Menanam hijau, memanen laut
Menanam hijau – Di Surabaya, angin pesisir kini tidak hanya membawa aroma laut dan lumpur tambak, tetapi juga harapan baru tentang bagaimana kota pesisir bisa bertahan di tengah tekanan abrasi, krisis iklim, serta penyusutan ruang hidup nelayan. Wilayah Wonorejo hingga Gunung Anyar menjadi contoh nyata bagaimana ekosistem mangrove diintegrasikan dengan budidaya perikanan, menciptakan solusi berkelanjutan untuk masalah lingkungan dan ekonomi.
Sejumlah tantangan terus menggerogoti kawasan pesisir, termasuk pengikisan garis pantai, penurunan kualitas air, kenaikan suhu kota, dan kerusakan ekosistem. Di sisi lain, masyarakat setempat dituntut menjaga produktivitas pertanian perairan untuk mempertahankan penghidupan. Dalam kondisi ini, konsep silvofishery atau wanamina muncul sebagai strategi yang bisa menyeimbangkan dua kebutuhan tersebut.
Metode ini menggabungkan pertanian perairan dengan penanaman mangrove, yang sebelumnya dianggap sebagai penghalang. Kini, sistem ini dikembangkan serius oleh Pemerintah Kota Surabaya melalui Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) serta Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian. Ide utamanya sederhana, tetapi memberikan dampak signifikan: tambak dan mangrove tidak lagi dipisahkan, melainkan berinteraksi secara alami.
Mangrove ditanam di area budidaya, membentuk ekosistem yang mendukung pertumbuhan ikan, udang, dan kepiting. Selain itu, tumbuhan ini berperan penting dalam menstabilkan kualitas air, menyerap karbon, serta menghalangi intrusi air laut. Penelitian menunjukkan bahwa ekosistem mangrove menciptakan rantai kehidupan yang justru meningkatkan hasil perikanan.
Contoh nyata dari wilayah Wonorejo
Salah satu bukti keberhasilan praktik ini terjadi di Wonorejo pada 2021. Dari tambak berbasis silvofishery seluas satu hektare, area tersebut mampu menghasilkan sekitar 1,25 ton bandeng dan udang vaname. Angka ini membantah anggapan bahwa penanaman mangrove mengurangi produksi budidaya.
“Mangrove bukan sekadar penghalang, tapi bagian dari sistem ekonomi pesisir,” jelas pihak terkait. “Dengan silvofishery, kita bisa menjaga lingkungan tanpa mengorbankan hasil pertanian.”
Selama bertahun-tahun, banyak mangrove di Indonesia ditebang demi memperluas tambak konvensional. Namun, pendekatan baru Surabaya membuktikan bahwa integrasi ekosistem alami justru memperkuat daya dukung pesisir. Dengan menggabungkan keberlanjutan lingkungan dan produksi, kota ini mencoba menemukan jalan tengah yang seimbang.
