Bisnis

Rupiah sentuh Rp17.503 per dolar AS seiring ketegangan di Selat Hormuz

Rupiah Mencapai Rp17.503 per Dolar AS karena Ketegangan di Selat Hormuz

Rupiah sentuh Rp17 503 per dolar – Rupiah mencapai level Rp17.503 per dolar AS pada Selasa siang, tercatat turun 89 poin atau 0,51 persen dari harga penutupan sebelumnya di Rp17.414. Pelemahan mata uang lokal ini diduga kuat dipengaruhi oleh ketegangan yang kian memanas di Selat Hormuz. Ahli ekonomi mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa konflik di wilayah strategis tersebut menyebabkan ketidakstabilan pasar global, termasuk dampak terhadap Rupiah yang kian terlihat jelas.

Konflik Selat Hormuz Memperparah Ketidakstabilan Ekonomi Global

“Ketegangan di Selat Hormuz masih memanas meskipun Trump mengatakan perang sudah berakhir,” jelas Ibrahim dalam wawancara dari Jakarta, Selasa.

Konflik yang berlangsung di Selat Hormuz, sejak awal tahun 2026, menunjukkan bahwa persaingan antar negara-negara Timur Tengah masih sangat intens. Pemutusan hubungan kerja dan pengaruh global terhadap harga minyak mentah menjadi faktor utama yang memengaruhi dinamika nilai tukar Rupiah. Penyerangan kapal-kapal oleh pihak-pihak tertentu di Selat Hormuz memicu kekhawatiran tentang gangguan pasokan minyak, yang merupakan komoditas kunci dalam ekonomi global. Hal ini menyebabkan penguatan indeks dolar AS, yang berdampak langsung pada Rupiah.

Kondisi Ekonomi Indonesia dan Pertumbuhan Kuartal I-2026

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 mencapai 5,61 persen, meskipun angka tersebut belum cukup untuk mendorong Rupiah menguat. Ibrahim Assuaibi menekankan bahwa faktor-faktor seperti konsumsi masyarakat dan belanja pemerintah menjadi pendorong utama, sementara investasi hanya menyumbang persentase kecil. Meskipun ada peningkatan ekonomi, ketegangan di Selat Hormuz tetap menjadi ancaman bagi stabilitas nilai tukar Rupiah.

Adanya kekhawatiran terhadap pasokan minyak dan kelangsungan perdagangan internasional membuat investor lebih memilih mengalirkan dana ke mata uang yang dianggap lebih aman. Dolar AS, sebagai mata uang utama dunia, terus menguat karena stabilitas politik dan ekonomi di luar kawasan Timur Tengah. Hal ini menjadikan Rupiah terus melemah, dengan level Rp17.503 per dolar AS menjadi indikasi awal dari pelemahan yang semakin dalam.

Kondisi ini juga memengaruhi harga minyak mentah, khususnya Brent crude oil, yang menjadi acuan utama bagi pasar global. Perubahan harga minyak, yang kian menanjak akibat ketegangan di Selat Hormuz, memberi tekanan lebih pada Rupiah. Dengan permintaan minyak yang tinggi, pasokan yang terganggu, dan kekhawatiran keamanan, rupiah dianggap kurang menarik bagi investor, sehingga terus mengalami pelemahan.

Dampak Pemutusan Hubungan Kerja pada Ekonomi Indonesia

Ketegangan di Selat Hormuz tidak hanya berdampak pada pasar keuangan, tetapi juga menyentuh sektor tenaga kerja di Indonesia. Dalam Januari-April 2026, sekitar 40 ribu buruh di sektor padat karya, seperti manufaktur tekstil dan elektronik, terkena pemutusan hubungan kerja. Hal ini meningkatkan tekanan inflasi dan mengurangi daya beli masyarakat, yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi. Ibrahim Assuaibi memprediksi bahwa lonjakan PHK akan terus berlangsung dalam beberapa bulan ke depan, karena ketidakpastian ekonomi dan persaingan global.

Selain itu, kondisi ekonomi Indonesia juga dipengaruhi oleh dominasi sektor informal, yang mencakup 87,74 juta orang. Sejumlah besar pekerja di bidang non-formal ini membuat ekonomi lebih rentan terhadap fluktuasi eksternal. Karena itu, peringkat saham negara yang akan diumumkan oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) menjadi faktor kunci yang menunggu untuk dipantau. Dengan Rupiah yang terus melemah, risiko terhadap investasi di sektor formal juga semakin meningkat.

Menurut Ibrahim, meskipun pertumbuhan ekonomi kuartal pertama mencapai 5,61 persen, hal ini belum cukup untuk melawan tekanan dari ketegangan global. Rupiah diperkirakan akan terus mengalami pelemahan, tetapi tidak akan melebihi Rp17.550 per dolar AS dalam jangka pendek. Dengan situasi yang masih dinamis di Selat Hormuz, ekspektasi terhadap Rupiah juga tetap terbatas, hingga ada peningkatan kepercayaan pasar terhadap stabilitas ekonomi nasional.

Leave a Comment