Kemenkes Ingatkan Standar Keamanan Pengolahan Daging Kurban
Kemenkes ingatkan standar keamanan pengolahan daging kurban – Jakarta – Pada perayaan Idul Adha 2026, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Andi Saguni, menekankan pentingnya masyarakat mematuhi standar keamanan pangan dalam proses pengolahan daging kurban. Peringatan ini mencakup penyimpanan, pemasakan, hingga penyajian, dengan harapan dapat mengurangi risiko kontaminasi bakteri yang berpotensi mengancam kesehatan. Menurut Andi, daging yang telah dimasak dan disajikan di suhu ruangan harus habiskan dalam waktu empat jam untuk memastikan keamanan dalam konsumsi.
Penyimpanan dan Pemasakan yang Tepat
“Daging tersebut harus disimpan di suhu ruangan karena pasti disajikan di suhu ruangan, maka segera dikonsumsi sebelum empat jam,” ujarnya dalam konferensi pers bersama Badan Komunikasi Pemerintah RI, Rabu.
Andi Saguni menjelaskan bahwa daging segar yang diterima masyarakat lebih baik langsung dimasak untuk meminimalkan waktu penyimpanan. Jika daging belum diolah, ia menyarankan untuk menyimpannya di kulkas dengan suhu di bawah 5 derajat Celsius, sehingga dapat bertahan hingga empat hari. Untuk penyimpanan jangka panjang, Andi mengimbau daging disimpan di freezer dengan suhu minus 18 hingga minus 20 derajat Celsius. Daging dalam kondisi ini hanya layak digunakan selama tiga bulan, menurut standar pangan Kemenkes.
Dalam proses pemasakan, Andi mengingatkan agar daging diproses dengan suhu minimal 60 derajat Celsius selama minimal 15 menit untuk mematikan bakteri seperti antraks, salmonella, dan Escherichia coli. “Kemenkes juga mengimbau masyarakat memasak daging hingga matang, termasuk antraks,” tambahnya, menekankan bahwa keamanan pangan harus menjadi prioritas utama, terutama selama puncak pengolahan daging kurban.
Kebiasaan Masyarakat dan Tantangan
Menurut Andi, banyak orang lupa memperhatikan durasi penyimpanan daging di freezer, termasuk yang disimpan lebih dari enam bulan atau setahun. Ia menegaskan bahwa daging dalam kondisi tersebut tidak disarankan dikonsumsi lagi karena berisiko mengandung bakteri yang tidak terdeteksi oleh mata telanjang. Kebiasaan seperti membiarkan daging matang terlalu lama di suhu ruangan atau menyimpannya dalam wadah tidak steril juga sering diabaikan, sehingga memicu penyebaran penyakit.
Andi menyoroti bahwa pengolahan daging kurban sering kali dilakukan di tempat-tempat terbuka atau kurang higienis. “Tantangan utama terletak pada kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga suhu dan kebersihan selama proses pemasakan,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa masyarakat perlu memahami bahwa daging yang tidak diolah dengan benar bisa menjadi sumber infeksi saluran cerna, penyakit menular, atau bahkan alergi.
Untuk mencegah risiko tersebut, Andi merekomendasikan penggunaan alat dan bahan yang bersih, serta pengaturan suhu penyimpanan sesuai standar keamanan pengolahan daging kurban. Selain itu, ia menyarankan agar masyarakat memperhatikan tanggal kedaluwarsa daging sebelum dikonsumsi, terutama untuk daging yang diproses secara besar-besaran selama Idul Adha. “Kemenkes juga mengajak masyarakat untuk bekerja sama dengan petugas kesehatan dan pengelola pasar dalam memastikan daging kurban tetap aman dan sehat,” tegasnya.
Langkah-Langkah Peningkatan Keamanan Daging Kurban
Andi Saguni menegaskan bahwa langkah-langkah pencegahan kontaminasi daging kurban dapat dilakukan dengan beberapa cara. Pertama, masyarakat perlu memastikan bahwa daging yang dibeli memiliki sertifikat keamanan dari penyembelih yang terakreditasi. Kedua, proses pemasakan harus dilakukan secara lengkap, terutama untuk daging yang akan disimpan lebih lama. “Daging yang dipotong harus dimasak hingga matang dan dipisahkan dari sisa-sisa yang bisa menjadi tempat berkembangnya bakteri,” tambahnya.
Menurut Andi, penyimpanan daging matang juga harus diperhatikan. Daging yang sudah masak sebaiknya dibagi dalam porsi kecil sebelum kembali disimpan di kulkas. Hal ini bertujuan untuk menghindari pertumbuhan bakteri yang bisa terjadi jika daging disimpan dalam jumlah besar di suhu ruangan. Selain itu, pengangkutan daging matang harus menggunakan wadah yang bersih dan terhindar dari risiko pencemaran selama distribusi. “Kemenkes juga mengimbau agar masyarakat tidak menyimpan daging matang di luar kulkas selama lebih dari 2 jam,” katanya.
Dalam hal kebersihan, Andi menekankan pentingnya mencuci tangan sebelum dan setelah memasak, serta membersihkan alat dan permukaan yang bersentuhan langsung dengan daging. “Kebiasaan ini bisa mengurangi risiko penyebaran kuman yang memicu penyakit seperti diare dan infeksi saluran pernapasan,” jelasnya. Ia juga meminta masyarakat untuk memperhatikan cara pengemasan daging kurban, agar tidak terjadi kerusakan fisik atau kontaminasi selama penyimpanan.
