Solving Problems: BRIN Dorong Periset Keluar dari Jebakan Epistemik Barat
Solving Problems – Dalam perayaan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengusulkan perubahan paradigma ilmiah yang lebih inklusif. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah mendorong periset Indonesia menjadi produsen pengetahuan global, bukan hanya konsumen. Arif Satria, kepala BRIN, menegaskan pentingnya mengembangkan perspektif epistemik lokal untuk mengatasi masalah yang dihadapi bangsa. Ia menyatakan, kebangkitan nasional harus mencakup transformasi cara berpikir ilmiah, agar Indonesia bisa bersaing secara intelektual di dunia internasional.
Epistemik Barat: Paradigma yang Masih Dominan
Arif Satria mengungkapkan, epistemologi Barat masih mendominasi struktur pengetahuan di banyak institusi riset Indonesia. Hal ini membuat masyarakat terjebak dalam kerangka berpikir yang menganggap ilmu pengetahuan sebagai sesuatu netral dan teknis. “Kebangkitan epistemik adalah kebangkitan cara pandang tentang ilmu pengetahuan. Kita harus mencegah jebakan epistemik Barat yang menekankan objektivitas tanpa mempertimbangkan konteks budaya dan nilai-nilai lokal,” kata Arif dalam acara pengukuhan profesor riset. Solving Problems tidak hanya menjadi tujuan, tetapi juga sebagai metode utama untuk menciptakan pengetahuan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
“Kebangkitan epistemik adalah kebangkitan cara pandang tentang ilmu pengetahuan. Selama ini kita terjebak dalam epistemik trap, yaitu jebakan ilmu pengetahuan yang dianggap netral, ilmu pengetahuan itu adalah teknis,” ujar Arif Satria.
Transformasi Ilmu Pengetahuan ke Arah Manusia
Menurut Arif, periset harus menggabungkan kekuatan nalar logika dengan hati dan kebijaksanaan untuk menghasilkan solusi yang lebih holistik. Solving Problems dalam konteks ini bukan hanya tentang mengatasi kesulitan teknis, tetapi juga tentang menyelesaikan tantangan sosial dan ekologis yang kompleks. Ia menekankan bahwa pendekatan teknokratik yang terlalu dominan bisa berujung pada dehumanisasi dan penyederhanaan masalah nyata.
“Kita tidak semata-mata harus terus melakukan pendekatan teknokratik. Solving Problems yang efektif harus mengintegrasikan nilai-nilai manusiawi dalam setiap langkah riset,” tambah Arif.
Menghadapi era kecerdasan buatan (AI) yang semakin berkembang, Arif berharap periset Indonesia bisa menjadi pilar penyelesaian masalah yang lebih adaptif. Ia menegaskan bahwa kebijaksanaan manusia, yang terbangun dari pengalaman lokal, tak bisa digantikan oleh algoritma global. “Dengan menggali sumber daya lokal, kita bisa menghasilkan penelitian yang benar-benar transformatif dan berkelanjutan,” jelasnya.
Peran Periset Lokal dalam Penyelesaian Masalah
Arif Satria menyoroti tantangan yang dihadapi periset ilmu sosial domestik, yang seringkali dianggap kurang relevan oleh peneliti asing. Untuk mengatasi ini, ia mengajak para periset fokus pada pengembangan perspektif yang berakar pada realitas Indonesia. “Indonesia kaya akan budaya dan keanekaragaman hayati. Solving Problems harus berawal dari pemahaman yang mendalam tentang lingkungan sekitar kita,” terangnya.
“Once you stop learning, you start dying,” kata ilmuwan ternama Albert Einstein, yang diutip Arif Satria sebagai pesan kunci. “Jadi, shifting dari konsumen pengetahuan menjadi produsen pengetahuan. Itulah pesan utama yang ingin saya sampaikan,” lanjutnya.
Dalam menyambut Harkitnas, BRIN juga menawarkan program pelatihan dan kolaborasi internasional untuk memperkuat kapasitas peneliti lokal. Arif menilai, penyelesaian masalah yang bermakna akan muncul jika para periset Indonesia bisa lepas dari dominasi epistemologi Barat dan membangun kerangka pemikiran yang lebih komprehensif. “Kita harus menjadi pengendali arah riset masa depan, bukan hanya mengikuti tren global,” imbuhnya. Solving Problems menjadi alat utama dalam mencapai tujuan ini, dengan menggabungkan pendekatan lokal dan global.
Perspektif Epistemik Lokal sebagai Kunci Solusi
Epistemik lokal, menurut Arif, bisa menjadi jawaban untuk mengatasi masalah-masalah yang kompleks di Indonesia. Ia mencontohkan bagaimana budaya dan sejarah bangsa bisa menjadi sumber ide dan metode penelitian yang unik. “Epistemologi Barat sering kali mengabaikan konteks sosial dan budaya, sehingga menghasilkan solusi yang tidak selalu tepat untuk situasi nyata,” jelas Arif. Dengan mengadopsi pendekatan yang lebih manusiawi, para periset diharapkan bisa menciptakan pengetahuan yang lebih berakar pada kebutuhan masyarakat.
“Dalam Solving Problems, kita tidak hanya menyelesaikan masalah teknis, tetapi juga menjawab pertanyaan tentang makna kehidupan dan hubungan antarmanusia,” tambah Arif Satria.
