaya Papua ke dalam skenario. “Ini adalah cara untuk menjaga keseimbangan antara kreativitas dan keakuratan budaya,” katanya.
Dalam Visit Agenda yang dilakukan di Polda Metro Jaya, Yasinta juga menyampaikan keberatannya terhadap penggunaan istilah ‘pesta babi’ yang dianggap mengandung konotasi kebudayaan yang tidak sepenuhnya sesuai dengan realitas di Papua. Ia menjelaskan bahwa acara ‘pesta babi’ memiliki makna spesifik dalam tradisi adat setempat, dan penggunaannya dalam konteks budaya nasional atau internasional perlu dipertimbangkan secara matang. “Kami ingin memastikan bahwa setiap elemen budaya yang digunakan dalam film benar-benar dihormati dan tidak dipermainkan,” lanjut Yasinta.
