Kemenperin: Key Strategy Fesyen dan Kriya sebagai Pilar Pemerataan Ekonomi
Key Strategy – Kemenperin memandang sektor fesyen dan kriya sebagai Key Strategy untuk mendorong pemerataan ekonomi di Indonesia. Dalam upaya meningkatkan daya tahan ekonomi nasional, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menekankan bahwa industri ini memainkan peran krusial dalam membangun kekuatan ekonomi yang lebih merata. Dengan fokus pada pengembangan usaha kecil dan menengah (UKM), Kemenperin berupaya mengakselerasi pertumbuhan sektor ini sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat ekosistem industri nasional.
Ekspansi Industri Fesyen dan Kriya Mendorong Perekonomian
Menurut data yang dirilis dalam laporan triwulan I 2026, nilai produksi bruto (PDB) industri fesyen dan kriya mencapai Rp120,13 triliun, naik 7,89 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini lebih signifikan dibandingkan tahun 2024, yang hanya mencatatkan kenaikan 2,43 persen. Menteri Perindustrian mengapresiasi keberhasilan ini, menyebutnya sebagai bukti bahwa Key Strategy dalam pengembangan sektor kriya dan fesyen mulai menunjukkan dampak nyata.
“Dengan peningkatan kinerja ini, Kemenperin semakin yakin bahwa fesyen dan kriya adalah Key Strategy utama dalam memperkuat kemandirian ekonomi nasional,” ujar Agus Gumiwang Kartasasmita saat memberikan sambutan di Badung, Bali, Jumat.
Menperin menjelaskan bahwa pertumbuhan industri ini tidak hanya berdampak pada sektor ekonomi, tetapi juga menciptakan peluang ekspor yang lebih besar. Ekspor dari industri fesyen dan kriya pada Januari-Februari 2026 mencapai 1,44 miliar dolar AS untuk fesyen, 0,52 miliar dolar AS untuk tekstil, serta 2,43 miliar dolar AS untuk kriya. Angka ini menunjukkan bahwa Key Strategy pemerintah dalam meningkatkan daya saing produk lokal sedang berjalan baik.
UKM Fesyen dan Kriya sebagai Sumber Lapangan Kerja
Kemenperin juga menyoroti peran UKM fesyen dan kriya sebagai sumber utama tenaga kerja. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik 2024, sektor ini menyumbang 1,75 juta unit usaha, dengan total tenaga kerja mencapai 3,69 juta orang. Pertumbuhan ini menjadi bukti bahwa Key Strategy dalam memperkuat ekonomi rakyat melalui usaha kecil terus berlanjut, terutama di daerah-daerah yang masih tertinggal.
“Kehadiran UKM fesyen dan kriya menjadi salah satu Key Strategy dalam mengurangi kesenjangan ekonomi antar daerah,” tambah Menperin saat menjelaskan rencana penguatan kapasitas produsen lokal.
Menurut Menperin, penguatan UKM melalui Key Strategy ini tidak hanya meningkatkan pendapatan masyarakat, tetapi juga mendorong keragaman produk yang bisa menjangkau pasar nasional dan internasional. Dengan memperhatikan keterampilan manusia dan inovasi desain, Kemenperin berupaya memastikan industri fesyen dan kriya tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang secara berkelanjutan.
Penguatan Daya Saing melalui Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya
Kemenperin telah mengambil langkah konkret dengan meresmikan Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK), yang diharapkan menjadi pusat pengembangan pelaku kreatif. Gedung BPIFK ini dirancang sebagai creative hub yang meningkatkan keterampilan teknis dan non-teknis melalui pendekatan dual skill. Menurut Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita, BPIFK akan memperkuat Key Strategy pemerintah dalam menciptakan ekonomi inklusif.
“BPIFK adalah bagian dari Key Strategy untuk meningkatkan daya saing produk nasional dan menumbuhkan ekonomi yang lebih merata,” jelas Reni Yanita.
Pengembangan BPIFK juga diharapkan menjadi penggerak utama dalam memperluas akses pasar bagi UKM. Dengan memperkenalkan teknologi dan metode produksi modern, BPIFK berperan sebagai sarana pelatihan yang mendukung transisi industri dari model tradisional ke yang lebih berbasis inovasi. Ini menjadi langkah penting dalam memastikan Key Strategy fesyen dan kriya berkontribusi pada pemerataan ekonomi di berbagai wilayah.
Transformasi Kriya dalam Masa Depan
Sektor kriya, khususnya, memperlihatkan potensi besar untuk tumbuh secara eksponensial. Kemenperin menargetkan peningkatan produksi dan ekspor kriya seiring kebijakan Key Strategy yang menekankan keterlibatan pemangku kepentingan, termasuk produsen, pelaku usaha, dan komunitas lokal. Untuk mewujudkan hal ini, Kemenperin juga memperkenalkan program pelatihan kejuruan yang memadukan tradisi lokal dengan teknologi modern, sehingga produk kriya bisa bersaing di pasar global.
Dalam kesempatan ini, Menperin menegaskan bahwa Key Strategy fesyen dan kriya harus diselaraskan dengan kebijakan pemerintah dalam menumbuhkan sektor riil. Ia menilai, sektor ini memiliki daya tarik yang tinggi karena mencakup berbagai aktivitas seperti desain, produksi, dan pemasaran, yang bisa dilakukan oleh berbagai kalangan masyarakat, termasuk lapisan muda dan perempuan.
Langkah-Langkah untuk Memperkuat Strategi Fesyen dan Kriya
Kemenperin telah menetapkan beberapa langkah konkret dalam mendorong Key Strategy fesyen dan kriya. Salah satunya adalah penguatan rantai pasok yang lebih efisien, sehingga produsen lokal bisa memperoleh bahan baku secara terjangkau. Selain itu, pemerintah juga berencana memberikan dukungan finansial kepada UKM yang memiliki inovasi desain dan model bisnis yang unik.
“Kemenperin berkomitmen untuk terus memperkuat Key Strategy ini melalui berbagai inisiatif, termasuk pengembangan sumber daya manusia dan kolaborasi dengan pelaku usaha internasional,” kata Menperin dalam kesempatan tersebut.
Dengan kombinasi langkah-langkah tersebut, Kemenperin yakin industri fesyen dan kriya bisa menjadi pilar utama dalam mendorong pemerataan ekonomi. Menurutnya, keberhasilan Key Strategy ini akan terlihat dalam bentuk peningkatan produksi, peningkatan kualitas produk, dan peningkatan pendapatan masyarakat yang terlibat langsung dalam sektor ini. Kemenperin juga menekankan pentingnya keberlanjutan, dengan memastikan lingkungan usaha yang sehat dan transparan bagi semua pelaku industri.
