Pertamina Terapkan “Dual Growth Strategy” untuk Memastikan Ketahanan Energi Nasional
Latest Program – Jakarta, ANTARA – PT Pertamina Hulu Energi (PHE) berkomitmen menjaga stabilitas pasokan energi nasional dan mendukung transformasi energi Indonesia melalui penerapan strategi Dual Growth Strategy. Strategi ini dirancang untuk menciptakan keseimbangan antara penguatan bisnis inti migas dan pengembangan sektor rendah karbon secara berkelanjutan. “Kami menerapkan pendekatan yang seimbang antara penguatan bisnis utama sektor minyak dan gas serta pengembangan proyek ekonomi hijau,” tutur Direktur Manajemen Risiko PHE, Whisnu Bahriansyah, dalam keterangan resmi yang diterbitkan ANTARA dari Jakarta, Minggu.
Manajemen Risiko Adaptif untuk Keseimbangan Pertumbuhan
Whisnu menjelaskan bahwa Pertamina menggunakan pendekatan manajemen risiko yang terintegrasi dan responsif untuk memastikan setiap langkah perusahaan tetap selaras dengan target ketahanan energi nasional. Dengan metode ini, Pertamina mengharapkan kinerja operasionalnya tidak hanya mendukung kebutuhan energi saat ini tetapi juga menciptakan nilai jangka panjang bagi generasi mendatang. “Kami memastikan bahwa transformasi bisnis kita tetap mempertimbangkan dampak lingkungan dan sosial secara bersamaan,” lanjutnya.
“PHE akan terus berinvestasi dalam pengelolaan operasi dan bisnis hulu migas sesuai prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG),” kata Whisnu.
Produksi Energi dan Kontribusi Sebagai Pemain Utama
Sebagai pemain kunci dalam produksi migas di Indonesia, PHE saat ini berkontribusi hingga 65 persen pada total produksi minyak nasional dan 37 persen pada produksi gas. Selain itu, perusahaan mengoperasikan sekitar 27 persen dari total blok migas yang ada di negeri ini. Dalam tahun 2025, PHE mencatatkan produksi minyak sebesar 556 ribu barel per hari (MBOPD) dan produksi gas mencapai 2,75 miliar standar kaki kubik per hari (BSCFD).
Kinerja ini didukung oleh 887 pengeboran sumur pengembangan, 37.266 kegiatan pelayanan sumur, serta 1.288 operasi workover. Langkah-langkah ini mencerminkan upaya Pertamina untuk meningkatkan efisiensi operasional sekaligus memperkuat daya saing di pasar global. “Kami terus memperbaiki teknologi dan proses produksi untuk mengoptimalkan potensi sumber daya yang ada,” tambah Whisnu.
Program Keberlanjutan dan Pengurangan Emisi
Dalam menghadapi tantangan perubahan iklim, Pertamina menggencarkan inisiatif keberlanjutan melalui berbagai program strategis. Salah satunya adalah menjaga peringkat MSCI ESG “BBB” yang telah diraih sejak lama. Perusahaan juga melakukan lebih dari 808 program Corporate Social Responsibility (CSR) untuk memastikan keberlanjutan ekonomi dan lingkungan. Capaian ini mencerminkan komitmen Pertamina terhadap pengurangan emisi karbon, dengan pencapaian sebesar 1.619.564 ton CO₂e sepanjang tahun.
Di sisi lain, Pertamina sedang mempercepat pengembangan proyek Carbon Capture & Storage (CCS) dan Carbon Capture, Utilization & Storage (CCUS) bekerja sama dengan mitra internasional. Proyek ini bertujuan untuk menyerap dan menyimpan emisi karbon yang dihasilkan selama proses produksi energi. Hingga tahun 2030, total kapasitas penyimpanan karbon yang direncanakan mencapai 7,3 gigaton. “Kami berharap proyek ini menjadi bagian dari solusi nasional dalam menghadapi isu perubahan iklim,” jelas Whisnu.
Kinerja Strategis pada Tahun 2024–2025
Sejumlah pencapaian strategis telah diraih PHE dalam rentang waktu 2024 hingga 2025. Proyek injeksi CO₂ Sukowati berhasil meningkatkan perolehan minyak hingga 19,2 juta barel. Selain itu, penemuan sumber daya 2C di Tedong mencapai 108,05 juta barel setara minyak (BOE). Dalam hal teknologi, PHE berhasil menerapkan metode Multi Stage Fracturing pertama di sumur horizontal Kotabatak, yang mempercepat eksploitasi sumber daya migas.
Beberapa proyek lainnya juga mencatatkan kemajuan signifikan. North Duri A14 kini beroperasi melalui injeksi steamflood pertama untuk Enhanced Oil Recovery (EOR), yang meningkatkan efisiensi produksi minyak. Proyek Greenfield Akasia telah beroperasi dengan produksi awal 3.200 BOPD. Sementara itu, Lapangan Padang Pancuran I diperkirakan memiliki cadangan minyak sebesar 1,1 juta barel. Pertamina juga mengembangkan proyek EOR Chemical di Area Minas, serta meluncurkan Area of Interest Sisi Nubi dengan kapasitas 70 MMSCFD. Revitalisasi brownfield dilakukan melalui pengembangan sumur Step Out Abab sebagai bagian dari inisiatif pengoptimalan sumber daya.
Proyek Strategis Tahun 2026 dan Lebih Lanjut
Memasuki 2026, PHE telah merancang sejumlah proyek yang akan menjadi fokus utamanya. Di antaranya adalah pengembangan Blok Lavender di Laut Natuna Timur, yang diharapkan mendorong peningkatan produksi migas. Proyek Greenfield OO-OX ONWJ juga dijadwalkan sebagai bagian dari perluasan kapasitas energi. Selain itu, eksplorasi Laut Dalam (Deepwater) di Wilayah Kerja Natuna Timur menjadi salah satu prioritas untuk mengeksplorasi sumber daya migas yang lebih besar.
Pertamina juga memperkuat upaya dalam pengembangan lapangan migas non konvensional (MNK) di Wilayah Kerja Rokan. Di bidang inovasi, perusahaan sedang mengintegrasikan teknologi Artificial Intelligence (AI) untuk mempercepat proses pengeboran, meningkatkan manajemen aset, serta mengoptimalkan pengembangan subsurface. “Inovasi ini menjadi kunci untuk meningkatkan produktivitas secara efektif,” kata Whisnu.
Target Penyimpanan Karbon di Asri Basin
Pertamina menyoroti proyek CCS Asri Basin sebagai fokus utama di masa depan. Proyek ini diharapkan menjadi penopang strategis dalam mengurangi emisi karbon secara signifikan. Target penyimpanan karbon yang diperkirakan dari proyek ini mencapai 2,9 gigaton. “Kami ingin mengubah cara kita mengelola energi menjadi lebih ramah lingkungan,” terang Whisnu.
Upaya ini menjadi bagian dari komitmen Pertamina untuk mengurangi dampak lingkungan selama operasionalnya. Dengan penggunaan teknologi seperti CCS dan CCUS, perusahaan memastikan bahwa bisnis migas tidak hanya menghasilkan keuntungan ekonomi tetapi juga menjaga keber
