DPR Dorong Mitigasi Nasional untuk Antisipasi Masuknya Hantavirus Andes
DPR dorong mitigasi nasional antisipasi masuknya – DPR terus mendorong penerapan mitigasi nasional sebagai langkah antisipatif menghadapi kemungkinan masuknya hantavirus Andes ke Indonesia. Anggota Komisi IX DPR RI, Ravindra Airlangga, mengingatkan pentingnya kewaspadaan meski Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) masih menilai ancaman kesehatan global akibat hantavirus ini sebagai sesuatu yang relatif rendah. “Meski WHO menyebut risikonya rendah dan ini bukan tanda awal pandemi baru, pemerintah tetap harus mempersiapkan langkah-langkah mitigasi secara menyeluruh,” jelas Ravindra dalam pernyataan resmi, Kamis. Ia menekankan bahwa antisipasi terhadap hantavirus Andes harus tetap ditingkatkan karena virus ini memiliki potensi penyebaran yang berbeda dari jenis hantavirus lainnya.
Langkah Mitigasi yang Dianjurkan
“Hantavirus Andes memiliki karakteristik berbeda, karena dapat menyebar dari manusia ke manusia. Walaupun sampai saat ini belum terdeteksi di Indonesia, langkah-langkah pencegahan tetap harus diperkuat,” ujarnya.
Ravindra menyarankan Balai Karantina Kesehatan harus siap mengawasi semua jalur masuk ke wilayah negara, termasuk bandara internasional dan pelabuhan laut. Selain itu, pemerintah juga diminta melakukan pemeriksaan kesehatan secara mendalam terhadap penumpang kapal dan pesawat, terutama mereka yang pernah berada di negara-negara berisiko tinggi, seperti daerah di Amerika Selatan. Hal ini penting karena hantavirus Andes telah tercatat menyebabkan kluster penyebaran di beberapa negara, termasuk Peru dan Chile, yang memperlihatkan kemungkinan penularan antar-manusia.
Dalam kesempatan tersebut, Ravindra menjelaskan bahwa hantavirus Andes adalah satu-satunya jenis yang diketahui menyebar dari manusia ke manusia melalui kontak langsung dan lama. Sementara itu, kasus hantavirus yang ditemukan di Indonesia hingga kini terjadi melalui zoonosis, yaitu dari Tikus Got (Rattus norvegicus) dan Tikus Rumah (Rattus rattus), sehingga tidak menular antar-manusia. Namun, karena sifat penyebarannya yang berbeda, risiko penularan di masa depan perlu dianalisis lebih mendalam. “DPR berharap pemerintah memperkuat sistem pengawasan di fasilitas umum untuk meminimalkan potensi penyebaran,” tambahnya.
Legislator dari Dapil Jawa Barat V itu juga mendorong kerja sama yang lebih erat antara pemerintah pusat dan daerah dalam meningkatkan sanitasi lingkungan, mengendalikan populasi tikus, serta memantau kesehatan di wilayah rawan seperti pelabuhan, gudang logistik, kawasan padat penduduk, dan daerah pasca-banjir. Menurutnya, Indonesia membutuhkan sistem mitigasi nasional yang terpadu, mulai dari pengawasan epidemiologi, kapasitas laboratorium, kesiapan rumah sakit, hingga respons cepat di tingkat daerah. Ravindra menyoroti bahwa mitigasi nasional harus mencakup pendekatan holistik untuk memastikan kekuatan sistem kesehatan negara dalam menghadapi ancaman penyakit menular yang mungkin masuk.
Menyusul penyebaran hantavirus Andes di beberapa negara, DPR juga menekankan perlunya penguatan kemampuan deteksi dini di Indonesia. Ravindra mengungkapkan bahwa pemerintah perlu mengintegrasikan upaya pencegahan penyebaran virus ini ke dalam kebijakan kesehatan nasional, terutama dalam konteks pandemi yang belum berakhir. “Dengan adanya mitigasi yang baik, kita bisa mengurangi dampak serius jika virus ini benar-benar masuk ke Indonesia,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa kesiapan sumber daya manusia dan infrastruktur kesehatan menjadi faktor kritis dalam menghadapi perluasan kluster infeksi.
Di sisi lain, Ravindra mengingatkan bahwa hantavirus Andes memiliki gejala yang mirip dengan penyakit lain seperti flu atau demam, sehingga pemeriksaan klinis yang teliti sangat diperlukan. “Pemerintah harus memastikan bahwa semua fasilitas kesehatan memiliki protokol spesifik untuk menangani kasus ini,” katanya. Dalam konteks ini, DPR berharap dapat bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk menyiapkan skenario respons terhadap kemungkinan wabah hantavirus Andes di Indonesia.
Langkah-langkah mitigasi nasional yang dianjurkan juga mencakup penguatan komunikasi publik untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai risiko hantavirus Andes. Ravindra menekankan bahwa informasi yang jelas dan terstruktur dapat membantu masyarakat mengambil langkah pencegahan sejak dini. “DPR mendukung upaya pemerintah dalam membangun sistem pencegahan yang bertahap, mulai dari peningkatan kualitas air minum hingga sosialisasi cara menghindari kontak dengan tikus,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa perluasan pengetahuan tentang virus ini akan menjadi kunci dalam meminimalkan dampak sosial dan ekonomi jika terjadi penyebaran di dalam negeri.
