Foto

Jalan Santai Kerukunan dan Kebhinekaan Lintas Iman di peringatan 219 tahun Keuskupan Agung Jakarta

Jalan Santai Keutuhan Kerukunan dan Kebhinekaan di Peringatan 219 Tahun Keuskupan Agung Jakarta

Jalan Santai Kerukunan dan Kebhinekaan Lintas – Dalam rangka memperingati 219 tahun berdirinya Keuskupan Agung Jakarta, acara Jalan Santai Kerukunan dan Kebhinekaan Lintas Iman diadakan pada hari Sabtu (9/5/2026) di depan Gereja Katedral, Jakarta. Kegiatan ini menghadirkan partisipasi dari berbagai kelompok agama dan budaya, menegaskan komitmen untuk menjaga keharmonisan di tengah perbedaan. Acara ini bukan hanya sekadar perayaan sejarah, tetapi juga momentum penting untuk membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya kerja sama lintas iman dalam masyarakat modern.

Upaya Menciptakan Ruang Persatuan

Kegiatan Jalan Santai Kerukunan dan Kebhinekaan ini diselenggarakan dengan harapan menciptakan ruang publik yang inklusif dan penuh kehangatan. Peserta yang terdiri dari umat beragama serta masyarakat sipil mengambil bagian dalam perjalanan yang dihiasi dengan seni dan budaya lokal. Sejumlah seniman dari Jatilan Bende Mataram dan Reog Ponorogo hadir sebagai simbol perpaduan kebudayaan dan keagamaan, menunjukkan bagaimana keberagaman bisa menjadi kekuatan bersama. Tema utama “Keutuhan Alam Ciptaan” menggambarkan nilai-nilai harmoni yang ingin ditekankan.

Partisipasi Tokoh dan Masyarakat

Acara ini dihadiri oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar serta Uskup Agung Jakarta Kardinal Ignatius Suharyo, yang menegaskan prioritas pemerintah dan gereja dalam memupuk kebhinekaan. Kehadiran mereka memberikan dampak positif pada partisipan dan masyarakat luas, memperkuat pesan tentang pentingnya toleransi dan kerja sama lintas iman. Selain itu, kegiatan ini juga menarik perhatian masyarakat umum, baik dari kalangan muda maupun tua, yang turut serta dalam menunjukkan dukungan terhadap keutuhan bangsa.

Dalam jalannya, Jalan Santai Kerukunan dan Kebhinekaan diisi dengan berbagai aktivitas seperti permainan tradisional, pertunjukan seni, dan sesi diskusi ringkas. Kombinasi antara kegiatan fisik dan dialog keagamaan membuat acara lebih dinamis dan menyentuh. Pihak penyelenggara juga menyediakan spot foto dan makanan khas, yang menarik pengunjung untuk berpartisipasi secara aktif. Aktivitas ini menjadi bukti bahwa kebhinekaan bisa diwujudkan dalam bentuk yang menyenangkan dan inklusif.

“Kegiatan ini menegaskan bahwa kita bisa hidup berdampingan dalam keberagaman, tanpa menghilangkan nilai-nilai keimanan dan persatuan,” ujar salah satu peserta acara.

Peringatan 219 tahun Keuskupan Agung Jakarta menjadi titik penting untuk mengingat sejarah awal gereja sebagai pusat keagamaan dan kebudayaan. Dengan Jalan Santai Kerukunan dan Kebhinekaan, gereja berusaha menjadi garda depan dalam memperkuat iman, persaudaraan, dan kesadaran akan keberagaman. Kegiatan ini diharapkan menjadi contoh bagi masyarakat lainnya dalam menjaga toleransi dan solidaritas antarumat beragama. Melalui perayaan yang menyenangkan, pesan kebhinekaan makin kuat tersampaikan kepada generasi muda maupun dewasa.

Leave a Comment