Humaniora

Solving Problems: Ilmuwan China kembangkan jagung berprotein tinggi untuk pakan ternak

Ilmuwan China kembangkan jagung berprotein tinggi untuk pakan ternak

Solving Problems – Penelitian terbaru oleh ilmuwan Tiongkok membawa solusi untuk masalah utama dalam industri pertanian, yaitu ketergantungan pada bungkil kedelai impor sebagai bahan pakan ternak. Tim dari Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok (CAS) berhasil mengidentifikasi dua gen penting yang memengaruhi kandungan protein jagung. Temuan ini memberikan peluang besar untuk menghasilkan varietas jagung dengan kadar protein lebih tinggi, yang diharapkan dapat mengurangi kebutuhan impor kedelai dan meningkatkan kualitas pakan untuk ternak. Dengan solusi ini, Tiongkok berupaya memperkuat ketahanan pangan secara lokal.

Mekanisme Genetik Jagung Berprotein Tinggi

Penelitian menunjukkan bahwa jagung liar memiliki kadar protein hingga 30 persen, namun jagung modern yang digunakan secara luas memiliki kandungan protein sekitar 8 persen. Wu Yongrui, Wakil Direktur Pusat Keunggulan Ilmu Tanaman Molekuler (CEMPS), menjelaskan bahwa gen THP9-T yang ditemukan pada 2022 mampu meningkatkan protein pada jagung domestik. Setelah pengembangan lanjutan, gen THP3-T ditemukan sebagai peningkatan signifikan, yang menghasilkan efek sinergis saat dikombinasikan dengan THP9-T.

Hasil uji lapangan menunjukkan bahwa gen THP3-T mampu meningkatkan kadar protein biji jagung dari 10 persen menjadi lebih dari 13 persen tanpa mengurangi hasil panen. Selain itu, gen ini juga meningkatkan kandungan protein pada bagian tanaman lain, seperti daun dan tangkai, sekaligus mengoptimalkan penggunaan pupuk. Dengan mengembangkan jagung berprotein tinggi, Tiongkok memberikan jawaban untuk solusi pemenuhan kebutuhan nutrisi ternak secara lebih efisien.

Potensi Ekonomi dan Lingkungan

Peningkatan kandungan protein jagung sebesar 15 persen melalui teknologi genetik ini memiliki dampak besar bagi industri peternakan. Wu Yongrui menyatakan bahwa jika protein jagung digunakan untuk pakan ternak meningkat empat persen, maka jumlah protein tambahan bisa menggantikan lebih dari 30 juta ton kedelai impor, yang mencapai 30 persen dari total impor saat ini. Dengan demikian, Tiongkok sedang membangun strategi untuk mengurangi biaya dan risiko ketergantungan pada bahan baku asing.

Kebutuhan bungkil kedelai impor di Tiongkok terus meningkat, mencapai lebih dari 100 juta ton pada 2025. Solusi jagung berprotein tinggi diharapkan bisa mengurangi tekanan pada pasokan global dan meningkatkan stabilitas harga. Selain itu, penggunaan jagung lokal juga membantu mengurangi jejak karbon dari transportasi bahan impor, sekaligus mendukung pertanian berkelanjutan.

Hasil penelitian ini telah dipublikasikan secara daring pada Rabu (3/6) di jurnal Nature. Han Bin, direktur CEMPS dan akademisi CAS, menilai penemuan ini berdampak sosial-ekonomi yang signifikan. “Dengan mengembangkan jagung berprotein tinggi, kita menciptakan solusi untuk tantangan pemenuhan nutrisi ternak dan menjaga ketersediaan bahan baku pangan nasional,” kata Han Bin dalam pernyataannya.

Tim peneliti telah menerapkan teknologi pemuliaan berbasis penanda untuk mengoptimalkan lebih dari 80 galur jagung utama di Tiongkok. Dari hasilnya, beberapa varietas seperti Zhengdan958 berhasil ditingkatkan dari 8,5 persen menjadi lebih dari 12 persen. Pengembangan ini menunjukkan langkah konkrit dalam memperbaiki kualitas jagung lokal, yang menjadi pilar utama dalam sistem pangan Tiongkok. Dengan menyelesaikan masalah kandungan protein, Tiongkok mengambil langkah strategis untuk meningkatkan keberlanjutan industri pertanian.

Leave a Comment