What Happened During Haul KH. Abd. Wahab Chasbullah: Gibran Bagikan Sepeda ke Santri
What Happened During the Haul KH. Abd. Wahab Chasbullah event, Wapres Gibran Rakabuming Raka menghadirkan momen menarik dengan membagikan dua unit sepeda kepada para santri di Yayasan PP Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang. Tindakan ini menjadi bagian dari rangkaian pengajian umum yang dihadiri oleh berbagai tokoh nasional dan lokal, termasuk Kapolri Listyo Sigit Prabowo, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, serta Bupati Jombang Warsubi. Gibran menekankan pentingnya peran santri dalam mewujudkan keberlanjutan bangsa, dengan menitikberatkan pada nilai-nilai akhlak dan ilmu yang diharapkan bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Background Haul KH. Abd. Wahab Chasbullah dan Makna Santri
Haul KH. Abd. Wahab Chasbullah, yang diadakan setiap tahun, menjadi ajang peringatan keberhasilan kiai besar tersebut dalam mendidik generasi muda. Pada tahun ini, acara mengambil tema “Masa Depan Santri: Harapan Bangsa di Tengah Perubahan Zaman.” Gibran, dalam sambutannya, menyatakan bahwa kegiatan ini tidak hanya sekadar upacara, tetapi juga kesempatan untuk menggali potensi santri sebagai pilar kemajuan bangsa. “What Happened During Haul ini, kami ingin menegaskan bahwa santri bukan hanya pelajar, tetapi juga agen perubahan yang mampu menciptakan kebaikan bagi masyarakat,” ujarnya.
KH. Abd. Wahab Chasbullah, yang dianugerahi gelar pahlawan nasional pada 2014 oleh Presiden Joko Widodo, dikenal sebagai tokoh yang berperan aktif dalam pendidikan Islam dan konservasi nilai-nilai tradisional. Haul yang diadakan pada 10 Mei 2023 ini menandai perayaan ke-55 tahun wafatnya kiai yang dianggap sebagai bagian dari kehidupan beragama dan budaya Jawa Timur. Gibran memilih PP Bahrul Ulum sebagai tempat acara karena keberadaannya sebagai salah satu pesantren terkemuka yang memperkuat identitas keagamaan dan kemasyarakatan.
Pemberian Sepeda: Simbol Peran Santri dalam Masyarakat
Dalam momen puncak acara, Gibran secara langsung menyerahkan sepeda kepada dua santri yang terpilih, Ahmad Alfir Ismail (Magelang) dan Indy Febrianti Valentina (Jombang). Sebelum pemberian, kedua santri diminta menjawab pertanyaan tentang hal-hal yang membuat mereka merasa bangga menjadi santri. “What Happened During pergumulan ini, santri diberikan kesempatan untuk menyampaikan gagasan yang menginspirasi masyarakat,” tutur Gibran. Pemberian sepeda ini dianggap sebagai simbol peningkatan kualitas hidup santri, dengan menggabungkan aksi nyata dan harapan ke depan.
Santri laki-laki, Ahmad Alfir Ismail, menjelaskan kebanggannya berdasarkan tiga prinsip utama: berakhlak, berilmu, dan berkiprah. “Saya bangga karena santri membuat saya termotivasi dan terinspirasi oleh tiga moto yang saya pegang teguh,” katanya. Ia menambahkan bahwa pengalaman belajar di pesantren memberinya wawasan tentang sopan santun dan etika, serta memperkaya pengetahuan dari berbagai bidang. Santri perempuan, Indy Febrianti Valentina, menyatakan bahwa kebanggaan menjadi santri tidak hanya dari menuntut ilmu, tetapi juga dari penerapan nilai-nilai yang diambil untuk memberi manfaat kepada sesama.
Respon Masyarakat dan Tujuan Gibran
Respon dari peserta acara terhadap pemberian sepeda cukup antusias, terutama dari para santri yang merasa terhormat. Gibran juga mengungkapkan harapan bahwa kegiatan ini bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus berkiprah. “What Happened During distribusi sepeda ini, kami ingin menegaskan bahwa santri memiliki potensi besar untuk memimpin perubahan,” ujarnya. Selain itu, Gibran menekankan pentingnya kolaborasi antara pesantren dan pemerintah dalam membangun masyarakat yang lebih maju dan berakhlak.
Para peserta juga memberikan apresiasi terhadap hadirnya tokoh-tokoh seperti Kapolri Listyo Sigit Prabowo dan Gubernur Khofifah Indar Parawansa. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa nilai-nilai pesantren tetap relevan dalam pembangunan nasional. “What Happened During Haul ini, selain memperingati keberhasilan KH. Abd. Wahab Chasbullah, juga menjadi ajang untuk menegaskan peran santri dalam masa kini,” ujar salah satu peserta. Dengan demikian, acara ini tidak hanya menjadi penghormatan terhadap sejarah, tetapi juga upaya menggali potensi masyarakat pedesaan.
