Indonesia-Malaysia bahas upaya penguatan ekosistem halal kawasan
Topics Covered – Jakarta, Selasa – Pertemuan penting antara Indonesia dan Malaysia dilakukan untuk membahas strategi dalam memperkuat ekosistem halal di kawasan Asia Tenggara. Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Ahmad Haikal Hasan mengungkapkan bahwa agenda ini bertujuan untuk meningkatkan standar halal secara bersama, menjadikan kedua negara sebagai pusat pengembangan industri halal regional. Pertemuan tersebut merupakan bagian dari upaya global dalam menegakkan kepastian halal di pasar internasional.
Penyelarasan Standar Halal
Pada kesempatan tersebut, Haikal menekankan pentingnya sinkronisasi standar laboratorium halal antara Indonesia dan Malaysia, terutama dalam hal metode pengujian kandungan porcine (protein babi) pada produk pangan. Harmonisasi standar ini dianggap kritis untuk menghindari ketidaksesuaian hasil uji yang bisa memengaruhi kredibilitas produk halal dan memperkuat daya saing dalam ekspor. Dalam Topics Covered, para pihak juga membahas langkah-langkah untuk memastikan proses pengujian halal berjalan efisien dan transparan, sehingga mampu mendukung pertumbuhan industri tersebut.
Kolaborasi dengan Negara Lain
Selain fokus pada penyelarasan standar, Topics Covered juga menyoroti potensi kerja sama dengan negara-negara lain seperti Australia dan Selandia Baru. Haikal menyampaikan bahwa diskusi membuka peluang memperluas jaringan ekosistem halal ke tingkat regional dan global, dengan harapan mendorong pengakuan internasional terhadap standar halal yang ditetapkan. Keikutsertaan negara-negara tersebut diharapkan bisa memperkaya sumber daya, pengelolaan, dan pemasaran produk halal di kawasan Asia Tenggara serta pasar dunia.
Menurut Haikal, ekosistem halal yang kuat memerlukan peran aktif dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, pelaku industri, dan institusi pengawasan. Ia menyebutkan bahwa harmonisasi standar harus dilakukan secara bertahap, dengan menggabungkan keahlian dan pengalaman dari kedua negara. Selain itu, pertemuan ini juga membahas perluasan kerja sama dalam bidang pendidikan, sertifikasi, dan promosi produk halal, sebagai bagian dari Topics Covered yang diusung oleh kedua belah pihak.
Dalam Topics Covered, negara-negara lain seperti Australia dan Selandia Baru dianggap memiliki potensi besar untuk bergabung dalam ekosistem halal kawasan. Hal ini karena kedua negara tersebut telah memiliki sistem jaminan halal yang matang dan diakui internasional. Haikal mengatakan, kerja sama dengan negara-negara tersebut akan memberikan dampak positif bagi ekonomi dan ekspor produk halal, terutama dalam menjangkau pasar Eropa dan Asia Pasifik. “Kita perlu menyatukan langkah untuk meningkatkan kualitas produk halal dan memastikannya sesuai standar global,” tambahnya.
Komitmen untuk memperkuat ekosistem halal juga mencakup upaya mengembangkan infrastruktur pengujian dan pelatihan tenaga ahli. Dalam Topics Covered, Haikal menyebutkan bahwa pemerintah Indonesia dan Malaysia akan berdiskusi mengenai program pelatihan yang bisa dikembangkan secara bersama, baik melalui pusat pelatihan nasional maupun lembaga internasional. Selain itu, isu mengenai keterlibatan pemangku kepentingan lokal dan internasional dalam pengelolaan sertifikasi halal juga menjadi fokus utama dalam agenda ini.
Pertemuan ini menandai langkah awal dalam membangun kemitraan yang lebih kuat antara Indonesia dan Malaysia. Dengan menegakkan Topics Covered yang mencakup penyelarasan standar, kolaborasi dengan negara lain, dan pengembangan sumber daya manusia, kedua negara berharap mampu mempercepat pertumbuhan industri halal. Proyeksi dalam jangka menengah menunjukkan bahwa ekosistem halal Asia Tenggara bisa menjadi salah satu kawasan unggul dalam produksi dan pemasaran produk halal, terutama dengan kepastian standar yang konsisten dan terjangkau.
