Bisnis

Latest Program: BPJN Sumbar: DED Jembatan yang putus akibat bencana tuntas Agustus

Latest Program: BPJN Sumbar Targetkan DED Jembatan Rusak Tuntas Agustus

Latest Program – Program rehabilitasi terbaru yang dicanangkan oleh Badan Pengelolaan Jembatan Nasional (BPJN) Sumatera Barat (Sumbar) menargetkan selesainya Dokumen Desain Eksekutif (DED) untuk Jembatan Anduring di Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman, yang rusak akibat bencana hidrometeorologi akhir tahun 2025. “Kita targetkan DED jembatan ini selesai pada awal Agustus,” kata Kepala BPJN Sumbar, Elsa Putra Friandi, di Kota Padang, Sabtu. Menurutnya, sejumlah tahapan evaluasi desain sudah rampung, seperti survei awal, topografi, geoteknik, dan hidrologi, yang menjadi dasar penyusunan DED. Program ini sebagian besar berfokus pada pemulihan infrastruktur yang menjadi kritis akibat bencana alam, serta pembangunan jembatan dengan standar tahan banting.

Progres Penyusunan DED dan Tantangan yang Dihadapi

Penyusunan DED Jembatan Anduring masih mengalami perbaikan teknis, terutama pada aspek hidrologi yang menjadi perhatian utama. “Saat ini kami sedang mendapatkan bantuan teknis dari Balai Teknik Sungai Solo, Jawa Tengah, untuk mengevaluasi dinamika aliran air di sekitar lokasi,” tambah Elsa. Proses ini penting karena kondisi sungai yang berubah drastis setelah bencana memengaruhi fondasi dan struktur jembatan. Pemulihan DED juga memerlukan koordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, serta instansi terkait lainnya untuk memastikan desain yang diusulkan sesuai dengan kebutuhan daerah.

Dalam rangka menyelesaikan DED, BPJN Sumbar menyebutkan bahwa desain jembatan akan mengutamakan kekuatan struktural dan kemampuan tahan terhadap kondisi alam yang rawan. “Kami sudah memastikan rekomendasi teknis dari Balai Teknik Sungai, termasuk perkuatan abutmen dan fondasi,” jelas Elsa. Langkah-langkah ini bertujuan untuk meminimalkan risiko kerusakan berulang akibat perubahan lingkungan hidrologi. Sejauh ini, BPJN juga telah mengumpulkan data dari masyarakat sekitar untuk memahami dampak sosial dari keputusannya jembatan tersebut.

Membangun Jembatan dengan Material Tahan Banting

Pembangunan Jembatan Anduring akan menggunakan rangka baja B70, yang dianggap lebih kuat dan tahan terhadap perubahan iklim serta cuaca ekstrem. Jembatan ini memiliki panjang total 140 meter dan akan menjadi bagian dari jaringan transportasi daerah yang vital. Selain itu, pihak BPJN juga sedang mengevaluasi kemungkinan penggunaan bahan lokal untuk mengurangi biaya produksi dan mempercepat proses konstruksi. “Kami juga sedang mengajukan proposal penggunaan bahan-bahan yang lebih ramah lingkungan,” tambahnya.

Dana untuk proyek ini akan berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), dengan nilai total sekitar Rp45,2 miliar. Anggota DPR RI dari Sumbar, Andre Rosiade, menyebutkan bahwa setelah DED rampung, Kementerian Pekerjaan Umum akan menyiapkan dana tersebut untuk melanjutkan pembangunan jembatan. “Kami akan upayakan agar proyek ini menjadi prioritas di kementerian terkait, sehingga jembatan bisa selesai pada akhir 2026,” tuturnya. Program ini dianggap sebagai bagian dari upaya pemerintah dalam memperkuat tata kota dan mengurangi risiko bencana di wilayah Sumbar.

Kerusakan jembatan Anduring tidak hanya memengaruhi akses transportasi, tetapi juga menyebabkan gangguan pada aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat sekitar. Jembatan tersebut menjadi penghubung utama antara dua desa yang terisolasi setelah badai dan banjir menghancurkan struktur bangunan tersebut. Dengan selesainya DED pada Agustus, BPJN Sumbar optimis bahwa program rehabilitasi ini bisa terlaksana secara tepat waktu, serta menjadi contoh keberhasilan dalam memperbaiki infrastruktur melalui kolaborasi yang efisien. “Ini adalah salah satu proyek prioritas dalam program latest program kami,” imbuh Elsa.

Leave a Comment