Humaniora

BRIN kembangkan inkubator percepat pembenihan ikan nila

BRIN Kembangkan Teknologi Inkubator Telur Ikan Nila Berbahan Lokal

BRIN kembangkan inkubator percepat pembenihan ikan – Jakarta – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah menguji ciptaan teknologi baru berupa alat inkubasi telur ikan nila berbentuk tabung. Teknologi ini menggunakan bahan baku lokal untuk mempercepat proses pembenihan, menurut peneliti dari BRIN, Mohamad Soleh. Dalam keterangan di Jakarta, Rabu, Soleh menjelaskan bahwa alat tersebut memungkinkan telur ikan nila menetas dalam waktu kurang dari tujuh hari, dibandingkan dengan metode alami yang membutuhkan lebih lama. Hal ini bisa mempercepat siklus reproduksi ikan betina, memungkinkan mereka melakukan pemijahan lebih sering.

Perilaku Pemijahan Ikan Nila yang Unik

Ikan nila memiliki cara reproduksi khas. Menurut Soleh, ikan jantan bertugas membangun dan menjaga sarang di dasar kolam, sementara betina melepaskan telur yang kemudian dibuahi. Setelah dibuahi, telur ditahan dan dikerami oleh induk betina dalam mulutnya hingga menetas. Karakteristik ini menjadi dasar untuk pengembangan teknologi penetasan buatan, yang bertujuan meningkatkan efisiensi dalam produksi benih.

Keunggulan Teknologi Inkubator Tabung

Alat inkubator berbentuk tabung ini memiliki beberapa kelebihan. Soleh menegaskan bahwa teknologi ini dapat menampung jumlah telur yang besar, memperoleh daya tetas tinggi, serta menghasilkan larva dengan ukuran yang relatif seragam. Proses pemanenan dan pengoperasionalannya juga dianggap mudah. Kondisi lingkungan penetasan bisa diatur secara optimal, sehingga memastikan kualitas benih yang baik.

“Keberhasilan teknologi ini bergantung pada ketelitian pembenih. Seleksi telur yang sudah berwarna kuning kecoklatan menjadi faktor utama dalam mencapai daya tetas tinggi,” ujar Soleh. Ia menambahkan bahwa keseragaman ukuran larva dan daya tetas yang tinggi menjadi kunci untuk meningkatkan produksi benih secara nasional.

Penggunaan Benih Jantan untuk Tingkatkan Hasil Produksi

Soleh juga menyebut pentingnya penggunaan benih jantan dalam usaha budidaya. Dengan memanfaatkan benih jantan, hasil panen bisa ditingkatkan, serta potensi keuntungan meningkat hingga 20–40 persen. Teknologi untuk menghasilkan benih jantan ini melibatkan perlakuan suhu tinggi secara teratur, mulai dari larva yang baru menetas hingga tahap awal berenang. Selanjutnya, benih dilanjutkan dengan proses pemeliharaan hingga siap dipelihara di kolam.

Kemudahan Budidaya Ikan Nila

Budidaya ikan nila dinilai memungkinkan pengembangan usaha dari skala kecil hingga industri. Potensi lahan budi daya yang luas, teknologi yang sudah matang, dan kemampuan adaptasi terhadap perubahan kualitas air menjadi faktor pendukung. Siklus panen yang singkat, sekitar 4–6 bulan, serta risiko usaha yang rendah hingga sedang menjadikannya pilihan menjanjikan. Soleh menyatakan harga jual ikan nila bisa mencapai Rp30.000 per kilogram, dengan permintaan pasar yang stabil.

Leave a Comment