Warta Bumi

BKSDA Jambi rehabilitasi 5 Orangutan Sumatera hasil penyelamatan

khrisna-edit-1788499279-ddd30f86b8

BKSDA Jambi Rehabilitasi 5 Orangutan Sumatera di Stasiun OOS

Beritaturah.com – Langkah konkret kembali dilakukan oleh BKSDA Jambi rehabilitasi 5 Orangutan Sumatera yang baru tiba di Stasiun Open Orangutan Sanctuary (OOS), kawasan Danau Alo, Kecamatan Renah Mendaluh, Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Kelima primata berstatus Critically Endangered ini berasal dari dua provinsi berbeda dan kini memasuki fase adaptasi lanjutan sebelum akhirnya dikembalikan ke habitat alaminya. Proses pelatihan perilaku liar telah dimulai sejak pekan pertama mereka berada di fasilitas tersebut.

Kepala BKSDA Jambi, Himawan Sasongko, mengonfirmasi langsung keberadaan satwa-satwa tersebut pada Jumat di Kota Jambi. Ia menegaskan bahwa seluruh individu dalam kondisi stabil dan sedang menjalani penanganan medis serta perilaku secara intensif.

“Yang diserahkan ini jenis Orangutan Sumatera, sudah satu pekan. Wektu ini ada di stasiun rehabilitasi kita, sedang dilakukan perawatan.”

Jejak Penyelamatan dari Dua Provinsi

Trasah kelima primata ini tidak seragam. Empat individu berasal dari Pusat Karantina Rehabilitasi Orangutan (PKRO) di Sumatera Utara, yang sebelumnya diselamatkan dari wilayah Kabupaten Langkat dan Kabupaten Padang Lawas. Satu individu lainnya merupakan hasil operasi penyelamatan di Kota Dumai, Provinsi Riau. Perpindahan lintas provinsi ini dilakukan dengan pertimbangan teknis: Jambi dinilai memiliki infrastruktur dan program pendidikan lanjutan yang lebih lengkap untuk mempersiapkan satwa sebelum kembali ke hutan.

Keputusan memindahkan primata dari pusat karantina ke stasiun lanjutan bukan langkah administratif semata. Hewan yang pernah hidup dalam cangkang domestik—sebagai hewan peliharaan atau hasil penertiban—sering mengalami erosi kemampuan bertahan hidup. Mereka kehilangan insting mencari makan, membangun sarang, dan menghindari predator. Tanpa intervensi terstruktur, peluang kelangsungan hidup mereka di hutan nyaris nol.

Proses Pelatihan dan Masa Adaptasi

Di OOS, setiap individu akan melewati program yang disebut “sekolah lanjutan.” Kurikulumnya berfokus pada pengasahan kembali perilaku liar: teknik memanjat, pemilihan buah dan daun, pembuatan sarang di kanopi, serta respons terhadap ancaman. Durasi adaptasi tidak seragam. Himawan menjelaskan bahwa rentang waktunya berkisar beberapa bulan, bergantung pada riwayat hidup masing-masing individu dan tingkat ketangkasan yang tersisa.

Orangutan Sumatera merupakan salah satu dari empat spesies di dunia dan termasuk primata terbesar yang hidup di Asia. Spesies ini secara resmi diklasifikasikan sebagai Critically Endangered oleh IUCN Red List, dengan populasi liar yang terus menyusut akibat konversi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit, kebakaran lahan, dan perburuan. Setiap individu yang berhasil dilepasliarkan secara mandiri berkontribusi langsung pada stabilitas genetik populasi yang tersisa.

Rencana Pelepasliaran dan Peran Ekologis

Setelah masa adaptasi dinyatakan selesai dan perilaku liar kembali dominan, program BKSDA Jambi rehabilitasi 5 Orangutan ini akan diakhiri dengan pelepasliaran di zona perbatasan antara Taman Nasional Bukit Tigapuluh dan kawasan hutan produksi, tepatnya di wilayah Kabupaten Tebo atau Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Pemilihan lokasi mempertimbangkan ketersediaan pakan alami, kontinuitas kanopi, serta jarak aman dari permukiman manusia.

Target jangka panjang bukan sekadar menambah angka populasi, melainkan mendorong regenerasi ekosistem hutan secara organik. Primata ini berperan sebagai penyebar benih jarak jauh bagi puluhan spesies pohon. Satu individu dewasa dapat mendistribusikan biji ke area yang sebelumnya tidak terjangkau oleh satwa lain, sehingga mempercepat pemulihan tutupan kanopi dan menjaga siklus nutrisi tanah.

“Kami selalu monitor, kondisinya (orangutan) baik, setelah sifat liarnya kembali alami, akan kita lepasliarkan di Taman Nasional Bukit Tigapuluh.”

Pemantauan pasca-pelepasliaran akan dilakukan secara berkala untuk memastikan tidak ada konflik dengan masyarakat sekitar dan bahwa individu tersebut berhasil beradaptasi tanpa intervensi manusia. Keberhasilan program ini menjadi indikator efektivitas seluruh rantai konservasi—mulai dari penyelamatan di lapangan, karantina, pemulihan, hingga reintroduksi—yang selama ini menjadi tulang punggung upaya penyelamatan primata di Sumatra.

FAQ: Pertanyaan Umum tentang Program Pemulihan

Berapa lama durasi adaptasi sebelum satwa dilepasliarkan? Berdasarkan keterangan Himawan Sasongko, rentang waktunya berkisar beberapa bulan dan bergantung pada riwayat hidup serta tingkat ketangkasan masing-masing individu. Tidak ada batas waktu tetap karena setiap primata memiliki kondisi berbeda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *