Hujan lebat, 538 rumah di Pati tergenang banjir & 1.050 jiwa terdampak
Hujan lebat – Bencana alam akibat hujan lebat kembali mengguncang Kabupaten Pati, Jawa Tengah, pada Senin (25/5). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat melaporkan bahwa hujan deras yang turun sejak Minggu (24/5) malam menyebabkan genangan air menghimpit pemukiman warga, khususnya di Desa Ketitangwetan, Kecamatan Batangan. Fenomena ini mengakibatkan 538 rumah tergenang, dengan tingkat ketinggian air mencapai 10-50 sentimeter di beberapa wilayah. Dampaknya, sebanyak 1.050 penduduk terkena pengaruh banjir, sementara tiga sekolah mengalami kerusakan akibat air masuk ke ruang kelas.
Pemicu Banjir dan Aliran Sungai
Berdasarkan pernyataan Kepala Pelaksana Harian BPBD Pati, Martinus Budi Prasetya, hujan lebat yang intensitasnya tinggi memicu peningkatan debit air dari hulu Sungai Widodaren. Aliran ini melintasi Kecamatan Jaken, Pucakwangi, dan Todanan, kemudian bermuara ke laut melalui Sungai Gedong dan Kaliombo. Menurut Martinus, penghalang seperti sedimen dan sampah di bawah jembatan menjadi faktor penyumbang hambatan aliran air, sehingga memperparah kondisi genangan. “Sungai Widodaren memiliki aliran dangkal karena akumulasi material di dasar sungai, yang mempercepat penumpukan air saat hujan deras,” jelasnya.
Kondisi ini berdampak pada saluran drainase yang tidak mampu menampung volume air berlebih. Banjir terjadi di beberapa titik, termasuk area persawahan dan pekarangan warga. Peningkatan curah hujan yang terus-menerus selama tiga hari membuat air mengalir ke pemukiman, menyebabkan genangan yang merata di sejumlah desa. BPBD juga memperkirakan bahwa banjir ini bukan fenomena isolasi, melainkan bagian dari siklus musim hujan yang terjadi di daerah tersebut.
Dampak dan Tanggap Darurat
Banjir yang melanda Pati menyebabkan gangguan terhadap kehidupan sehari-hari warga. Genangan air membuat sejumlah jalan desa terputus, menghambat akses logistik dan pertolongan darurat. Meski tidak ada warga yang harus mengungsi, BPBD Pati menilai kondisi membutuhkan penanganan lebih lanjut. Pihaknya telah melakukan koordinasi dengan pihak terkait, termasuk dinas kesehatan dan pusat bantuan darurat, untuk memastikan kebutuhan dasar seperti air bersih dan makanan siap saji dapat terpenuhi.
Salah satu warga yang terkena dampak, Mail (36), mengatakan bahwa banjir ini terjadi untuk kedua kalinya dalam seminggu terakhir. “Sebelumnya, hujan tinggi Sabtu (23/5) menyebabkan banjir, tapi hari ini lebih parah karena aliran air menggenangi area yang lebih luas,” tambahnya. Mail juga menyoroti bahwa tingkat genangan tergantung pada intensitas hujan, dengan beberapa wilayah di Desa Ketitangwetan terkena dampak lebih serius karena saluran air tidak terkelola secara optimal.
Besarnya dampak banjir ini mengingatkan akan pentingnya sistem drainase yang efektif. BPBD Pati menyebut bahwa penghimpunan air di sekitar pemukiman warga adalah akibat dari penggunaan lahan yang tidak terencana. Selain itu, cuaca ekstrem seperti hujan lebat menunjukkan bahwa daerah tersebut rentan terhadap bencana alam. Pihak BPBD berharap masyarakat dapat meningkatkan kesadaran akan kesiapan menghadapi cuaca buruk melalui peningkatan sanitasi dan penataan lingkungan di sekitar aliran sungai.
Secara umum, warga Pati menilai banjir ini adalah bagian dari tantangan musim hujan yang rutin terjadi. Meski sebagian besar tidak mengalami kerugian signifikan, BPBD memperkirakan bahwa 150 rumah mengalami genangan dalam, dengan air mencapai tingkat lantai. Tim penanggulangan bencana telah bergerak cepat untuk mengevakuasi warga dan menempatkan alat pembersihan di area tergenang. Pemimpin tim juga mengimbau warga untuk tetap waspada terhadap perubahan cuaca dan memastikan bahwa persediaan air bersih dan makanan tetap terjaga selama masa banjir.
