Pelindo: Perdagangan RI Berjalan Dinamis di Kawasan Asia Tenggara Meski Terjadi Ketegangan di Timur Tengah
Pelindo – PT Pelabuhan Indonesia (Persero), atau Pelindo, memaparkan bahwa aktivitas perdagangan Indonesia tetap menunjukkan momentum positif di kawasan Asia Tenggara, terlepas dari dinamika konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah. Dalam wawancara di Jakarta, Sabtu, Direktur Utama Pelindo, Achmad Muchtasyar, menjelaskan bahwa ekspor-impor nasional masih didominasi oleh hubungan dagang dengan Tiongkok dan negara-negara ASEAN, menjadi salah satu faktor utama yang memperkuat daya tahan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global.
Resilience Perdagangan Nasional di Tengah Ketidakpastian
Menurut Muchtasyar, kinerja perdagangan Indonesia pada awal tahun 2026 mencerminkan stabilitas dalam menghadapi berbagai tekanan geopolitik dan perlambatan ekonomi di beberapa negara. “Struktur perdagangan Indonesia yang terus berkembang di kawasan Asia Tenggara, khususnya Tiongkok dan negara-negara ASEAN, menjadi penyangga yang signifikan,” ujarnya dalam keterangan resmi. Peningkatan pergerakan barang melalui pelabuhan, terutama peti kemas, menunjukkan bahwa industri logistik dan ekonomi nasional masih berjalan aktif meski situasi internasional terus berubah.
“Salah satu faktor pendukungnya adalah struktur perdagangan Indonesia yang masih banyak bergerak di kawasan yang memiliki hubungan dagang kuat, stabil, dan saling terintegrasi,” kata Muchtasyar.
Direktur Utama Pelindo menjelaskan bahwa peningkatan throughput peti kemas menandakan kekuatan sektor logistik nasional, yang menjadi indikator utama aktivitas produksi, distribusi, konsumsi, dan investasi. Hingga April 2026, data dari Pelindo menunjukkan bahwa volume peti kemas mencapai 6,42 juta Twenty-foot Equivalent Units (TEUs), naik sekitar 7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu 5,99 juta TEUs.
Kinerja Ekspor dan Impor: Dua Sisi yang Berbeda
Peningkatan tersebut berasal dari kombinasi aktivitas ekspor-impor dan distribusi barang domestik. Dalam sektor internasional, pertumbuhan mencapai sekitar 11 persen, dengan ekspor naik 10 persen dan impor meningkat 12 persen. Sementara itu, arus peti kemas dalam negeri juga mengalami kenaikan sekitar 4 persen, terutama dalam kegiatan bongkar muat yang memperlihatkan dinamika positif di wilayah Jawa dan Bali.
Direktur Utama Pelindo menambahkan bahwa perluasan pasar ekspor dan impor, serta integrasi dengan kawasan Asia Tenggara, membantu menjaga konsistensi perdagangan luar negeri. “Kawasan Tiongkok dan ASEAN menyumbang sekitar 46,2 persen dari total ekspor Indonesia, sementara impor mencapai 56,5 persen dari total volume yang masuk,” bebernya.
Pertumbuhan Komoditas Ekspor dan Impor
Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), sejumlah komoditas ekspor berbasis peti kemas menunjukkan kenaikan signifikan. Komoditas seperti lemak dan minyak hewan/nabati tumbuh 7,95 persen, mesin dan peralatan mekanis meningkat 9,26 persen, mesin dan perlengkapan elektrik naik 4,9 persen, serta berbagai produk kimia mencapai pertumbuhan 12,27 persen. Di sisi impor, peningkatan terjadi pada mesin dan peralatan mekanis sebesar 22,1 persen, mesin elektrik tumbuh 17,91 persen, instrumen optik naik 20,8 persen, dan produk kimia mencapai 36,31 persen.
Pertumbuhan impor ini mencerminkan kebutuhan industri manufaktur dan pertanian terhadap bahan baku serta komponen produksi. Dengan adanya hilirisasi nasional dan investasi yang terus mengalir, kegiatan produksi dan distribusi barang di sejumlah sektor tetap berjalan optimal.
Kinerja Pelabuhan Utama: Tanda Kekuatan Rantai Pasok Nasional
Sejumlah pelabuhan utama yang melayani ekspor-impor nasional menunjukkan kenaikan throughput yang menggembirakan. Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta mencatat pertumbuhan sekitar 8 persen, didorong oleh meningkatnya pengiriman peti kemas ke wilayah Timur Indonesia. Sementara itu, Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya tumbuh 2 persen, berkat perluasan layanan ke Makassar, Kendari, dan Berau.
Pelabuhan Makassar juga mencatat kenaikan sekitar 7 persen, yang didukung oleh pergerakan komoditas pertanian seperti beras, jagung, dan palawija. Hal ini mencerminkan bahwa aktivitas ekonomi tidak hanya terpusat di wilayah barat, tetapi juga berkembang secara merata di kawasan Timur. “Aktivitas bongkar muat di pelabuhan-pelabuhan utama tersebut menunjukkan bahwa rantai pasok dan distribusi perdagangan nasional tetap aktif,” ucap Muchtasyar.
Strategi Logistik untuk Menjaga Pertumbuhan Ekonomi
Direktur Utama Pelindo menekankan bahwa keterlibatan aktif dalam perdagangan internasional dan domestik menjadi kunci untuk menjaga stabilitas ekonomi. Peningkatan volume peti kemas juga mengindikasikan adanya kemajuan dalam pengelolaan logistik, terutama di kawasan industri utama di Indonesia.
Menurut Muchtasyar, hubungan perdagangan yang kuat dengan Tiongkok dan ASEAN memberikan ruang bagi Indonesia untuk mengatasi tekanan dari perubahan dinamika global. “Dengan adanya keterlibatan berkelanjutan dalam ekspor dan impor, kita dapat memastikan bahwa kegiatan ekonomi daerah tetap bergerak dinamis,” tambahnya.
Lebih lanjut, Muchtasyar menjelaskan bahwa peran Pelindo dalam mengelola pelabuhan nasional sangat penting untuk mendukung kebutuhan distribusi barang dan peningkatan ekspor. Pertumbuhan throughput
