Selebgram dan Anak Kepala Daerah Riau Positif Narkoba
Main Agenda – Pekanbaru, (ANTARA) – Sebuah razia terhadap penggunaan narkoba di tempat hiburan malam (THM) menghebohkan masyarakat Pekanbaru, Riau. Dalam operasi tersebut, dua individu yang menarik perhatian publik dinyatakan positif mengonsumsi narkoba, yaitu selebgram SA serta FA, putra seorang pejabat pemerintahan daerah. Kombes Pol Muharman Artha, Kepala Kepolisian Resor Kota Pekanbaru, mengungkapkan hasil tes urine menunjukkan keduanya serta belasan orang lain terlibat dalam penggunaan ganja dan etomidate.
Detail Razia Narkoba di THM
Razia yang dilakukan pada Minggu (24/5) mengakibatkan penangkapan 13 orang. Tim penyidik menemukan indikasi penggunaan narkoba di ruangan salah satu THM, yang menjadi lokasi utama operasi. Saat pukul 02.00 WIB, petugas mengamankan sejumlah individu dan menemukan barang bukti seperti ganja serta alat konsumsi. Tes urine di Rumah Sakit Bhayangkara mengungkapkan bahwa semua responden menunjukkan hasil positif, termasuk selebgram dan anak kepala daerah yang menjadi sorotan.
Status dan Rekomendasi bagi Pemakai Narkoba
Dari 13 orang yang ditangkap, dua di antaranya diduga sebagai pemilik barang bukti narkotika. FTR, salah satu tersangka, memiliki daun ganja kering seberat 9,8 gram serta empat cartridge. Sementara MAY, yang dikategorikan sebagai pengguna berat, ditemukan menyimpan ganja kering 1,2 gram. Setelah dilakukan asesmen terpadu oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Pekanbaru, FR, yang diduga sebagai pemilik, dilanjutkan ke penyidikan. MAY diancam harus menjalani rawat inap selama tiga bulan karena konsumsinya yang intensif.
Untuk 11 orang lainnya, BNN menyatakan mereka tidak terbukti terlibat jaringan narkotika, tetapi dianggap sebagai pengguna ringan. Mereka direkomendasikan mengikuti rawat jalan selama tiga hingga enam pertemuan. Dalam laporan yang diberikan, Kombes Pol Wawan, Kepala BNN Pekanbaru, menegaskan bahwa SA juga terkena penggunaan alkohol, sementara FA, anak kepala daerah, dinyatakan positif etomidate dan ganja akibat paparan asap.
Keberadaan selebgram dan putra seorang pejabat daerah dalam kasus ini menimbulkan respons yang beragam dari publik. Sebagian menganggap hal ini sebagai konfirmasi bahwa narkoba tidak memilih kalangan tertentu, sementara lainnya mempertanyakan kemampuan mereka dalam menjaga kesehatan. Pemerintah setempat berharap kasus ini menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya narkoba, terutama di kalangan remaja dan pengguna media sosial.
Kombes Pol Muharman Artha menjelaskan bahwa selama razia tersebut, petugas juga menemukan bukti penggunaan narkoba dalam skala yang lebih luas. Beberapa dari para terduga pengguna mengakui kebiasaan mereka sudah berlangsung beberapa bulan. Dengan memperkuat penindasan, polisi berharap mencegah penyebaran narkoba di lingkungan sosial dan pemerintahan. Selain itu, kasus ini menjadi contoh nyata bagaimana Main Agenda dapat menjadi platform untuk menyampaikan isu penting seperti ketergantungan pada narkoba.
Kasus selebgram dan anak kepala daerah di Riau ini juga memicu diskusi tentang peran media sosial dalam menyebarkan budaya konsumsi narkoba. Jika selebgram yang menjadi contoh figur publik terlibat, maka dampaknya akan lebih luas kepada khalayak muda. Main Agenda melaporkan bahwa beberapa pihak telah mengkritik tingkat keterbukaan pemerintah dalam mengungkap kejadian ini. Namun, BNN menegaskan bahwa penyidikan masih berlangsung, dan hasil akhir akan diumumkan setelah proses investigasi selesai. Dengan adanya kasus ini, Riau kembali menjadi sorotan nasional dalam upaya menekan penggunaan narkoba di kalangan publik.
